Lompat ke isi utama
natalan difabel surakaarta

Penuhi Hak Ibadah Anak Difabel, Kelasi dan SKAI Natalan Bersama

Solider.id,Surakarta - Pagi itu, 7 Januari 2023 di Aula Albertus Gereja Paroki Santa Maria Regina Purbowardayan penuh dengan jemaat anak-anak difabel beserta orangtua mereka. Ada sekitar 50 anak berkebutuhan khusus yang hadir dan ikut dalam misa perayaan Natal bersama yang diselenggarakan oleh Keluarga Alumni Sekolah Evangelisasi Pribadi Shekinah Indonesia (Kelasi) dan Sanggar Karya Anak Istimewa (SKAI). Anak-anak difabel dengan kemampuan masing-masing berusaha untuk mengikuti ibadah dari awal dan tidak ada satu pun yang meninggalkan aula sampai peribadatan selesai.

 

Ignatius Surya Prasetya Wijaya, pembina seluruh Kelasi di Keuskupan Agung Semarang dalam sambutannya menyatakan harapan kegiatan semacam ini bisa berkelanjutan. Ia juga mengutip Injil Yohanes 9 ayat 1-3 : “Rabi, siapakah yang berbuat dosa?, orang ini sendiri atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Lalu jawab Yesus :”Bukan dia dan bukan juga orangtuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.”

 

Menurut Ignatius Surya, pesannya adalah sebagai orangtua yang memiliki anak istimewa yang dititipi dan dianugerahi anak tersebut, dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan yang istimewa melalui anak ini. Dan harus memiliki keyakinan jika dijalankan dengan benar dan dimaknai dengan benar seperti yang disampaikan tadi (dalam ayat di atas) bahwa “Tuhan menciptakan orang kudus di keluargamu dan orang kudus itu nanti akan membawamu sekeluarga menjadi kudus juga.”

“Kalau direnungkan, justru di keluarga yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus adalah anugerah Tuhan. Awalnya hanya bisa menerima, lalu lama-lama mensyukuri. Dan tentu saja saya bisa ngomong seperti ini karena ya tidak setiap saat saya bisa ngomong seperti ini. Memiliki anak berkebutuhan khusus tidak hanya ayah dan ibunya saja yang berperan tetapi sibling/saudaranya juga. Saudaranya sebagai caregiver,” tutur Ignatius Surya yang memiliki anak perempuan dengan diagnosis Autism Spectrum Disorder (ASD).

 

Ignatius Surya menambahkan dalam pandangan orang-orang Katolik diberitahu,”Bukan orang yang berseru Tuhan....Tuhan....Tuhan itu yang nantinya akan masuk kerajaan surga tetapi mereka melaksanakan kehendak Tuhan. “ Dan di akhir zaman akan dipisahkan antara domba dan kambing. Istilahnya yang melasanakan kehendak Tuhan itu seperti apa? Yakni ketika ‘aku’ lapar, kamu memberi makan, ketika ‘aku’ haus maka kamu memberi minum, ketika ‘aku’ sakit kamu mengunjungiku. Ia bersyukur karena kalau anak yang lain mungkin yang hidup di panti atau di penjara, orangtua tidak setiap saat ada di samping anaknya. Tetapi sebagai orangtua dari anak istimewa (anak difabel) setiap saat ada dan 24 jam ada disana patut disyukuri sebab menurutnya  jalan masuk surga lebih lebar.

 

Persiapan Sebulan untuk Acara yang Cepat dan Efektif

Secara umum, ada anak berkebutuhan khusus yang bisa mengikuti misa umum, termasuk ananda dari Ignatius Surya. Ia juga menerima sakramen dan ketika mood sedang baik,ikut menyanyi dalam peribadatan. “Kami kalau duduk juga cari tempat yang aman, jadi ketika ada emergency juga mudah misalnya untuk keluar ruangan. Orangtua pun juga ikut membaur dengan jemaat lainnya karena membutuhkan sosialisasi. Apapun risikonya memang harus dihadapi saja untuk berjumpa dengan teman lainnya,” terang Ignatius Surya. Namun ia  berharap ke depan ada misa khusus untuk anak-anak berkebutuhan khusus karena di Semarang pun juga sudah mulai terselenggara.

 

Ardianto Suwono, koordinator kelasi kevikepan Surakarta kepada solider.id menyatakan terkait tagar Kelasi yakni berinovasi, berkarya memberi berkat. Kaitannya dengan acara yang baru pertama kali ini diselenggarakan, dari awal pihaknya mendesain agar bisa membuat acara dengan cepat dan efektif. Ia menambahkan saat ini alumni Kelasi seluruh Surakarta sejak 2012 dan ada 9 angkatan berjumlah  600 orang dan yang aktif di timnya ada 200-an. Ia berharap ke depan bisa membuat acara menjadi reguler, ada misa reguler dan selain itu akan ada perayaan bersama seperti 17 Agustus. Sedangkan pendanaan dari tim Kelasi dan ada penggalangan dana juga.

 

Senada dengan Ignatius Surya dan Ardianto Suwono, Agnes Widya, founder SKAI, ibu dari Elfram Griffindor, remaja ASD, berharap acara perayaan Natal bersama ini adalah langkah awal untuk melihat apakah anak berkebutuhan khusus membutuhkan kesinambungan  untuk beribadah bersama karena kondisi dan tentunya bukan bertujuan untuk mengeksklusikan diri.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.