Lompat ke isi utama
foto Mas'ud dan seorang anak kecil

Mas’ud dan Kudifa yang Dipimpinnya

Solider.or.id, Surakarta- Namanya singkat, Mas’ud. Laki-laki difabel pegiat sekaligus ketua Kelompok Usaha Difabel (Kudifa) Kabupaten Grobogan ini ditemui oleh Solider belum lama ini di sebuah pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) di Solo yang melibatkan Organisasi Penyandang Disabilitas (OPDis). Mas’ud adalah lulusan SMP, sehari-hari membuka jasa reparasi barang-barang elektronik di rumah, setelah bertahun silam dia mengikuti pelatihan eletronika yang diselenggarakan oleh sebuah instansi.

Tahun 2010 setelah mendapatkan pelatihan tentang keorganisasian, kepemimpinan dan pengarusutamaan difabel Mas’ud bertekad sepenuhnya mengabdi dan mengembangkan organisasi difabel yang dipimpinnya, Kelompok Usaha Difabel (Kudifa). “Saya memiliki komunitas, dan saya ingin melakukan sesuatu, bisa dikatakan sebagai kampanye atau sosialisasi. Maka pada  akhir tahun 2010 saya tidak menghubungi keluarga hanya izin kepada istri, saya memiliki keinginan pribadi melakukan suatu perjalanan, jalan kaki dari Grobogan ke Jakarta sejauh sekira 500km,” ujar Mas’ud.

Sempat menjadi bintang tamu di acara Kick Andy Show, Mas’ud dan tentu komunitasnya mendapat atensi dan apresiasi yang besar dari penonton, terbukti sebuah badan amal memberi bantuan untuk komunitas yang diwujudkan dengan pembangunan kantor Kudifa. Lalu beberapa lembaga dan institusi seperti Bank BRI dan Allianz mengajak bekerja sama dalam bentuk bantuan sosial untuk pemberdayaan dan pelatihan Training of Trainer (ToT). “Yang utama sebenarnya adalah sosialiasi, kampanye jika banyak kaum difabel masih terpinggirkan, terdiskriminasi. Saya ingin mengajak mereka untuk keluar rumah, berkegiatan bersama dan menunjukkan kepada masyarakat bahwa kita bisa. Lalu bilang kepada pemerintah, dan juga masyarakat bahwa kami pun memiliki hak yang sama sebagai warga negara,” jelas Mas’ud yang pernah melawat ke negeri Sakura, Jepang dan menjadi tamu dalam sebuah konvensi internasional tentang difabel.

Fokus ke Kebutuhan Anak-Anak Difabel dan Rencana Pembentukan Kelompok Desa

Saat ini Mas’ud sedang berusaha mencarikan kursi roda untuk anak-anak difabel. Dari Rumah Sakit YAKKUM Grobogan sudah ada tanggapan baik. Bahkan pihak mereka menjanjikan akan ada pelatihan untuk orangtua. “Kami ingin para orangtua tersebut bisa menerapi anaknya di rumah untuk kemandirian juga.” Kursi roda juga didapatkan dari Organisasi Harapan Nusantara (Ohana) Yogyakarta sebanyak 20 unit. Kemudian bantuan kursi roda juga datang dari Anne Avantie, perempuan pengusaha dari Semarang.

Disingggung tentang pengembangan organisasinya, Mas’ud mengatakan bahwa Kudifa yang saat ini memiliki aset 500 juta baru saja mengembangkan usaha pemberdayaan dengan membuka toko dan jasa fotocopy. “Kami ingin membentuk komunitas di desa, meski saat ini satu desa hanya ada satu atau dua difabel yang aktif, tetapi kami punya tekad kuat. Salah satunya dengan sudah terbentuknya kelompok di Kecamatan Godong. Kesulitan transportasi dan letak geografis yang berbeda serta bahwa mereka (difabel) harus bekerja kok malah diajak berorganisasi, menjadi tantangan kami,” kata Mas’ud.

Awal Agustus ini Kudifa mendapat pelatihan pengorganisasian dan manajemen dari PPRBM Solo yang diharapkan kedepan bisa menjadi bekal dalam membentuk kelompok difabel di tiap desa.

 

The subscriber's email address.