Lompat ke isi utama

Aku Harus Berjuang untuk Mendapatkan Jamkesmas

Di dalam Undang-undang No.19 tahun  2011 pasal 25 disebutkan bahwa setiap difabel berhak mendapat Jaminan kesehatan. Jaminan kesehatan yang dimaksud adalah pelayanan kesehatan yang aksesibel dan terjangkau. Terjangkau dalam arti difabel mampu melakukan pembayaran. Untuk menjangkau pembayaran tersebut dapat dilakukan dengan  memiliki Jamkesmas.

Namun, awal bulan  Maret 2013 kartu Jamkesmas tidak lagi saya terima setelah masa berlakunya habis. Sementara tetangga saya yang dulunya terdaftar sebagai peserta Jamkesmas semuanya sudah mendapatkan kartu Jamkesmas untuk tahun 2013. Saya merasa aneh, heran dan bingung kenapa mereka yang memiliki kemampuan ekonomi lebih dibanding saya kembali mendapatkan Jamkesmas sementara saya yang difabel tidak.Jamkesmas adalah Jaminan kesehatan gratis yang pembiayaannya dibebankan kepada pemerintah pusat.

Kondisi demikian tidak membuat saya menyerah untuk berusaha mendapatkan kembali Jamkesmas. Kemudian saya menanyakan ke kantor dinas kesehatan Kabupaten Bantul, dari sana disuruh menemui Kader PLKB. Kader PLKB adalah Petugas Lapangan Keluarga Berencana, orang yang bertanggung jawab dalam pendataan warga calon penerima Jamkesmas. Perdebatan kecil sempat terjadi sekedar untuk melempar tanggung jawab pendataan Jamkesmas. Kader PLKB tersebut mengatakan bahwa penentuan Jamkesmas dilakukan pemerintah pusat. Saya pun tidak mau mengalah dengan mengatakan bahwa pemerintah pusat tidak mungkin ada keputusan tanpa masukan dari bawah.

Kemudian terjadi kesepakatan untuk melakan pendataan mengusulkan kembali saya mendapatkan Jamkesmas. Setelah semua persyaratan  lengkapi kemudian saya kumpulkan kepada kader PLKB tersebut. Selama penantian menunggu Jamkesmas yang baru, ada perasaan khawatir dalam diri saya apakah  nanti berhasil mendapatkan Jamkesmas kembali. Satu hal yang membut saya berani melakukan protes untuk mendapatkan Jamkesmas adalah mereka yang kembali mendapat Jamkesmas adalah orang-orang yang secara ekonomi lebih baik dari pada saya, selain itu saya seorang difabel sementara mereka bukan.

Dan pada akhir Bulan Maret perjuangan saya tersebut berhasil. Akhirnya kembali saya mendapat Jamkesmas untuk tahun 2013. Perjuangan saya akhirnya terbukti, karena berdasarkan kriteria saya memenuhi mendapatkan Jamkesmas tapi pada kenyataannya tidak. Disinilah dituntut keberanian untuk memperjuangkan mendapatkan Jamkesmas. Tanpa ada protes maka pemberiana Jamkesmas akan disalahgunakan oleh orang yang berkompeten  menanganinya.

Selain itu keberanian saya memperjuangkan mendapatkan Jamkesmas karena ada sebuah keluarga yang memiliki mobil, orangnya  non difabel namun di tahun ini mendapatkan Jamkesmas. Memang kelurga tersebut tinggalnya jauh dari tempat saya namun, hal itu dapat dijadian alasan bagi saya memperjuangkan  Jamkesmas. Apalagi bagi penyandang difabel secara jelas diatur dalam undang-undang  mendapatkan jaminan kesehatan.

The subscriber's email address.