Lompat ke isi utama

Hapus Label "Cacat" pada Anak Difabel

Solider.or.id, Surakarta- Pola pikir bahwa anak-anak sakit, menderita cacat mestinya dihilangkan dan diubah. Selama ini sudah terlalu banyak orangtua yang membebabi anaknya dengan stifma “cacat”. Hal ini akan berakibat pada perkembangan anak. Stigma akan menyugesti untuk bersikap seperti yang disampaikan oleh orangtua mereka. Sebaiknya anak dibebaskan tumbuh dan berkembang seperti yang diinginkan mereka. Proses isolasi orangtua akan membatas ruang gerak anak. Hal tersebut disampaikan oleh Suprapto Suryodarmo, budayawan Solo saat hadir dalam acara Harmony in Diversity di Balai Soedjatmoko, Minggu (12/6). Suprapto Suryodarmo juga mengusulkan bagaimana jika istilah cacat dalam kepanjangan Yayasan Pembinaan Anak-Anak Cacat (YPAC) diubah, sehingga pola pikir pun juga akan berubah. “Diperlukan ritual kesenian yang bisa dikembangkan untuk anak-anak yang berkursi roda,” tutur Suprapto Suryodarmo dalam acara yang dipandu oleh Mujadi Tani dari Loveland Indonesia dan Eka Rahmawan. Namun, salah seorang pengurus YPAC Prof. Dr. Soeharso Surakarta menyampaikan bahwa istilah YPAC sudah ada sejak didirikan oleh Prof. Dr Soeharso. Berbagai rehabilitasi dalam bentuk layanan terapi yang ada di YPAC menjadi alasan sulitnya perubahan nama. Suprapto Suryodarmo, dalam perjalanan hidupnya, sekitar 20 tahun lalu pernah bertemu dengan seniman dari Swiss yang memiliki konsentrasi untuk terapi anak-anak berkebutuhan khusus. Ia juga pernah melakukan terapi dengan tanah liat dan melakukan repetisi-repetisi untuk autism. Saat ini Suprapto Suryodarmo bersama seniman dari Inggris dan Kanada sedang bergiat untuk anak difabel.

The subscriber's email address.