Lompat ke isi utama
Difabelitik

Hore-Hore Mencari Ruang Publik Inklusif

Minggu pagi itu di akhir Februari 2020, Desa Tepisari yang terletak di Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo 20 km dari pusat Kota Solo menjadi tujuan dari sekelompok kawan difabel yang tergabung dalam Komunitas Hore-Hore.

Audiensi Komunitas Difabel dan Pansus Raperda Difabel : Masukkan Difabel di Pansus (2) Sen, 09/03/2020 - 11:28

Ada partisipasi yang diharapkan memuat keterlibatan dan partisipasi aktif difabel dalam raperda difabel yang saat ini telah disusun berdasarkan inisiasi DPRD Surakarta.

Berita
Difabelitik

6th Urban Social Forum dan Upaya-Upaya Gerakan Inklusivitas

Urban Social Forum adalah acara tahunan yang memberi ruang inklusif, terbuka dan demokratis bagi aktivis sosial, organisasi kemasyarakatan sipil, mahasiswa, dan pegiat isu perkotaan dari seluruh Indonesia Solider.id, Surakarta - Urban Social Forum adalah acara tahunan yang memberi ruang inklusif, terbuka dan demokratis bagi aktivis sosial, organisasi kemasyarakatan sipil, mahasiswa, dan pegiat isu perkotaan dari seluruh Indonesia untuk berkumpul, berdiskusi dan berjejaring. Pertukaran pendapat di forum akan menggagas ulang dan menciptakan visi tentang kota-kota di Indonesia yang inklusif, manusiawi dan berkeadilan sosial. The 6th Urban Social Forum (USF) dilaksanakan pada 15-16 di Lokananta dan Rumah Banjarsari Surakarta. Sebagai penyelenggara adalah organisasi Kota Kita yang selama ini membantu fasilitasi partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan kota. “Sebagai penggagas, kami berkolaborasi untuk solusi bagi permasalahan di perkotaan dan sejak tahun pertama penyelenggaraannya selalu didukung oleh kesukarelaan individu dan organisasi masyarakat sipil di seluruh Indonesia,”ujar Paulista Surjadi dari Kota Kita.
Hari pertama bertempat di Lokananta Panel 03 berjudul “Mengakhiri Kemiskinan Melalui Pembangunan Inklusif Disabilitas” menghadirkan Tio Tegar Wicaksono mahasiswa UGM, Dididk Yudianto dari OHANA, Aprilian Bima (Gerkatin), Marthella Rivera tenaga ahli spesialis disabilitas Bappenas, dipandu oleh Abi Marutama aktivis sosial. Tio Tegar WIcaksono memaparkan tentang pembangunan kota ramah difabel adalah pembangunan untuk semua orang. Menurutnya, pembangunan yang inklusif dibutuhkan oleh semua orang, bukan hanya difabel saja. Tio mengemukakan hasil penelitian dari Slamet Thohari yang dilakukan di kota Malang, yang ditetapkan sebagai kota dengan pendidikan inklusif dan ramah difabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh tempat ibadah di kota Malang tidak menerapkan perundang-undangan yang berlaku mengenai bangunan yang aksesibel, 75% tidak aksesibel dan 25% kurang aksesibel. Demikian pula 54% fasilitas instansi non pemerintah kurang aksesibel 46% tidak aksesibel. 96% instansi pemerintah tidak aksesibel, sisanya kurang aksesibel. 84% institusi pendidikan tidak aksesibel dan 16% kurang aksesibel. Semua itu berimplikasi difabel sulit dijumpai di ruang-ruang publik, hanya 22% masyarakat menjumpai difabel di ruang publik, hanya 3% yang menyatakan sering sekali. Tak hanya di Malang, penelitian yang pernah dilakukan di Yogyakarta pun mengonfirmasi bahwa masyarakat masih memandang difabel dengan perspektif tradisional dan medis.
Tio menambhakan bahwa masyarakat masih memandang rendah kepada difabel sehingga keluarga difabel enggan untuk menyekolahkan anaknya. Efek dari tidak adanya keterlibatan difabel dalam pembangunan adalah eksklusi sosial. Adapun empat komponen eksklusi sosial menurut Person adalah kemiskinan, pengangguran, tidak adanya jejaring sosial dan pengaruh tempat tinggal dan lingkungan sosial serta terkecuali dari layanan umum. Selain itu, Tio juga memaparkan indikator kota inklusi yakni partisipasi atau keterlibatan difabel dalam perencanaan kebijakan mulai tingkat mikro seperti kelurahan atau desa sampai kota, ketersediaan layanan hak bahwa kota harus menyediakan layanan, program-program dan fasilitas publik yang dapat diakses difabel, pemenuhan aksesibilitas yakni difabel harus mendapatkan kemudahan dalam mengakses program-program, layanan, fasilitas publik yang ada di kota serta sikap inklusif warga kota bahwa warga kota dan pemerintah harus memiliki sikap yang inklusif terhadap difabel.
Didik Yudianto dari OHANA menyampaikan pengalaman dalam advokasi mendorong sinergitas agenda global, peraturan nasional, agenda pembangunan, dan implementasi di tingkat kota Yogyakarta untuk meningkatkan aksesibilitas fisik maupun terhadap layanan publik lainnya. Dididk mengemukakan tentang hambatan dan tantangan untuk mewujudkan aksesibilitas di DI.Yogyakarta di antaranya adalah komunikasi dan koordinasi pemkot/pemkab di DIY untuk mengimplementasikan secara penuh aksesibilitas penggunaan fasilitas umum bagi difabel menuju Jogja aksesibel 2024, kedua sosialisasi kepada petugas layanan publik dan komunitas yang masih kurang paham terhadap akses, ketiga kurangnya edukasi bagi petugas layanan publik dan komunitas secara umum terkait aksesibilitas layanan publik bagi difabel di kawasan publik macam Malioboro, keempat kurangnya pelibatan berbagai pihak dalam keberlanjutan program mewujudkan Jogja Aksesibel.
Pembicara lain, Marthella Rivera menjabarkan komitmen pemerintah melalui Undang-Undang nomor 8 tahun 2016 yang sangat progresif dan rencana-rencana ke depan untuk implementasi yang lebih kontekstual di tingkat daerah. Beberapa pengalaman dan pengetahuan tentang inovasi masyarakat mendukung inklusi disabilitas, serta mempromosikan kerja sama multipihak dalam mewujudkan kota yang lebih manusiawi. Sedangkan Aprilian Bima mengemukakan tentang aksesibilitas pada sarana transportasi publik, seperti ketiadaan teks berjalan mengenai tujuan pada angkutan bus Trans, layanan kesehatan di rumah sakit.
Rumah Banjarsari, (mestinya) Rumah Untuk Semua dalam 6th Urban Social Forum
Rumah Banjarsari menjadi lokasi hari kedua 6th Urban Social Forum oleh organisasi Kota Kita kali ini. Rumah yang pada dua tahun terakhir ini menjadi ruang publik bagi seni dan memiliki frekuensi tinggi dalam kegiatannya. Hampir di setiap Minggu ada dua-tiga even di Rumah Banjarsari. Sungguh menarik karena lanskap dan bangunan Rumah Banjarsari adalah sebuah konsep rumah tinggal dan halaman yang luas, dengan meja kursi berjajar dengan seperti kafe-kafe pada umumnya dengan beberapa sajian moderen serta tradisional. Namun sayangnya, ketika hendak memasuki Rumah Banjarsari, publik langsung menjumpai halaman yang bertanah kerikil (bebatuan kecil) yang tidak akses bagi pengguna kursi roda. Padahal tengah ada keramaian di sana seperti pasar rakyat dengan lapak-lapak buku, asesoris etnik, kaos dan kopi. Serta sebuah panggung rakyat yang diisi oleh penampilan pantomime oleh siswa Tuli, teater serta lengger.
Diskusi panel 13 menarik perhatian sebab bertema eksistensi angkot dan tantangan layanan transportasi publik. Di dalam ruangan yang luasnya sekira 70 meter dan dibagi dengan panel lainnya itu hadir Aprilian Bima serta seorang Tuli pegiat Gerkatin Solo lainnya. Bima ditemani oleh Lina, penerjemah bisindo yang tergabung dalam Deaf Volunteer Organization (DVO). Dalam sesi diskusi Bima mempertanyakan tentang aksesibilitas angkuta kota Solo, tentang ketiadaan sign untuk melihat jalur, bahkan kadang tidak ada tulisan jalur mana saja. “terus, kenapa ya angkot di Solo hampir punah? Lalu saya pernah menemui pada satu perjalanan, sopir bisa berganti dua kali,”ujar Bima.
Melihat perkembangan penyediaan transportasi di kota Surakarta, dapat dilihat berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah kota untuk memenuhi aksesibilitas, di antaranya adalah dengan membangun shelter aksesibel dilengkapi peta kota serta guiding blok bertaktil serta ramp yang aksesibel, meski ada beberapa difabel yang masih kesulitan mengakses secara mandiri karena kemiringan sudut ramp yang belum ideal sesuai desain universal. Pembuatan shelter aksesibel ini masif dilakukan sejak tahun anggaran 2015, di sepanjang jalan Slamet Riyadi, Urip Sumoharjo dan Ir. Sutami. Bus Trans juga telah menyediakan tempat duduk khusus difabel dan lansia, juga tempat yang bidang bagi pengguna kursi roda. Namun kesenjangan antara bibir shelter dan pintu masuk bus saat menaikinya dari shelter, terkadang sangat berisiko bagi difabel netra.

Wartawan : Puji Astuti
Editor : Ajiwan Arief

Berita

Advokasi Tempat Parkir Khusus Difabel Muncul di Forum Perangkat Daerah

Solider.id, Surakarta- Beberapa keluhan terkait akses tempat parkir khusus bagi difabel pengguna motor roda tiga di sarana publik seperti rumah sakit, bandara, dan stasiun menghiasi media sosial seperti Facebook. Kasus terbaru adalah pemilik akun Tanty, warga kota Surakarta yang memposting cerita saat dia hendak memarkir motor roda tiga miliknya di Stasiun Balapan Surakarta. Saat itu Tanty sesampai di parkiran lantas dipanggil dengan lambaian tangan agar memarkir sepeda motornya di paling belakang bersama motor lainnya. Setelah bersikukuh jika dia akan mengalami kesulitan jika harus parkir bersama kendaraan lainnya, akhirnya Tanty diijinkan untuk memarkir motor roda tiganya di halaman depan, dekat dengan akses pintu masuk.

Jawab Pertanyaan Difabel, SHG Solo Juara Gunakan Bus Abiyasa Keliling Solo Sen, 05/03/2018 - 16:25

Solider.id, Surakarta- Beberapa pertanyaan dan kekhawatiran muncul dari difabel terkait dialihfungsikannya satu unit bus aksesibel yakni bus Gatotkaca menjadi bus untuk rapat dengan berbagai modivikasi dan disewakan dengan tarif tertentu. Bagaimana mereka akan bisa mengakses bus bekas event Asian Para Games 2011 jika sudah berlaih fungsi. Kekhawatiran disampaikan lewat media sosial seperti WhatsApp Group (WAG) atau pesan-pesan pendek. Pertanyaan itu kemudian terjawab bahwa hanya satu dari dua unit yang berubah fungsi. Satu unit bus Abiyasa masih bisa untuk fasilitas difabel jika hendak digunakan sebagai mobilitas guna sarana transportasi di dalam kota. SHG atau kelompok difabel mandiri Solo Juara bersama anak-anak yang tergabung di YPAC Solo Percussion difasilitasi oleh dinas perhubungan melakukan tamasya berkeliling kota Solo, Minggu (4/3).

Berita
Berlangganan difabel Solo
The subscriber's email address.