Lompat ke isi utama
poster film Harmoni Healing Together

Film Harmoni: Healing Together, Advokasi Kolaborasi Multipihak untuk Penuhi HAM Difabel Mental Psikososial

Solider.id, Surakarta -Diawali dengan adegan kejar-kejaran antara difabel mental psikososial dan masyarakat dan petugas kesehatan, lalu adegan berikutnya adalah suasana di sebuah panti yang terletak di Cianjur,  Istana KSJ namanya. Istana KSJ kepanjangan dari Istana Kesehatan Jiwa yang didirikan oleh Nurhamid Karnaatmaja pada tahun 2009. Istana KSJ adalah sebuah panti untuk merawat Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) atau difabel mental psikososial.

 

Tampak di layar film, pengakuan Lendi (penyintas) yang sudah menjalani ritual ruqyah selama dua minggu tetapi tidak sembuh. Akhirnya ustaz yang meruqyah Lendi pun meminta pertolongan pada Yayasan KSJ, maka Lendi diboyong ke sana.

Nurhamid Karnaatmaja pendiri KSJ memberi pernyaaan bahwa di panti miliknya tersebut tidak ada ruang isolasi. Tidak ada yang lebih satu minggu di ruangan itu (di film tergambar sebuah ruangan). Lendi kemudian dibimbing oleh Nurhamid dan patuh minum obat.

 

Ada yang khas di KSJ yakni satu sama lain harus saling membangun ibaratnya seorang kakak mengasuh adik. Mereka saling mengasuh, saling menjaga. Tidak ada perawat. Tidak ada dokter yang berjaga. Sesama penghuni panti harus saling mengingatkan untuk minum obat. "Kalau berhenti minum obat, kambuh lagi" celetuk salah seorang dari mereka.

Lain lagi cerita di belahan Indonesia lain, bumi Manggarai, Flores. Ada kisah tentang dokter Ellias Carlo Wajong. Ia akan mengunjungi pasien jika ada yang melapor ada salah seorang anggota keluarga yang dipasung.

Selain itu juga ada cerita Bruder John. Sebagai bruder dan perawat,  masyarakat Flores masih percaya pada kekuatan spiritual dan relijiusitasnya sangat kuat. Pasien diobatI dan keluarga berpartisipasi pada pemulihan pasien.

Juga cerita dari dokter Ronald  yang memberi pernyataan jika pengobatan  baik maka pasien akan baik. Sebanyak 80% pasien tidak mau dibawa ke panti rehabilitasi karena mereka bilang berobat ke dukun. Ia menjumpai pasien yang dalam keadaan stagnan padahal dua tahun sebelumnya sudah diajak untuk ke panti rehabilitasi. Namun ajaannya ditolak. “Atas nama kemanusiaan anak saya, saya pasung. Atas nama kemanusiaan pula, ia saya pasung agar ia tidak menganggu dan menyakiti orang lain,” ibu pasien berujar.

 

Sementara itu seorang pastur dari Gereja Katedral Ruteng, memberi pernyataan bagaimana ia membedakan orang yang mengalami gangguan jiwa atau menderita penyakit fisik lewat indera penciumannya. “Waktu mendoakan saya juga ikut mencium aroma umat. Jika baunya menyengat bisa dibedakan antara diabolik atau psikiatri,”ujarnya.

Ustaz Fadhlan, seorang tokoh agama Islam yang kerap mengobati pasien dengan gangguan jiwa mengatakan dalam film bahwa setiap pasien datang akan ia ukur tensi dan gula darah. Kalau ada gangguan jin maka yang dilakukan adalah dengan cara syariah. Ada keluhan gelisah dan susah fokus. “Jika ada gangguan dalam diri dari setan maka dia akan keluar,” katanya. Tetapi jika tak juga sembuh maka dia akan mengantar ke psikiater. Menurut seorang dokter yang bertugas di Rumah Sakit Jiwa Ghrasia Yogyakarta, pasien boleh melakukan terapi ruqyah namun obat harus dijalani sebab untuk menguatkan.

 

Praktik baik kolaborasi antara keluarga, dukun (balian), dan tenaga kesehatan (psikiater) juga berjalan di Denpasar Bali. Dalam film ini,bahkan seorang psikiater pun turut serta dalam satu sesi terapi air yang diterapkan oleh seorang terapis tradisional.

 

Upaya CPMH UGM Mengadvokasi Lewat Film
Ada seratusan orang yang berlatar belakang dosen, peneliti, filmmaker, pemuka agama,mahasiswa, penyintas mental psikososial dan masyarakat umum berkumpul di Auditorium G-100, Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada menonton film Harmoni:  Healing Together.

 

Film karya Profesor Ermilia Colucci dari Middlesex University London merupakan film hasil kolaborasi penelitian antara Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Middlesex University, King’s College London dan University of Ghana.

 

Diana Setiyawati, Psikolog dan aktivis kesehatan mental yang juga dosen UGM, mengatakan bahwa film ini tidak ada skenario dan candid camera. Film ini dibuat berlatar belakang masih adanya kesenjangan yang tinggi bahwa hanya 10% dari difabel mental psikososial yang bisa mengakses  fasilitas kesehatan. Selama ini jika mengedepankan posisi profesional, namun jumlah profesional tidak cukup untuk memenuhi. Maka tidak fair jika tidak mengakui kedekatan-kedekatan dengan komunitas.

 

Film ini membuka realitas bagaimana sebuah kolaborasi antara penyembuh tradisional dan tokoh keagamaan seperti ustadz, pastur dan jero mangku bersama tenaga kesehatan dalam meningkatkan kesehatan jiwa dan memenuhi HAM orang dengan psikososial.

 

Dengan adanya film dokumenter Harmoni : Healing Together, hal yang dapat digarisbawahi adalah keluarga difabel mental, penyembuh tradisional dan pelayan kesehatan beserta tokoh agama dapat menghasilkan kolaborasi yang sangat harmonis dan itu terjadi karena saling menghargai peran satu sama lain.

 

Film Harmoni:Healing Together karya Profesor Ermilia Colucci  selama ini telah diputar di berbagai belahan dunia dalam even-even festival film dan banyak mendapatkan penghargaan. Ia juga pernah memproduksi film dokumenter lainnya yang bertema kesehatan mental bebas pasung berjudul Breaking The Chains.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor     ; Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.