Lompat ke isi utama
SHARING BERSAMA KPSI SOLO RAYA

Difabel Mental Psikososial Butuh Berkomunitas

Solideri.id, Surakarta- Ada pemandangan dan suasana yang berbeda pada pertemuan Komunitas  Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) Simpul Solo Raya yang bertempat di Taman Cerdas, Jebres, Surakarta  kali ini. Pertemuan yang biasanya diadakan di alam bebas, terakhir enam bulan lalu diselenggarakan di Taman Balekambang. Namun kali ini pelaksanan kopdar (kopi darat) di aula yang satu sisinya terbuka. Ada 17 difabel mental yang mengikuti acara, sisanya adalah caregiver dan  relawan yang terdiri dari mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Sebelas Maret, UIN Raden Mas Said, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Poltekkes Surakarta, Universitas Sahid dan Universitas Diponegoro.

 

Setelah dibuka dengan permainan yang bermanfaat untuk kembali menyegarkan pikiran dan fisik, sesi berikutnya adalah sesi berbagi cerita. "Namaku Galih, saat ini aku sedang berkuliah di salah satu universitas swasta. Aku dulu didiagnosis skizofrenia lalu sekarang bipolar," ucap Galih. Sementara semua peserta pertemuan tampak hening mendengar ceritanya.

 

Galih melanjutkan kisahnya bahwa saat  kuliah di semester  satu dan masih daring karena pandemi, ia banyak mengalami ketinggalan kelas dan materi kuliah. Ia kuliah sambil tiduran dan sering kebablasan. Efek pandemi kurang akrab dengan dirinya yang memiliki bipolar. Tak hanya itu, saat perkuliahan sudah dilakukan secara luring pun, ternyata ada hambatan yang sebelumnya tak pernah disangkanya terkait kesenjangan usia antara dirinya dan teman mahasiswa lain. "Ada gap usia dengan teman-teman. Saya susah  menjalani komunikasi. Saya sudah dipanggil om oleh teman-teman saya yang baru saja lulus SMA. Belum lagi, apa karena pengaruh obat, saya  jadi mudah mengantuk dan kurang fokus,"ujar Galih lagi.

 

Baca Juga: Mengenal dan Memahami Skizofrenia

Pertanyaan tersebut akhirnya  dijawab oleh Galih sendiri bahwa ia kemudian memilki manajemen waktu. Ketika ingin bangun jam 5 pagi ia tetap bisa mengusahakan. Ia juga merasa senang sebab  dosennya bisa diajak kerja sama. Galih berterus terang jika memiliki masalah kesehatan mental. Dan dinasihati kalau ada sesuatu agar berkomunikasi dengan dosen pembimbing akademis. Jadi ia sangat dibantu oleh dosen yang sangat mendukung dan dukungan itu kemudian juga datang dari teman-teman kuliahnya yang kemudian  mau diajak ngobrol.

 

Ika Hana, pengurus KPSI memberi masukan bahwa dengan keterusterangan Galih kepada dosen pembimbing adalah langkah yang tepat. Ika lalu bertanya tentang perubahan apa yang ia dapat saat sebelum dan sesudah Galih lebih terbuka kepada dosen dan teman-temannya. Galih kemudian menjawab bahwa ia lebih mudah untuk mengerjakan tugas kuliah dengan tenggat tertentu. Ia mengatasi overthinking dengan mendengarkan musik, main game atau jajan. Galih juga mudah melakukan healing lalu perasaan lebih lega. Sadar bahwa ketika sibuk lalu overthinking maka  perlu jeda, membuat jarak dulu dengan kesibukan. "Kendalanya lagi susah bangun. Suka dimarahi ibu karena terlambat shalat subuh,"jelas Galih saat menceritakan kembali kendalanya

 

Lain lagi cerita Fithri, seorang dosen yang memiliki aktivitas sehari-hari mengajar. Ia pernah didiagnosis skizofrenia pada tahun 2008 kemudian membaik dan permah relaps (kambuh) dan harus terapi dari awal kemudian membaik dan sekarang diagnosisnya bipolar. Menjawab tentang adaptasi obat, menurutnya harus ada niat yang kuat dari dalam. "Dulu saya sering begadang karena banyaknya pekerjaan dan lama-lama kondisi fisik tidak kuat lalu pusing dan emosi tidak stabil dan akhirnya mencari cara supaya bisa tidur cepat dengan mandi. Saya kadang naik turun juga. Jadi harus ada niat yang kuat,"ungkap Fithri.

 

Berkomunitas untuk Saling Sharing

Tahun 1999-2006 Sri Haryanto warga Banjarsari Surakarta dirawat di sebuah rumah sakit di Malang. Baru di tahun 2007 ia dipindah rawat di RSJD Surakarta dan keluar masuk rumah sakit sebanyak lima kali. Selama 22 tahun ia sering merasa  cemas, khawatir, menyakiti diri sendiri dan ingin mencelakakan diri. Namun saat ini gejala tersebut hilang, namun ia masih mengalami insomnia. Sri bisa mengambil hal positif dari diri sendiri. "Tuhan menghendaki saya rawat inap. Saya selalu berdoa. Ketika rawat-inap ada fase tingkatan yang harus saya lewati. Mungkin dari rehabilitan jawabannya berbeda-beda ya, tapi ini jawaban dari saya,"jelas Sri yang banyak melakukan olah raga dan memiliki harapan untuk lebih bersosialisasi dan berkomunikasi dengan keluarga dan masyarakat. Ia sudah memetik hikmah dari keikutsertaan dalam komunitas. "Maju ke depan, tidak menyerah dan putus asa dan semakin jauh dari kegelapan saya. Bertumbuh dan berkembang secara dewasa," ungkapnya.

 

Namun demikian, tidak semua penyintas kesehatan mental mau berbaur dan bersosialisasi seperti Hermawan yang anaknya tahun 2017 didiagnosis bipolar. Si anak tidak ikut pertemuan. Mahasiswa S2 itu  pertama kali mengalami gejala yakni sering menangis. Semalam kegiatannya hanya membaca buku. Menurut Hermawan,  puncaknya adalah saat relaps anaknya membanting barang-barang di rumah. "Anak saya lulus cumlaude dengan nilai 3,98. Ia masih berobat," terang Hermawan. Berbagai tawaran untuk anaknya berdatangan antara lain beasisea untuk lanjut S3 dan jadi dosen.

 

Dillo, psikolog yang juga relawan KPSI Simpul Solo Raya memberi beberapa tips untuk penyintas dan caregiver yakni  menerima, tidak memaksa, ikhlas dan kuat. Dillo mempunyai keluarga ODB juga. Menurutnya caregiver harus pintar dan banyak membaca serta banyak sharing. Modalnya berupa teknik mendengarkan. Menurutnya mendengarkan secara aktif itu seribu persen, serta  paham apa saja yang harus dipahami survivor.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.