Lompat ke isi utama
Difabel dipisah di ruangan lain.

Musyawarah Perencanaan Pembangunan DIY, Difabel Dipisahkan

Solider.or.id, Yogyakarta- Widi Hartanti, perwakilan dari Himpunan Wanita Difabel Indonesia (HWDI) DIY menyoroti pemisahan ruang antara Forum SKPD dengan perwakilan difabel yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) di ruang rapat A dan B, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta.

“ Memisahkan kami seperti ini, namanya mengeklusifkan kami. Di sini (ruang bawah-red) rasanya tidak enak, lucu. Kami hanya dengar suara tapi tidak tahu pemilik suara. Bagaimana kalau ada difabel tuli yang duduk di sini, yang hanya mengakses informasi secara visual? Sementara di sini informasi berupa suara yang tidak akses buat Tuli. Mohon mendapatkan penjelasan!” pintanya.

Kritikan yang senada juga dilontarkan oleh Made Sudana perwakilan dari Sentra Advoksi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA), Murni dari Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB), serta Perwakilan Persatuan Penyandang Disabilitas (PPDI) Sleman, Punomo.
Mereka sepakat untuk menuntut diberikannya aksesibilitas di setiap layanan publik, seperti gedung perkantoran pemerintah dan swasta, keterjangkauan dan keberfungsian akses layanan transportasi publik, kesempatan pekerjaan.

“Agar Perwakilan DIY di Jakarta memberikan ruang strategis berkesenian bagi difabel di Jakarta. Di bidang pekerjaan, banyak difabel yang berkompeten, dan memiliki ijazah sarjana. Intinya implementasi pasal-pasal Perda Disabilitas yang sudah diturunkan dalam Peraturan Gubernur (Pergub) sangat dinantikan oleh para difabel di DIY,” ujar Murni dari SIGAB.

Menanggapi berbagai kritikan dan masukan perwakilan difabel, pimpinan musyawarah menanggapi positif, dan memberikan kesempatan forum SKPD untuk mengagendakan perubahan perencanaan

The subscriber's email address.