Lompat ke isi utama
seorang barista sedang mengolah kopi

Barista Difabel dan Komunitas Kopi Bayang Bali

Solider.id - Sebuah unggahan Instagram tertanggal 23 Agustus 2022 dari akun @kalanaya.spacebar menarik perhatian Jery Juliawan, Founder Teratai Foundation. Dalam unggahan tersebut, tertera informasi soal pembukaan pelatihan barista dasar untuk difabel netra dan Tuli yang diselenggarakan oleh Kalanaya Space and Bar, sebuah kedai kopi sederhana di wilayah Kerobokan, Kuta Utara, kabupaten Badung. Melihat postingan tersebut, Jery tidak buang tempo untuk mendaftar dan turut mengajak lima orang rekannya mengikuti pelatihan tersebut.

 

Badak Berenang, panggilan akrab untuk lelaki 30 tahun founder Kalanaya, turun langsung untuk melatih rekan-rekan difabel yang telah mendaftar untuk pelatihan tersebut. Lelaki asal Batang, Jawa tengah tersebut sudah malang melintang dalam dunia perkopian dikalangan difabel semenjak 2018.

“”Dulu, saya sudah mengajar teman-teman difabel. Tapi itu di Bogor, dan sekarang akhirnya pindah ke Bali,” ujarnya.

 

Lebih lanjut, Badak menjelaskan bahwa setelah satu tahun Kalanaya berdiri, ia berinisiatif membuat pelatihan barista untuk teman-teman difabel. “Setelah kami share, ternyata ada nih, yang tertarik. Salah satunya dari teman-teman Teratai Foundation,” paparnya.

 

Mereka lantas bertemu pada sebuah kesempatan, dan Badak kemudian menjelaskan pelatihan yang akan ia laksanakan. “Awalnya mereka kaget loh, masa, sih, saya bisa bikin kopi?” tutur Badak, meniru reaksi teman-teman Teratai Foundation. Badak kemudian melanjutkan dengan meyakinkan mereka bahwa mereka bisa melakukannya.

“Setelah  mencoba, sekarang bisa, deh, mereka bikin kopi,” antusias, Badak bercerita.

 

Baca Juga: Raih Peluang Menjadi Barista Profesional Bersama Yakkum

Pada saat pelatihan berlangsung, Badak mengatakan bahwa memang ada kesulitan di mula-mula. Namun hal tersebut dapat segera teratasi. sebab dulu ia sudah pernah melaksanakan pelatihan barista untuk difabel, sehingga ia sudah menemukan metode yang tepat untuk mengajarkan mereka seluk beluk dunia kopi. Mulai dari alat-alat apa saja yang digunakan, bagaimana proses pembuatannya, bagaimana penyajiannya, dan lain-lain.

“Dulu, sih, awal-awal banyak trial and error, waktu pertama kali saya mengenal dunia difabel. Enam bulan pertama nihil tanpa hasil. Barang-barang rusak, alat-alat rusak,” cerita Badak. Namun, dari sana ia mulai belajar, hingga ia menemukan metode yang tepat untuk mengajar difabel dan ia implementasikan kembali di Bali, melalui kedai kopinya sendiri.

 

Jery dan beberapa orang rekan-rekan di Teratai Foundation sudah berbulan-bulan mengikuti pelatihan di kalanaya. Mereka sudah bisa membuat berbagai sajian kopi dengan berbagai metode seperti V60, Aeropress, dan Vietnam drip. Badak juga menjelaskan bahwa progres mereka sejauh ini sudah cukup bagus. Kini mereka tengah mempelajari Latte Art untuk beberapa waktu ke depan.

 

Badak menjelaskan bahwa mereka tidak merekomendasikan difabel  untuk bekerja di kedai kopinya. Ia hadir hanya untuk mengajar, dan sisanya ia berikan kembali kepada teman-teman difabel yang sudah mengikuti pelatihan yang ia buat.“Teman-teman difabel ini bisa mandiri, dan saya yakin mereka mempunyai sesuatu yang bisa mereka kembangkan dan tingkatkan lagi. Saya ingin mereka memiliki usaha dan upaya untuk mendorong kepada kesempatan yang jauh lebih baik,” tuturnya.

 

Menjawab hal tersebut, Jery lantas membuat komunitas Kopi Bayang Bali yang didirikan dari 10 November 2022, Yang bertujuan untuk menghubungkan para barista difabel melalui sebuah wadah khusus untuk saling berelasi. “Harapannya, melalui Komunitas Kopi Bayang, bisa lebih banyak lagi menjangkau teman-teman dan komunitas kopi di luar sana, agar bisa berkolaborasi dan belajar bersama-sama.” Pungkas Jery.[]

 

Reporter: Ni Komang Yuni

Editor      : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.