Lompat ke isi utama

Kata Gaari, Bahagia itu Sederhana

Gaari semakin percaya diri dan bangga saat orang di sekililingnya bertepuk tangan, menghargai penampilannya. Gaari, seorang penggebuk drum asal Kulon Progo mengatakannya kepada solider Kamis (21/1) lalu.

Gaari, yang juga seorang difabel netra ini mengaku becita-cita menjadi penggebuk drum handal. Bocah elas tiga Sekolah Luar Biasa (SLB) PGRI) Nanggulan Kulon Progo ini cukup berpengalaman pentas di beberapa event.

“Bukan ingin terkenal, tapi aku ingin mengembangkan bakatku,” ujarnya lugas.
Gaari Wahyu Ramdani, sudah cukup sering pentas antar SLB di Kulon Progo, pentas pada pengajian di kampungnya, juga pentas di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), serta Yayasan Kesejahteraan Kristen Untuk Masyarakat (YAKKUM).
“Saya siap diajak berkolaborasi dengan siapa saja, tapi harus bertemu dulu untuk mencocokan suara,” ujar Gaari polos namun penuh semangat.

Mewarisi Darah Seni

Puji Triwahyuni, ibu Yuni, bercerita, selain hobi menggebuk drum, Gaari juga hobi bernyanyi dan ndalang atau memainkan wayang. Bakat seni bernyanyi tersebut diwarisinya dari keluarga. Ayahnya senang musik dan pemain musik. Gaari belajar dengan ayahnya di rumah. Kakek dan neneknya juga berkecimpung dalam dunia karawitan (seni suara daerah baik vokal atau instrumental) dan macapat (tembang atau puisi tradisional Jawa).

“Tentang hobinya mendalang, disebabkan ayah dan kakeknya senang wayang. Mereka sering mendengarkan wayang melalui siaran radio. Dari situ Gaari ikut mendengarkan dan akhirnya menyukainya,” imbuh Yuni.

Yuni juga menceritakan bagaimana dia dan suaminya, Rochmat Fitrianto, pada awalnya mengetahui bahwa anaknya senang nge-drum. Ketika itu saat usia Gaari Taman Kanak-kanak (TK) yang memiliki satu set drum. Gaari senang memukul-mukulnya, dan setiap saat Gaari memukul-mukulnya. Kemudian dibelikan sendiri untuk latihan di rumah, ketika itu usianya enam tahun. Sejak itu Gaari intensif latihan drum didampingi dan dilatih oleh ayahnya jika di rumah, dan jika di sekolah dilatih oleh gurunya yaitu Pak Agus dan Pak Yono.

“Kami bangga dan bahagia karena kesempatan baik datang pada kami, sehingga bakat Gaari dapat dikembangkan. Hingga Gaari akhirnya sering mendapat kesempatan pentas di berbagai acara,"tambah Ibu Gaari.

Hydrocephalus Menjadi Penyebab Kebutaannya
Gaari Wahyu Ramdani, lahir pada 8 Oktober 2006. Kelainan pada kepalanya atau Hydrosephalus (akumulasi abnormal cairan cerebrospinal di dalam otak) menyertainya. Sehingga sejak dilahirkan, pertumbuhan dan kesehatan Gaari dalam pengawasan dan pemantauan dokter anak dan dokter bedah syaraf.

Menurut ibunya, pada awalnya tidak ada masalah dengan penglihatan Gaari. Dia hanya harus kontrol secara rutin untuk mengeluarkan cairan di kepalanya yang belebihan. Pada usianya enam bulan, kepala Gaari harus mulai dipasang selang untuk mengontrol cairan dan membuang cairan di kepalanya secara otomatis. Kami harus kontrol tiap bulan, itu kami lakukan selama dua tahun di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

“Pada bulan April 2010 atau diusianya 3,5 tahun Gaari mulai kehilangan penglihatan (buta). Menurut dokter, penyebab kebutaannya adalah penyumbatan pada PV Shunt (selang utk mengeluarkan cairan otak). Penyumbatan tersebut menyebabkan kerusakan saraf matanya,” ungkap ibunya.

“Saya sangat terpukul menerima diagnosis dokter waktu itu. Saya sangat menyesal, dan merasa menjadi orang yang paling bersalah atas kondisi tersebut. Saya sempat tinggalkan Gaari untuk bekerja di Bekasi, itulah yang membuat saya menyesal,” ungkapnya.

Keputusan keluar dari pekerjaan menjadi pilihan Yuni. Seiring berjalannya waktu Yuni dan keluargaya memutuskan tidak berlarut pada penyesalan, melainkan menerima kenyataan dan mulai mencari jalan keluar. “Saya pasrah, ikhlas, dan justru bersyukur. Semua sudah menjadi garis takdir Tuhan. Saya percaya semua yang terjadi pasti ada hikmah bagi kami,” tutur ibu yang saat ini bekerja di kantor Komite Disabilitas DIY itu.

“Saya akan melakukan semaksimal mungkin untuk memberikan dukungan pada Gaari sehingga dia dapat mandiri dan percaya diri, itu penting untuk bekal hidupnya,” pungkas Yuni, yang beralamat di Pronosutan, RT 058/19, Kembang, Kecamatan Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo.

The subscriber's email address.