Lompat ke isi utama
ilustrasi audiobook

Braille’iant Indonesia: Tingkatkan Aksesibilitas Literasi Difabel Netra melalui Audiobook dan Digitalbook

Solider.or.id.Yogyakarta. “Buku adalah Jendela Dunia” kata bijak yang menjelaskan betapa berharga dan bermaknanya buku. Dan membaca buku merupakan salah satu cara membuka jendela dunia agar kita bisa mengetahui lebih banyak tentang dunia yang belum kita tahu.

Namun demikian, kegiatan membaca buku belum menjadi habit bagi masyarakat dengan gangguan penglihatan (difabel netra). Pasalnya, tidak semua buku dapat mudah diakses bagi mereka. Selain jumlah bacaan (buku) Braille masih terbatas, jenis bacaan juga belum memenuhi kebutuhan dan minat difabel netra. Kondisi tersebut disikapi oleh sebagian difabel netra beralih pada bacaan dalam format buku audio (audio book) maupun buku elektronik (digital book).

Membaca situasi, kondisi, dan hambatan yang terjadi pada difabel netra, Braille’iant Indonesia berupaya memberikan solusi dengan membuat sebuah gerakan. Gerakan meningkatkan aksesibilitas literasi bagi difabel netra, dengan cara memperbanyak bacaan yang aksesibel dan mudah dijangkau.

 

Butuh relawan digitalisasi

Guna mencapai tujuan tersebut, Braille’iant Indonesia membuka rekruitmen volunteer atau relawan perekam buku bacaan dan relawan digital. Mengusung tema bacaan aksesibel dan literatur untuk semua "Audiobook dan Digitalbook Massal 2017" gerakan digitalisasi dilaksanakan pada 27 Agustus sampai dengan 3 September 2017.

Adapun pendaftaran volunteer atau relawan sudah dimulai dan akan ditutup pada tanggal 24 Agustus 2017. Pendaftaran dapat dilakukan dengan cara:

Pendaftaran dapat juga melalui kontak person 0822-2192-5558 (Dina).

Hingga berita ini diturunkan, sudah sebanyak seratusan relawan yang mendaftar untuk melakukan digitalisasi buku bacaan bagi difabel netra.  

 

Latar belakang gerakan

Menurut Wakil Ketua Braille’iant Indonesia, Ajiwan Arief Hendradi kepada Solider, Senin (21/8/2017), mengatakan bahwa selama ini difabel netra masih memiliki hambatan dalam mengekses literasi.

Untuk itu, lanjut dia gerakan audiobook dan digitalbook merupakan salah satu alternatif bagi difabel netra dapat menjangkau buku bacaan, baik ilmu pengetahuan, hiburan, politik dan lain sebagainya, selain dari buku braille yang sudan lama ada.

Adapun teknik digitalisasi audiobook, dilakukan dengan cara volunteer membaca buku cetak atau tulisan visual yang telah dikirimkan panitia penyelenggara, kemudian merekam suara saat membaca buku-buku bacaan tersebut, dalam bentuk softfile dengan format MP3. Sedangkan untuk digitalbook,  Volunteer melakukan editing terhadap buku cetak yang sudah di scan dalam bentuk pdf image. “hasil scaning yang telah dilakukan belum sepenuhnya dapat diakses oleh difabel netra. file tersebut harus diedit dan dikorekssi untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan rusaknya file sehingga tidak terbaca oleh JAWS” tutur Ajiwan melanjutkan.

Pada kesempatan berbagi cerita dengan Solider, Ajiwan menyayangkan banyaknya buku yang terbit dalam bentuk tulisan awas, namun tidak dibarengi dengan digitalisasi buku bacaan sehigga dapat diakses oleh difabel netra. Kalaupun ada, kata Ajiwan jumlah buku aksesibel bagi difabel netra sangat sedikit. “Jumlah buku digital tidak sebanding dengan buku yang dicetak dalam tulisan awas,” ujarnya.

“Memang sudah ada instansi atau perorangan yang melakuan digitalisasi e-book salah satunya Mitra Netra,” lanjut Ajiwan. Namun jumlahnya belum banyak, tuturnya. Untuk itu Braille’iant memandang perlu melakukan upaya-upaya pemenuhan aksesibilitas buku bacaan, agar kebiasaan membaca buku (literasi) di kalangan difabel netra semakin meningkat.

 

Memaknai era teknologi digital

Dengan semakin terbuka dan mudahnya akses informasi di era teknologi digital, maka kondisi tersebut mesti disikapi positif oleh Braille’iant Indonesia. Melalui gerakan digitalisasi buku, merupakan langkah positif memaknai era teknologi digital.

Kegiatan tersebut merupakan kegiatan kedua Braile’iant Indonesia. Sebelumnya kegiatan serupa pernah dilakukan pada tahun 2015. Hasil  dari digitalisasi buku disalurkan kepada dua lembaga difabel netra, yakni Yaketunis dan Mardiwuto.

Adapun hasil digitalisasi kali ini akan disalurkan lebih banyak organisais difabel (DPO) di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), beberapa perpustakaan salah satunya Grhatama Pustaka.

Di akhir perbincangannya dengan Solider melalui media sosial WhatsApp, Ajiwan menguraikan tujuan gerakan digitalisasi buku tersebut. Kegiatan audiobook dan digitalbook tersebut dilakukan sebagai upaya: (1) meningkatkan keterjangkauan bahan bacaan yang aksesibel bagi difabel netra, (2) meningkatkan pemahaman pada relawan tentang pentingnya aksesibilitas literasi bagi difabel netra, (3) Sebagai ajang kampanye kepada masyarakat, khususnya generasi muda tentang inklusivitas yang dapat dibangun melalui partisipasi dalam kegiatan digitalisasi buku secara massal. (hnw).

The subscriber's email address.