Lompat ke isi utama
FOTO TERKAIT HIV AIDS

Peringati Hari AIDS Sedunia, Ada 30 Difabel di Yogyakarya Berstatus ODHA

Solider.id - Lima tahun terakhir SAPDA (Sentra Advokasi Perempuan Disabilitas dan Anak), sebuah NGO dengan isu difabilitas yang berkantor pusat di Yogyakarta juga bergerak di isu HIV-AIDS. Hal ini karena ada beberapa difabel terpapar HIV dan AIDS. Nurul Saadah Andriyani, Direktur SAPDA mengutip catatan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Yogyakarya bahwa sampai September 2021, ada 7000 lebih Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) di Provinsi DIY.  Kota Yogyakarta  merupakan daerah yang cukup tinggi terkait orang yang terjangkit HIV AIDS dibanding kabupaten lainnya. "Bicara dari mana mereka mendapatkan, kalau ngomongin keterpaparan, banyak yang tidak diketahui,"ungkap Nurul pada diskusi yang digelar oleh Forum Denpasar 12 pada Rabu (30/11). .

 

Di DIY, angka ODHA berdasarkan wilayah meliputi Kulon Progo 403, Bantul 1.719, Gunung Kidul 1.208, Sleman 2.800, Kota Yogyakarta 3.125. Temuan HIV-AIDS sampai September 2021 adalah AIDS sebanyak 1.874 kasus dan HIV 5.887. Menurut KPA, distribusi HIV/AIDS DIY dari tahun 1993-2021 berdasarkan Faktor Risiko : heteroseksual 55%, homoseksual 19%, narkotika suntik 5%, biseksual 2%, tidak diketahui 16% lalu berdasarkan usia sejak tahun 1993-2021 : kurang dari 1 tahun 30 anak, 1-4 th 81 anak, 5-14 th 57 anak, 15-19 th 103

orang, 20-29 th 1.825, 29-39 th 1.737, 40-49 th 983, 50-59 th 589, di atas 60 th 168, dan yang tidak teridentifikasi 314

 

Difabel yang berstatus ODHA menurut Nurul akan mengalami double stigma. Mereka akan  semakin dijauhi, dikucilkan, dipinggirkan serta lingkaran sosial akan tertutup. Yang mengkhawatirkan adalah mereka tidak mendapatkan layanan yang diharapkan.

 

Tahun ini ada 30-an difabel yang terpapar HIV- AIDS di DIY. Mereka untuk mendapatkan layanan kesehatan yang awam berperspektif difabilitas saja masih sulit apalagi layanan HIV-AIDS. Sementara dari pihak pemberi layanan kesehatan terkait HIV-AIDS belum tentu  paham difabilitas.

 

Kasus difabel dengan HIV-AIDS sampai dengan 2021 meliputi difabel laki-laki 13 orang, difabel perempuan 10 orang, mereka berasal dari dalam maupun luar wilayah DIY. Sebanyak 16   adalah Tuli, 1 difabel netra, 2 difabel fisik dan 1 dari SLB.

 

 

Dari temuan SAPDA, penyebab mereka menyandang ODHA karena melakukan hubungan seksual tidak aman atau mereka jadi korban kekerasan seksual. Ada teman Tuli yang menjadi korban kekerasan seksual. Kalau pelaku adalah ODHA maka korban rentan juga menyandang ODHA.

 

Mengapa difabel juga mengalami kerentanan mendapatkan penyakit HIV-AIDS? Karena banyak yang belum paham tentang hubungan seksual yang aman. Informasi tentang kespro belum sampai ke mereka. Kerentanan difabel dalam isu HIV-AIDS disebabkan informasi yang keliru tentang hubungan seksual, informasi yang minim tentang HIV-AIDS, media informasi yang tidak aksesibel, dan layanan yang tidak ramah pada difabel serta dukungan sebaya yang masih sangat kurang. “Kelompok difabel harus disasar secara spesifik dengan media informasi dan layanan yang aksesibel. Mereka terpapar sebab oleh ketidaktahuan mereka,"tegas Nurul.

 

Sementara itu Putri dari Siklus Indonesia dalam kesempatan yang sama memaparkan tentang bagaimana membuat media kampanye diantaranya tentang mitos-miitos tentang HIV-AIDS ada 4 mitos : Orang yang hidup dengan HIV-AIDS akan tertular. Bagaimana membuat konten yang secara cepat bisa mengedukasi di antaranya lewat media sosial misalnya Instagram. Mitos berikutnya ODHA harus mengindari kegiatan fisik misal olah raga. ODHA tidak bisa hidup lama dan tidak bisa memiliki anak dan sebagainya. Pihaknya berjejaring dengan 50 kreator yang mengkampanyekan isu HIV-AIDS.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.