Lompat ke isi utama
difabel netra sedang berjalan pakai tongkat putih

Orientasi Mobilitas, IT dan Kepedulian Masyarakat untuk Atasi Hambatan Mobilitas Difabel Netra

Solider.or.id, Malang - Tongkat sebagai identitas dan lambang kemandirian difabel netra, membantu bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Sarana bantu lainnya ada guiding block atau jalur pemandu yang penting ketika mengakses trotoar. Serta teknologi informasi sebagai sarana yang tak  kalah penting bagi difabel seperti gadget untuk membantu mobilitas: angkutan transportasi online dan maping lokasi. Hal penting lainnya adalah kepedulian masyarakat ketika difabel netra berada di area rawan kecelakaan dan tempat-tempat yang baru dikunjunginya.

"Kami difabel netra memang dididik untuk mandiri, namun sebagai maklhuk sosial tetap memerlukan bantuan orang lain, " terang Sekretaris Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Malang, Imam disela kesibukannya. Lanjutnya, hal ini berlaku bagi semua orang tak hanya difabel netra.

Dalam orientasi dan mobilitas (OM) atau materi pengenalan pergerakan dan lingkungan bagi difabel netra, kata Imam, tongkat diperlukan untuk pergerakan di luar ruangan, membantu mendeteksi sekitar dan jalan yang akan dilalui. Sedangkan dalam ruangan memerlukan kepekaan agar tak mudah menabrak isi ruangan juga hafal tata letak sehingga mengurangi ketergantungan pada orang lain.

Namun tak semua difabel netra paham OM, kecuali yang pernah mengikuti pelatihan atau sekolah, kata pria yang berprofesi sebagi pemijat ini. Disinilah kepedulian masyarakat sekitar diperlukan.

Imam mencontohkan, sekalipun sudah menggunakan tongkat konsentrasi kadang kala bisa hilang, melamun dan sebagainya, jadi arah berjalan bisa mengarah ke kiri atau ke kanan. Kalau ke kiri biasanya ada parit, kalau ke kanan biasanya kendaraan melintas, katanya. Dalam kondisi seperti ini kepedulian masyarakat diperlukan untuk sekedar mengingat difabel netra untuk ke posisi jalan yang benar.

Lebih lanjut Imam menuturkan pengalamannya, ketika dalam suatu event terdapat 50 difabel netra dengan tiga hingga empat pendamping saja. "Kita tak mungkin menggantungkan diri pada para pendamping dalam situasi ini, langkahnya biasanya saya berperan mengawali mengenal lingkungan atas bantuan pendamping setelah itu menularkannya pada teman-teman.

"Jadi salah satu bentuk kepedulian adalah dengan mengenalkan lingkungan pada difabel netra," tandasnya. Imam menekankan pentingnya orientasi dan mobilitas dan kepedulian masyarakat.

Sementara itu drummer dan pengajar informasi dan teknologi (IT) untuk difabel di Malang, Adi Gunawan lebih melihat pentingnya teknologi informasi bagi difabel netra saat ini seperti komputer berbicara dan telepon pintar.

"Manfaat teknologi informasi bukan hanya untuk mengakses informasi-informasi terbaru naum bisa menunjang mobilitas difabel netra, " kata Adi panggilan akrabnya.

Ia mencontohkan penggunaan smartphone yang dilengkapi talk back agar bisa menggunakan aplikasi aplikasi dalam smartphone seperti google map.

"Saya bisa menggunakan google map untuk membantu saya berjalan dan mengetahui tempat tempat dimana saya berada," tutur pria low vision yang pula melatih rekan-rekan difabel netra untuk belajar komputer di rumahnya.

Lebih dalam Adi memaparkan aspek internal dan eksternal penunjang aksesibilitas dan mobilitas difabel netra. Aspek internal adalah kemampuan orientasi mobilitas termasuk cara menggunakan tongkat, mempelajari ruangan ruangan baru, cara berjalan yang aman, baik untuk diri sendiri dan orang lain, cara menganalisis tempat dari segi suara, rabaan, dan sebagainya. Aspek ini diperlukan difabel netra untuk mengakses semua tempat termasuk tempat baru.

Selanjutnya, aspek eksternal yaitu sarana prasarana dan respon masyarakat. Khususnya di Kota Malang, Adi menilai tempat umum seperti mall, kantor pemerintahan juga transportasi belum aksesibel bagi difabel netra. Untuk respon masyarakat Adi berharap pengetahuan tentang berbagai kebutuhan difabel netra bisa lebih disosialisasikan.

"Kurangnya pengetahuan membuat orang tak mengerti cara berinterkasi dengan difabel netra. Sehingga ketika ada difabel netra di jalan, respon masyarakat cenderung pasif. Dampaknya bagi difabel netra dalam keterasingan ketika diluar.  

Cara termudah merespon adalah dengan suara karena itu yang paling familier dengan tuna netra," pungkasnya.

Sementara itu Sekretaris Daerah Persatuan Tuna netra Indonesia (Pertuni) DPD Sulawesi Selatan, Ahmad Syarif menyoroti kendala yang dihadapi difabel netra serta langkah-langkah yang perlu ditempuh.

"Kendala mobilitas tuanetra ada dua yaitu dari dalam dan dari luar," kata Syarif.

Dari dalam diri, teman-teman biasanya takut untuk keluar rumah takut nabrak dan sebagainya apalagi ke tempat baru. Kalau dari luar atau lingkungan biasanya dari keluarga yang melarang karena kekhawatiran yang berlebihan, sarana prasarana yang tidak aksesibel serta sulit sinyal bagi para pengguna maping online.

"Juga psikologi lingkungan bisa menjadi masalah ketika masyarakat pada tempat yang kita datangi tidak welcome," imbuh Syarif yang sehari-harinya mengajar di SLB A Yayasan Pembinaan Tuna Netra (Yapti) Makassar.

Syarif berharap teman-teman difabel netra tak takut keluar rumah. Menurutnya belajar orientasi mobilitas itu bisa sambil jalan, yang penting berani dulu. Kepada komunitas ia berharap sosialisasi difabel makin digalakkan, utamanya berkaitan dengan difabel netra agar ketika masyarakat bertemu dengan difabel netra di jalan tahu cara berinteraksi dan memberikan pertolongan jika diperlukan.

"Terkait sarana prasarana adalah kewajiban pemerintah untuk melakukan pemenuhan hak aksesibilitas sebagaimana telah diamanatkan Undang-undang Nomer 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas," pungkasnya. (Kertaning Tyas)

The subscriber's email address.