Lompat ke isi utama
ilustrasi buku bagi kesehatan difabel intelektual

Katakan Rasa Sakitmu Agar Dokter Dapat Menyembuhkanmu

Solider.id, Yogyakarta - SAKIT. Adalah pandangan atau persepsi seseorang bila merasa kesehatannya terganggu. Sakit, adalah hal yang tidak mengenakkan. Nyeri pada bagian tubuh tertentu, pasti dirasakan. Keluhan rasa sakit atau nyeri tubuh karena penyakit, sudah barang tentu harus disembuhkan oleh ahlinya. Dokter dalam hal ini, perlu mendapatkan informasi yang tepat terkait gejala sakit. Namun, tidak semua anak atau orang mampu menyampaikan rasa sakitnya. Satu di antaranya adalah orang dengan disabilitas (difabel) intelektual.

 

Difabel intelektual. Mereka memiliki keterbatasan dalam perkembangannya, oleh sebab gangguan intelektual (kognitif) dan fungsi adaptifnya. Mereka juga kurang terampil menjalani kehidupan sehari-hari. Kelompok ini diistilahkan juga dengan disabilitas perkembangan. Mereka tidak mampu mengungkapkan rasa sakit yang dideritanya.

 

Menurut dr. Bobtriyan Tanamas dari Klikdokter, ada beberapa jenis disabilitas intelektual yang terjadi pada anak-anak. Di antaranya, Sindrom Fragile X, Down syndrome, keterlambatan perkembangan, dan Sindrom Prader-Willi (PWS). Lebih lanjut, dapat dibaca dan dipelajari pada tulisan jenis disabilitas yang dapat dialami anak-anak.

 

Ketidakmampuan orang dengan gangguan perkembangan mengungkapkan rasa sakit, berakibat pada diagnosa dan perlakuan. Seringkali sulit bagi dokter memberikan perawatan yang tepat karena minim atau ketiadaan diagnosa. Kondisi demikian berpengaruh pada kesehatan difabel intelektual.

 

Baca Juga: Mengenali Empat Jenis Disabilitas Intelektual yang Bisa Dialami Anak

Jembatani komunikasi

Daewoong Pharmaceutical, sebuah perusahaan perawatan kesehatan global asal Korea, mengadakan kegiatan untuk meningkatkan kualitas hidup penyandang disabilitas perkembangan di Indonesia. Daewoong Pharmaceutical mengembangkan dan memproduksi buku bergambar Augmentative and Alternative Communication (AAC), berjudul “Katakan Rasa Sakitmu”.

 

Buku bergambar AAC, telah diluncurkan di Jakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Penyandang Disabilitas Internasional (3/12/2022) lalu. Buku ini bertujuan membantu difabel mengungkapkan gejala sakit yang dialami kepada dokter. Sehingga mereka dapat menerima diagnosa dan pengobatan yang tepat.

“Ketika orang dengan gangguan perkembangan merasa sakit, sulit bagi mereka menjelaskan gejalanya kepada pendamping dan dokter. Sehingga, dokter seringkali sulit memberikan perawatan yang tepat. AAC bisa menjadi solusi untuk masalah komunikasi ini. Dengan demikian kesejahteraan dan kondisi kesehatan para penyandang disabilitas di Indonesia meningkat.” Ujar Tri Puspitarini, S.Psi, M.Psi, dikutip dari keterangan pers, Selasa (6/12).

 

AAC mengacu pada metode komunikasi ilmiah yang melengkapi dan menggantikan kata-kata untuk orang yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi secara verbal dan tertulis. Penggunaan AAC telah meningkat di luar negeri. Sebagai contoh di Amerika Serikat dan Inggris. Dua negara ini telah memberikan akses layanan medis yang lebih baik kepada penyandang disabilitas.

 

Sosialisasi dan distribusi

Di sisi lain, di Indonesia, masih diperlukan perbaikan besar untuk membangun kesadaran dan infrastruktur terkait hal ini. Dengan latar belakang tersebut, Daewoong Pharmaceutical telah menjalankan program “Say Pain!” di Indonesia mulai Mei 2022. Sebuah program  dalam upaya mendukung masyarakat difabel  perkembangan, menerima diagnosis dan pengobatan yang tepat, melalui menyediakan buku bergambar AAC.

 

Kalimat dan gambar yang mudah dipahami dalam buku AAC dapat membantu mereka berkomunikasi dengan pendamping dan dokter mereka. Berdasarkan pengalaman dalam memproduksi buku bergambar AAC di Korea, Daewoong Pharmaceutical memproduksi buklet versi Bahasa Indonesia berjudul “Katakan Rasa Sakitmu”.

 

Buku “Katakan Rasa Sakitmu” terdiri dari tiga bab. Yaitu gejala, skala dan sebab. Bab gejala, untuk mengungkapkan area dan jenis rasa sakit. Skala, untuk mengungkapkan tingkat dan titik awal rasa sakit. Dan Sebab, untuk mengungkapkan alasan gejala penyakit. Semua informasi yang diperlukan untuk merawat pasien, mulai dari gejala hingga penyebab, disertakan dalam satu booklet.

 

Seorang dokter di Rumah Sakit DKT Yogyakarta, dr. Dita Sekarini, mengapresiasi peluncuran buku gambar ACC tersebut. “Saya mengalami kesulitan ketika mendapatkan pasien difabel, khususnya dengan gangguan perkembangan. Mereka seringkali tidak mampu menjelaskan gejala penyakit yang sederhana sekalipun seperti pilek dan sakit perut. Semoga buku bergambar ACC, menjadi solusi,” ujar dokter yang tinggal di Wirobrajan itu.

 

Ia sangat senang jika Booklet Katakan Rasa Sakitmu, segera dapat diterimanya. Sosialisasi dan distribusi ke berbagai  institusi medis sesegera mungkin, ujar dokter Dita, akan lebih baik. Sehingga, tak hanya sekedar wacana dan angan-angan, melainkan kebermanfaatan buku ACC dapat dirasakan.

 

Sementara, dikutip dari release yang diterima solider.id, Desember 2022, booklet Katakan Rasa Sakitmu akan disumbangkan ke sekolah luar biasa dan lembaga kesejahteraan yang berlokasi di Jakarta. “Kami berharap buku bergambar AAC ‘Katakan Rasa Sakitmu’ sebagai pedoman bagi penyandang disabilitas di Indonesia untuk menerima perawatan medis secara mandiri,” ujar Sengho Jeon, CEO Daewoong Pharmaceutical.

 

“Kami akan terus memenuhi tanggung jawab sosial kami untuk membuat masyarakat yang lebih baik dan membantu orang-orang dengan disabilitas perkembangan keluar dari kesulitan medis,” tambahnya.

 

 

Sementara itu, bersamaan dengan produksi AAC Booklet “Say Pain!”, Daewoong juga telah menjalankan kampanye digital sejak Mei 2022 dengan finalis “Daewoong Social Impactor” generasi kedua untuk meningkatkan kesadaran tentang isu disabilitas perkembangan dan perlunya AAC.

 

 

Daewoong Pharmaceutical akan terus mengembangkan “Say Pain!” di Indonesia melalui berbagai kerjasama dengan mahasiswa dan institusi. Tahun depan, Daewoong berencana untuk memperluas donasi buku bergambar AAC, serta menjalankan program pendidikan buku bergambar AAC untuk difabel, guru khusus, dan staf institusi.[]
 

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor    : Ajiwan Arief
 

The subscriber's email address.