Lompat ke isi utama
Parkir Malioboro

Relokasi Parkir Malioboro dan Mobilitas Difabel Daksa

Pemindahan Parkir Malioboro ke Jalan Abu Bakar Ali membawa dampak bagi mobilitas difabel daksa. Kebijakan parkir tidak melibatkan difabel daksa dalam perencanaan parkir yang bertingkat-tingkat itu.

Pemerintah Kota Daerah Istimewa Yopgyakata resmi melaksanakan relokasi parkir Malioboro sejak Senin, (4/4). Kawasan parkir yang semula berada di sepanjang trotoar bagian timur Malioboro kini dialihkan ke kawasan parkir Abu Bakar Ali (ABA). Semua pengunjung dan partisipan yang memiliki mobilitas di kawasan Malioboro harus parkir di kawasan terpadu ABA. Peraturan ini berlaku untuk semua, tidak terkecuali bagi kelompok difabel. Mereka dapat memarkirkan kendaraan di ABA lantai 1 dan 2.

Haryadi Suyuti, Walikota Yogyakarta , dalam sambutannya pada kegiatan Safety, See and Feel Disability Minggu (10/4), mengatakan bahwa pemindahan lokasi parkir timur Malioboro ke tempat parkir Abu Bakar Ali (ABA) merupakan wujud komitmen pemerintah kota Yogyakarta sebagai kawasan inklusif. Langkah ini adalah perwujudan mendorong partisipasi, kontribusi masyarakat difabel agar dapat berkunjung ke Malioboro dengan nyaman, tanpa rasa takut.
“Sepanjang 1200 meter kawasan malioboro, akan dibangun spot-spot atau titik peristirahatan. Setiap 300 meter terdapat satu titik peristirahatan, sehingga bagi difabel atau siapa saja dapat menggunakan spot-spot tersebut untuk beristirahat,” ujar Haryadi.

Lagi-lagi Tidak Ada Akses
Sebelum adanya program relokasi dan revitalisasi Malioboro menjadi kawasan pedestrian, masyarakat difabel mengalami kesulitan akses. Begitu pula setelah diadakan relokasi.

“Jika parkirnya di Abu Bakar Ali, dan kita harus naik begitu kok serem, Ya? Jauh sekali untuk jalan kaki menuju pusat perbelanjaan,” ungkap Veronika Anik, seorang difabel daksa
Sementara Johanes Waluya, pengguna kruk mengharap, agar relokasi dan revitalisasi Malioboro dipikirkan tempat parkir khusus bagi difabel di titik-titik tertentu dekat kawasan Malioboro. Ia menggambarkan tempat parkir yang cukup untuk roda tiga dan diberi tanda difabel, agar tidak disabotase orang lain.

“Biarkan difabel mengakses Malioboro dengan lebih rasional dan manusiawi. Difabel tidak bisa seperti orang pada umumnya, lebih khusus bagi difabel seperti saya yang mengandalkan tongkat atau krug untuk bermobilitas,” tegasnya.

Menanggapi hal tersebut, Octo Nur Arafat, Komite Difabel Jogja menyampaikan gambaran relokasi yang ideal. “Idealnya tetap ada area prioritas khusus bagi kelompok tertentu (difabel, lansia, ibu hamil) di kawasan Malioboro. Atau kendaraan antar-jemput gratis (free shuttle) dari ABA menuju Malioboro. Sebuah kendaraan yang dirancang khusus dan ramah bagi difabel,“ tandasnya.

The subscriber's email address.