Lompat ke isi utama
difabel netra nonton film

Visual Description, Bermanfaatkah bagi Netra saat Menikmati Film

Solider.id - Aktivitas menonton film dapat dikatakan tidak asing bagi sebagian besar orang, baik yang menonton dengan langsung datang ke bioskop atau mereka yang menonton dari rumah melalui layanan digital seperti netflix dan sejenisnya.

 

Menonton film ialah sebuah sarana hiburan yang sudah hadir sejak puluhan tahun yang lalu saat teknologi pertelevisian mulai dikenalkan. Film juga dapat disebut sebagai pertunjukan visual yang dimainkan oleh para pemerannya dengan tidak secara langsung karena harus melalui proses shooting terlebih dahulu atau pengambilan gambar sebelum dilakukan penayangan.

 

Lain halnya seperti pertunjukan wayang atau teater yang lumrah disajikan secara langsung dengan mendatangkan para penonton di tempat dan dapat melakukan interaksi bersama para penonton.

 

Seiring berkembangnya zaman, dunia perfilman banyak mengalami pembaharuan. Mulai dari segi gambar, audio, maupun tempat untuk menonton film itu sendiri dengan berbagai macam varian bioskop yang hadir bahkan, dewasa ini orang hanya dengan berbekal gadget dan jaringan internent sudah mampu menikmati film tanpa harus datang ke bioskop.

 

Baca Juga: Sejauh Mata Memandang, Sebuah Dokumenter Tentang Cinta dan Perbedaan

 

Lalu bagaimana dengan difabel netra yang menjadi bagian dari sekolompok masyarakat yang sama-sama memiliki hak untuk bisa menerima hiburan, apakah seorang difabel netra yang  memiliki hambatan penglihatan tidak butuh menonton film? Apakah seorang difabel netra tidak ada yang suka menonton film? jawabannya tentu ada, dan seorang dengan difabel netra juga berhak bisa mendapat sebuah hiburan yang salah satunya dapat dinikmati melalui menonton film.

 

Dewasa ini fitur audio description atau juga sering disebut visual description sudah mulai diperkenalkan dan dijadikan suatu layanan khusus bagi teman-teman difabel netra yang ingin menonton film agar dapat mengetahui setiap adegan atau kondisi dari setiap gambar yang ditampilkan pada sebuah film.

 

Jika merujuk pada laman konsersium aksesibilitas dunia 3playmedia, audio description ialah penggambaran secara verbal untuk menjelaskan suatu elemen visual, terutama di media dan produksi langsung.

 

Sedangkan merujuk The American Council of the Blind, audio description melibatkan aksesibilitas aspek visual dari theater, televisi, film, dan segala jenis media bagi individu difabel netra.

 

Adapun pladform digital yang mulai menyediakan fitur audio description saat ini diantaranya netflix dan youtube meski belum secara menyeluruh. Namun di indonesia sendiri penggunaan fitur audio description  belum begitu populer untuk digunakan sebagai layanan khusus bagi teman-teman difabel netra.

 

Sebuah terobosan pernah dibuat oleh perusahaan Minikino yang berpusat di Bali dan bergerak dibidang perfilman khususnya film pendek atau dokumenter yang menyajikan fitur audio description pada penayangan filmnya. Ada seorang mahasiswa Institut Seni Indonesia Denpasar Bali berinisial DP yang membuat film dokumenter mengangkat kisah tentang cinta tunanetra untuk tugas akhirnya yang bertajuk Sejauh Mata Memandang. Film tersebut  baru saja di launching 10 Januari 2023 kemarin juga mencoba memberikan fitur audio description di filmnya.

 

Setelah disosialisasikan kepada teman-teman difabel netra khususnya yang ada di Bali, ternyata penggunaan audio description yang disertakan pada film yang disajikan sedikit banyaknya memang membantu.  Namun, penggunaan fitur tersebut juga dapat dikatakan mengganggu seperti pernyataan dari Wayan Mudra salah satu seorang difabel netra yang ikut menonton yang sempat diwawancara solider.id saat launching film Sejauh Mata Memandang.

“Adanya layanan audio description ini memang saya akui bisa membantu teman-teman tunanetra untuk menjelaskan adegan yang ada pada suatu film tetapi sayangnya audio description yang pernah saya dengar masih terlalu berlebihan akhirnya bertabrakan dengan dialog yang ada pada film jadi saat mendengar filmnya justru saya merasa tidak bisa utuh mengetahui jalan ceritanya karena suaranya jadi bercampur. Padahal saya ingin bisa mengikuti film secara lengkap. Harapan saya untuk layanan audio description yang disertakan pada suatu film hendaknya tidak perlu diisi pada seluruh bagian film terlebih saat ada sebuah dialog, mungkin cukup saat mengambarkan suasana ruang dan pemandangan atau adegan yang tidak menggunakan dialog, karena sebenarnya kami tunanetra tetap bisa memahami adegan yang terjadi tanpa harus selalu dideskripsikan apalagi hal yang dideskripsikan tidak terlalu penting justru bisa menggangu” pungkasnya.

 

Selain itu di katakan juga oleh Jerry Juliawan seorang difabel netra yang sempat hadir di beberapa acara pemutaran film dengan audio description mengungkapkan bahwa   penggunaan audio description saya rasa memang sangat penting tetapi jika terlalu berlebihan juga sangat tidak enak didengar, terkadang juga terasa terlalu cepat hingga justru tidak tertangkap dengan jelas apa yang diterangkan karena harus mengikuti kecepatan dari setiap adegan yang terjadi” tandasnya.

 

DP selaku sutradara dari film dokumenter Sejauh Mata Memandang yang di produseri oleh Wayan Martino mengakui untuk memasukkan fitur audio description tersebut memang tidaklah mudah, karena harus menggambungkan antara kecepatan visual yang terjadi dengan audio.

“Awalnya memang saya pikir audio description itu harus menceritakan seluruh kejadian yang ada pada film namun setelah dibuka sesi diskusi diakhir pemutaran film saya jadi mengerti dan banyak mendapat masukan dari teman-teman difabel  netra kalau sebenarnya tidak perlu terlalu banyak memasukkan  audio description agar suaranya tidak bertabrakan, bahkan saat saya putarkan film yang sama tetapi tanpa audio description mereka justru merasa lebih nyaman mendengarnya. Ini bisa jadi bahan evaluasi saya kedepannya untuk bisa membuat karya yang lebih baik dan saya tidak berhenti hanya sampai di sini saya ingin kembali membuat film dengan melibatkan teman-teman difabel seperti film Sejauh Mata Memandang karena mereka sudah banyak menginspirasi diri saya” jelasnya.[]  

 

Penulis: Harisandy

Editor   : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.