Lompat ke isi utama
Deinkonstitusionalisasi Difabel Mental

Deinkonstitusionalisasi Difabel Mental Psikososial

Solider.id - Deinkonstitusionalisasi adalah kembalinya praktik-praktik inkonstitusional pada Undang-undang nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas. Dalam hal ini praktik tersebut terjadi pada difabel mental psikososial. Difabel mental adalah kondisi difabilitas yang dialami oleh orang-orang dengan berbagai gangguan jiwa serta adanya hambatan saat berinteraksi dengan lingkungan. Hambatan yang dialami mengakibatkan ia menjadi seorang difabel. Gangguan jiwa apa saja yang meliputinya? Skizofrenia, bipolar, depresi,anxiety dan lain-lain. Segala gangguan yang menghambat seseorang untuk berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya. "Dulu gangguan jiwa tidak dimasukkan ke disabilitas mental. PJS selain membuat support group juga mengadvokasi karena kita punya UU nomor 8 tahun 2016. Gangguan juga dicantumkan dalam undang-undang tersebut sebagai bagian dari difabel. Perlindungan kepada difabel juga berlaku bagi difabel mental. Perlindungan lainnya yang diberikan kepada difabel mental karena kekhususan difabilitasnya," ungkap Yeni Rosa Damayanti dalam sebuah kesempatan siaran RRI Pro 1 Padang,

 

Menurut Yeni, PJS (Perhimpunan Jiwa Sehat) awalnya merupakan group  pasien psikiatri dengan berbagai diagnosa yang berkumpul bersama untuk membangun support group. Lama-lama PJS melihat banyak sekali hambatan yang dialami oleh difabel mental baik yang bergabung di support group maupun pada masyarakat umum. Dalam perkembangannya, PJS menjadi organisasi yang selain melakukan support group juga advokasi baik undang-undang atau individual secara hukum jika berhadapan dengan masalah. PJS juga melakukan berbagai riset dan pengumpulan data terkait difabel mental. PJS berbasis di Jakarta dan salah satu cabang di Sumatera Barat, yakni PJS Sumbar.

 

Yeni menambahkan penyebab kenapa seseorang alami gangguan jiwa karena ada beberapa faktor. Hal ini sama sulitnya ketika ada yang bertanya apa penyebab orang kena cancer. Ada banyak faktor dan ada pengkategoriannya. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa 1 dari 4 orang alami masalah gangguan jiwa di dunia. Kesannya sedikit padahal jumlahnya cukup besar baik di Indonesia atau internasional.

 

Difabel Mental seperti yang disebutkan di atas yakni skizofrenia, bipolar, dan anxietas. Sedangkan ciri-ciri skizofrenia ada di pendengaran, yang memiliki waham. Menurut Yeni,  orang yang bicara sendiri adalah orang skizofrenia, ia tidak bicara sendiri tetapi bicara dengan halusinasinya. Jika ia dengan kondisi bipolar maka ditambahi dengan adanya manic, dan ada kondisi depresi.

 

Baca Juga: Cara Beretika Pada Perempuan dan Anak Difabel Fisik dan Mental Intelektual Korban Kekerasan Seksual

Skizofrenia pertama kali muncul gejalanya pada usia remaja atau dewasa muda yakni usia SMP, SMA atau awal 20-an. Yang paling tinggi angkanya adalah di usia 19-24 tahun.

 

Apa saja Hak-Hak Bagi Difabel Mental?

Hak-hak bagi difabel mental terutama bagi seorang pekerja, kalau ketahuan alami bipolar, saat depresi maka ia diberhentikan. Yeni sering mendapatkan laporan, si pekerja dengan difabilitas mental tersebut sering dipersulit oleh perusahaan atau institusi temaptnya bekerja    atau atau malah diberhentikan dari tempat kerja. Ada dua hak yang selama ini dilanggar oleh

 

pihak pemberi kerja yang ditimpakan kepada pekerja difabel mental. Seharusnya dia tidak boleh diberhentikan karena kondisi disabilitasnya ada dasar hukumnya.

 

Difabel Mental berhak mendapatkan dukungan dalam bentuk Akomodasi yang Layak (AYL). Apa itu AYL? Adalah berbagai support yang diberikan oleh pemberi kerja agar anak buahnya yang alami difabel mental, dapat bekerja sebagaimana mestinya. Bentuk dukungannya seperti apa? Tergantung apa ragam difabelnya. Kalau difabel mental antara lain waktu istirahat yang fleksibel, waktu untuk kontrol bulanan, ada tempat untuk beristirahat jika kondisi kerja sedang tidak kondusif. Hal ini dilindungi oleh UU nomor 8 tahun 2016. Namun saat ini masih marak terjadi, difabel mental mengalami perundungan dan pengucilan dan ujung-ujungnya diberhentikan dari pekerjaannya

 

Selain dukungan medis dan psikologis yakni tidak dikucilkan alias tetap dilibatkan dalam kegiatan sehari-hari dan untuk memutuskan sesuatu. Apabila pergi berkunjung ke keluarga atau saudara tetap diajak. Harap dimaklumi misalnya jika ada gejala yang luar biasa bagi yang belum pulih, sebaiknya tidak dicemooh atau diolok-olok. Dan anggaplah itu bagian dari keragaman tingkah laku manusia.

 

Selain itu Yeni juga memberikan tips atau cara beretika yang baik dengan difabel mental psikososial : 1. Jangan ngomong/berinteraksi dengan difabel mental itu seperti ngomong dengan anak kecil. Kadang secara sengaja ketika berhadapan dengan mereka, kita ngomongnya seolah-olah dia anak kecil. 2. Jangan dijauhi/dihindari. 3. Jangan dibedakan dalam perlakuan.

 

Solider.id mewawancarai seorang caregiver yang juga istri penyintas bipolar. Si istri tersebut memiliki kegundahan sebab saat ini suaminya tengah dirawat di rumah sakit jiwa karena mengalami relaps (kekambuhan). Ia khawatir jika suaminya di-PHK oleh kantor tempatnya bekerja. Apalagi sebelumnya sudah ada kasak-kusuk jika performa kerjanya menurun semenjak tiga bulan ini. Namun ia sedikit bergembira setelah dapat membina komunikasi dengan atasan suaminya dan berbicara secara terus terang terkait kondisi yang dialami sang suami. Ia juga melakukan konsultasi dengan pembina Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) yang memberinya referensi terkait hak-hak pekerja difabel mental sehingga hal itu menguatkannya untuk menghadapi masalah di depan.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor     ; Ajiwan Arief

The subscriber's email address.