Lompat ke isi utama
poster film sejauh mata memandang

Sejauh Mata Memandang, Sebuah Dokumenter Tentang Cinta dan Perbedaan

Solider.id - Rabu, 11 Januari 2023. Mulai pukul 14:30, Green room Park 23 yang terletak di kawasan Kuta Bali sudah ramai di datangi orang. Terutama oleh mereka para difabel Tuli dan Netra. Sebuah film dokumenter yang berjudul Sejauh Mata Memandang akan di putar pada 15.00, film yang diangkat dari kisah-kisah anggota Teratai Foundation. Sebuah yayasan yang bergerak di pemberdayaan difabel Netra di Bali.

 

Adalah Dhani Prasetyo, seorang mahasiswa tingkat akhir Institut Seni Indonesia Denpasar yang menjadi penggagas film tersebut. Berawal dari pertemuannya dengan Mendiang Didon Kajeng (seorang seniman difabel netra asal Bali), cerita-cerita tentang teman-teman difabel netranya di Teratai Foundation yang kala itu masih berbentuk komunitas. Kemudian pertemuannya dengan Co produsernya yang juga akhirnya mempertemukannya dengan anggota Teratai Foundation yang lain. Selanjutnya, terbersitlah keinginan untuk membuat dokumenter tersebut.

“Tetapi sayang, Om Didon terlebih dahulu meninggalkan kami,” ujarnya muram.

 

Dhani melanjutkan bahwa   film ini sebenarnya juga tribute kepada Didon kajeng.

 

Baca Juga: Nobar Bioskop Suara, Cara Difabel Netra Menikmati Film Lagu untuk Anakku

Sejauh Mata Memandang adalah kisah yang diangkat dari dua anggota Teratai Foundation, yakni Ayu Wulandari dan Ida Bagus Surya Manuaba. Dua orang dengan dua kisah yang berbeda. Ayu dengan keluarga kecilnya, seorang laki-laki penyayang dan seorang anak perempuan manis bernama Laksmi.

 

Sementara Ida Bagus Surya Manuaba yang lebih dikenal dengan panggilan Gusde, menampilkan kisahnya dengan sang pacar yang menjalani suka duka percintaan.

 

Film ini berada dalam naungan rumah produksi Niskala Studio, di sutradarai oleh Dhani Prasetyo sendiri. Dengan Wayan Martino sebagai produser dan Yusuf Jacka sebagai coproduser. Film ini memiliki dua versi, yakni versi untuk umum dan versi yang dilengkapi dengan Audio Description (AD) dan Close caption (CC) agar bisa dinikmati oleh difabel netra dan tuli.

 

Ditayangkan pertama kali pada tanggal 10 Januari, di Green room Park 23 Kuta, film ini mendapat sambutan yang cukup antusias bahkan dari penonton nondifabel. “Kemarin seisi ruangan penuh banget. Bahkan sampe ada yang nangis nontonnya. Saya bener-bener nggak nyangka dan terharu, film Sejauh Mata Memandang mendapatkan antusiasme sebesar itu.” Tuturnya.

 

Dalam sesi diskusi setelah penayangan usai, Dhani memaparkan mengapa ia mengambil tema ini. “Kisah-kisah cinta orang dengan difabel itu unik. Kita bisa mendapatkan dua perspektif berbeda dari hubungan perempuan dan laki-laki difabel netra dengan pasangan mereka yang nondifabel.” Terang lelaki asal Situbondo itu.

“Ayu, kan, tidak bisa melihat wajah suaminya, Gusde juga tidak bisa melihat wajah pacarnya. Bagaimana mereka saling jatuh cinta dan menjalani kehidupan yang begitu berbeda? Perasaan saling mengasihi dan upaya untuk mengisi perbedaan satu sama lain adalah jawabannya.” pungkas Dhani, yang bersambut riuh tepuk tangan di seisi ruangan.

 

Diskusi kemudian berlanjut dengan pembahasan seputar penggunaan audio description dan close caption dalam film, yang dimasukkan dengan manual oleh sang Sutradara. Berbagai saran dan tanggapan berdatangan dari para penonton. Seperti audio description yang berbenturan dengan dialog, close caption yang tidak relevan dengan bahasa Tuli, sampai saran menggunakan bahasa baku dalam close caption dan juga mengurangi audio description yang tidak relevan dalam film.

“Tentu saja, saran-saran yang kami terima dari teman-teman akan menjadi evaluasi kami kedepannya dalam membuat film yang ramah difabel.” Tandas Dhani.[]

 

Reporter: Ni Komang Yuni

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.