Lompat ke isi utama
Dialog Lintas Agama: Penguatan Rumah Ibadah Sebagai Agen Pengembangan Peradaban Kemanusiaan

Dialog Lintas Agama: Penguatan Rumah Ibadah Sebagai Agen Pengembangan Peradaban Kemanusiaan

Solider.or.id, Yogyakarta. Dalam suatu pandangan  Islam, menyingkirkan hal yang membahayakan meski sekecil duri dari jalanan pun merupakan sebuah kebaikan. Apakah menyingkirkan duri dalam hal ini juga dapat ditarik dalam konteks menyingkirkan tangga yang berundak-undak di rumah ibadah untuk memudahkan para jamaah yang memakai kursi roda? Ini merupakan salah satu contoh teks agama yang perlu digali konteks-konteks di dalamnya. Membangun konteks di atas teks-teks agama atau kitab suci inilah yang menjadi salah satu poin bahasan utama dalam Dialog Lintas Iman yang diselenggarakan oleh Dria Manunggal Rabu lalu (9/8).

Tampil KH.Abdul Manan, Ketua Pengurus PBNU D.I.Yogyakarta sebagai pemantik awal dalam dialog lintas iman ini. KH.Abdul Manan mengisahkan jika saat tiba hijrahnya di Madinah, Rasulullah mula-mula membangun masjid. Masjid sebagai bangunan utama yang didirikan oleh Rasul saat tiba hijrahnya ini memberikan makna jika masjid merupakan salah satu bangunan vital nan penting suntuk membangun kota madinah (Sebelumnya kota Madinah bernama Yatsrib yang kemudian diganti dengan Madinah oleh Rasulullah. Arti madinah adalah peradaban. Masjid sebagai pusat peradaban).

KH. Abdul Manan juga memandang jika masjid-masjid perlu dimanajemen dengan baik agar mampu memenuhi kebutuhan seluruh jamaahnya. Satu dari lima kebutuhan dasar manusia adalah pendidikan/ilmu. Untuk pendidikan agama, mayoritas masjid telah mampu menjadi pusat pembelajaran Al-Quran dan kajian-kajian keagamaan. Namun meski demikian, TPA (taman pendidikan Al-quran) yang berjalan di masjid-masjid kebanyakan belum mengakomodasi pembelajaran Al-Quran braille meski sejak 1979 para ulama menetapkan pentingnya pembelajaran Al-Quran braille. Selain itu, aksesibilitas khutbah jumat untuk difabel tuli dan aksesibilitas bangunan fisik masjid juga menjadi pekerjaan rumah untuk para pengelola masjid.

Selain itu, tampil pula Pendeta Pati H. Panjaitan sebagai pemantik kedua dalam dialog lintas agama ini. Menurut Pendeta Pati, sangat perlu untuk membaca ulang teks-teks kitab suci agar tidak bias dan menimbulkan diksriminasi (khususnya bagi difabel). Salah satu teks yang perlu dimaknai ulang adalah pada perjanjian lama Imamat : 21 yang terdapat kata ”yang sempurna fisiknya” yang secara tekstual mengandung diksriminasi untuk kawan-kawan difabel.

Selepas membahas pemaknaan ulang atas teks agama, Pendeta Pati memberikan kritik atas pendidikan bagi difabel. Baginya gereja telah banyak melaksanakan rehabilitasi dan pendidikan khusus difabel, namun masih dilaksanakan secara terpisah dan menimbulkan sekat. Menurutnya, penting pula adanya kurikulum inklusif dalam pendidikan agama di rumah ibadah dan sekolah-sekolah. Selebihnya Pendeta Pati menekankan akan pentingnya aksesibiltas non-fisik di rumah ibadah seperti sikap ramah dan saling berkasih sayang kepada seluruh jemaat tidak terkecuali jemaat difabel. Aksesibilitas nonfisik ini dibutuhkan disamping pentingnya aksesibilitas fisik bangunan rumah ibadah saja. “Bersama-sama masyarakat dan pemerintah, mari mengembangkan rumah ibadah yang dapat mengayomi kepentingan umat,” harap Pendeta di akhir dialognya.

Pada penghujung acara, dilaksanakan penandatanganan surat perwakilan umat untuk mengikat tekad mewujudkan rumah ibadah sebagai agen pengembangan peradaban kemanusiaan serta membangun rumah ibadah yang bernilai religius, sosial, hukum dan etika. [kurnia]

The subscriber's email address.