Lompat ke isi utama
Listy dan Lasty, dua kakak adik yang menyandang cerebral palsy

Listy, Optimis dan Berprestasi dengan Cerebral Palsy

Perempuan itu pernah mengalami keterpurukan. Ia bertutur pernah dilingkupi rasa sedih dan tak percaya diri. Tubuhnya yang berbeda dan lingkungan yang mengecilkannya, membuat Listy tak banyak bergaul saat remaja. Listy memilih untuk bangkit dan tumbuh, menjadi perempuan yang terus berkarya.

Listyaningsih, adalah nama lengkap perempuan dengan cerebral palsy itu. Bersama adiknya, Sulastri, yang juga menyandang cerebral palsy, saling memotivasi satu sama lain untuk terus menghasilkan karya. Kedua saudara itu menjadikan hobi mereka sebagai ladang berkreasi dan menghasilkan uang.

Puluhan kristik telah dihasilkannya dan tiga karya kristiknya sudah terjual. “Karya kristik berukuran 90 x 60 cm, dibeli dengan harga 700 ribu rupiah. Ada yang dibeli dengan harga 400 ribu rupiah, dan karya pertamanya dengan ukuran kecil yaitu 40 x 25 cm, dibeli dengan harga 250 ribu rupiah,” ujar Listy yang tinggal di Dusun Ngemplak Kidul, Sirahan, Salam, Kabupaten Magelang.

Wiyati (43), ibu Listy dan Sulastri, bercerita, ia selalu ada untuk membantu aktivitas kedua putrinya. Memang, Listy dan Lastri membutuhkan asistensi untuk mobilitasnya. Otot tangan dan kakinya memang berbeda, perlu bantuan orang lain untuk menggerakkannya. Aktivitas sehari-hari seperti mandi, atau melepas baju dibantu oleh ibunya.

“Kalau saya mau pergi, mereka saya mandikan lebih dahulu. Semua kebutuhannya saya siapkan di kamar mereka, di dekat mereka. Sampai dengan makanan dan minuman saya siapkan di atas meja kecil di kamarnya,” ujar Wiyati.

Keadaan tersebut tak membuat Listy dan adiknya menjadi patah semangat. Di kamar mungil berukuran 2 x 2,5 meter, mereka terus belajar membuat karya dan menyemangati satu sama lain. Di kamar itu, Listy juga suka membaca. Ia kerap menggunakan hasil jualan kristiknya untuk membeli buku bacaan. Buku karangan Habibie Afsyah “Sekarang atau Keburu Mati” adalah satu buku kesukaan Listy. Habibie Afsyah pengusaha yang juga difabel ini menjadi inspirasi Listy dan adiknya.

“Saya juga ingin menikmati udara segar menyentuh kulit saya di sepanjang perjalanan. Sangat ingin kedua orang tua dapat menghabiskan masa tuanya dengan sejahtera dan berkualitas. Tidak capai karena harus bekerja keras. Saya juga ingin berbagi bersama kawan-kawan senasib di luar sana, berbagi motivasi dan pengalaman,” harap perempuan berusia 24 tahun itu.

Tularkan Optimisme

Listy telah tumbuh menjadi gadis dengan pribadi yang berbeda, lebih kuat dari sebelumnya. Listy banyak belajar dari difabel lain yang terus berkarya dan membuktikan kemampuannya. Sri Lestari seorang difabel paraplegia yang pernah mengelilingi Bali dan Aceh dengan motor roda tigan, turut memberinya pencerahan dan inspirasi.

“Mbak Sri Lestari juga yang mengajari saya membuat kristik, dia sangat menginspirasi saya. Dia tidak menyerah, malah berkeliling Aceh dan Bali untuk memotivasi orang lain,”ungkap Listy. Ia juga sering menonton acara televisi yang berkaitan dengan motivasi diri, untuk membuatnya tetap semangat.

Listy menitipkan pesan untuk difabel di mana saja. “Mari kita mengubah pikiran, menembus batas, meraih prestasi tertinggi dan mengoptimalkan kesempatan. Apapun keadaannya kita, kita harus tetap optimis. Dan menularkan optimis itu pada orang-orang terdekat kita,” pesannya.

The subscriber's email address.