Lompat ke isi utama
difabel tuli sedang mengambil gambar saat produksi film pencari keadilan.

Meneropong Semangat Difabel melalui Film

Solider.or.id, Boyolai- Pagi itu Rabu (20/1/2016) ketika Solider mengunjungi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Inklusi Tersenyum yang berlokasi di Desa Ringinlarik, Kecamatan Musuk, Boyolali masih ramai. Waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB dan kegiatan pembelajaran telah berakhir setengah jam yang lalu, namun para pengajar dan sebagian anak masih tinggal.
Di depan pintu bangunan satu ruang yang bernuansa hijau itu nampak seperangkat kamera video. Nampak dua laki-laki berpakaian hitam tengah melakukan wawancara dengan Titik Isnaini, salah satu pengampu pendidikan inklusi ini. Keduanya, Sitoji dan Bayu Aji Santosa merupakan pekerja seni dari Lingkaride Studio.

Sitoji mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah menggarap serangkaian film mengenai difabel yang tergabung dalam pendidikan inklusi ini. Rencananya ada sekitar delapan cerita yang diangkat, kesemuanya mengisahkan semangat difabel dan para orangtua mereka.
“Saya ingin lebih ke sisi kemanusiaan. Apa yang dilakukan oleh teman-teman (PAUD Inklusi Tersenyum) ini biasa menurut mereka, tapi semangat mereka dalam (mengatasi) hambatan yang ada,” jelas Sitoji.

Mereduksi Stigma
Diakui pria yang telah membuat sejumlah film sejak 2000 silam ini bahwa salah satu tujuan produksi film ini selain menularkan semangat pada khalayak luas, juga untuk menepis stigma.
“Saya melakukan ini juga untuk menepis apapun itu (anggapan masyarakat mengenai difabel), bahwa asumsi mereka tidaklah sepenuhnya benar,” tambahnya.

Menurutnya lebih banyak orang yang mengetahui mengenai kehidupan difabel ini, maka lebih banyak pula orang yang memiliki pemahaman yang benar. Selain itu diakuinya bahwa menularkan semangat mereka ini penting.

Selain itu PAUD Inklusi ini juga menjadi elemen utama dalam mencetak generasi muda yang memiliki kepedulian tinggi terhadap difabel. Hal ini dinyatakan oleh Sitoji di sela-sela aktivitasnya merekam. Dia menilai bahwa ke depannya, sekitar 20 atau 30 tahun lagi, jika ada diantara anak-anak siswa PAUD ini yang memegang peranan di pembuat kebijakan, mereka bisa menjadi agen dalam menumbuhkan kepedulian difabel secara lebih luas.

Belum Percaya Diri

Menjadi sosok yang kesehariannya diangkat menjadi dalam film documenter membuat dua pengajar di PAUD inklusi ini, Umiyati dan Eny Susanti merasa kurang percaya diri. Meski dirasa penting untuk menyebarluaskan informasi mengenai difabel melalui media film, namun masih ada ganjalan yang dirasakannya.

“Kami belum percaya diri, masih banyak yang harus kami pelajari. Tapi film ini memang penting,” jelas Umiyati, difabel daksa yang menjadi salah satu pengajar.

Pendidikan inklusi ini memang masih baru. Baru tahun ini lembaga pendidikan ini memang baru memulai menerima siswa pada tahun ajaran ini. Selain menjadi wahana bermain bagi anak-anak usia pra –TK, lembaga ini juga menyediakan terapi bagi Anak Berkebutuhan Khusus.

The subscriber's email address.