Lompat ke isi utama
posbindu difabel

Kolaborasi Difabel dan Puskesmas Sabdodadi Wujudkan Program Posbindu

Solider.id, Bantul – Pada Kamis (10/11) KDK (Kelompok Difabel Kalurahan) Kalurahan Sabdodadi bekerja sama dengan Puskesmas Bantul II bersama Pemerintah Kalurahan Sabdodadi dan SIGAB Indonesia menggelar program pos pembinaan terpadu untuk difabel.

 

Mengawali acara, Pramono Murdoko selaku perwakilan dari SIGAB Indonesia memberikan pemahaman bahwa difabel merupakan makhluk sosial. Artinya tidak bisa hidup sendiri dan memerlukan orang lain baik di rumah maupun di luar rumah. Salah satunya adalah melalui pertemuan rutin KDK yang bisa menjembatani interaksi sosial yang terjadi antar difabel.

 

 Seperti halnya wanita bernama Alfeora Pratiwi, ia menuturkan pengalamannya saat pertama kali bertemu dengan anggota difabel lain. Waktu itu ia merasa cukup malu untuk berkenalan karena ia merasa terbiasa menghabiskan waktu di rumah. Sebelum ada pertemuan rutin, kebanyakan masyarakat difabel di Kalurahan Sabdodadi hanya menghabiskan sebagian waktunya di rumah saja.  

“Harapan semoga dengan adanya pertemuan ini bisa menjadi momentum untuk saling bertukar pikiran dan pengalaman satu sama lain. Serta jadi sarana untuk bersosialisasi dan bersilahturahmi bahwa mereka yang difabel tidak sendirian,” tutur pria dengan sapaan Pram itu.

 

Dalam hal kesehatan masyarakat, memang tidak bisa lepas dari peran serta puskesmas setempat. Masyarakat difabel pada praktiknya juga memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk bisa mengakses layanan kesehatan yang layak. Tentunya untuk memudahkan akses layanan kesehatan puskesmas, perlu adanya inovasi yang dilakukan.

 

Titik selaku perwakilan dari Puskesmas Bantul II membenarkan bahwa semua masyarakat berhak mendapatkan layanan kesehatan yang sama tanpa adanya diskriminasi. Ia menuturkan bahwa adanya posbindu khusus difabel bisa menjadi salah satu bentuk inovasi untuk lebih mendekatkan layanan kesehatan.

 

Lebih lanjut, Titik menjelaskan bahwa pelaksanan posbindu di Kalurahan Sabdodadi berjalan dengan lancar kendati baru pertama kali dilaksanakan. Ia menuturkan jika idealnya ada 6 meja agar pemeriksaan terlayani dengan baik. Akan tetapi pada posbindu di Kalurahan Sabdodadi hanya ada 4 meja saja, dengan alasan agar lebih mengefisienkan waktu dan tempat.

“Meja pertama untuk keperluan pendaftaran. Meja kedua yaitu meja pemeriksaan vital sign seperti tinggi badan, berat badan, pengukuran suhu, hingga tekanan darah. Meja ketiga untuk pemeriksaan gula darah apabila yang bersangkutan mengalami beberapa indikasi seperti buang air kecil saat malam, lapar dan haus berlebihan, berat badan turun drastis, faktor genetik, dan penyakit diabetes. Serta meja terakhir dikhususkan untuk edukasi, apabila ditemukan indikasi penyakit maka yang bersangkutan akan dianjurkan untuk segera dirujuk ke puskesmas dengan syarat KTP atau Kartu BPJS. Jika tidak memiliki jaminan kesehatan, maka dapat menghubungi TKSK di Kapanewon untuk diberikan rekomendasi Jamkesda,” jabarnya.

 

Titik menambahkan, saat pasien difabel datang ke puskesmas mereka tidak perlu mengantri karena sudah ada antrian khusus untuk difabel dan lansia sehingga pihaknya mengimbau kepada difabel untuk tidak perlu khawatir dalam mengakses layanan kesehatan di puskesmas.[]

 

Kontributor: Sumaryanti

Editor          : Bima Indra

The subscriber's email address.