Lompat ke isi utama
Dian Saputri (12) tergolek di atas tumpukan kayu di dapur rumahnya

Penyandang Disabilitas Di Daerah Pelosok Belum Tersentuh Layanan Kesehatan

Boyolali, Solider.or.id – Potret penyandang disabilitas yang masih jauh dari perhatian masih ditemukan di pelosok Kabupaten Boyolali. Dian Saputri (12) yang tinggal di Kayen Baru RT. 25, Desa Kayen, Kecamatan Juwangi sehari-harinya tergolek di rumahnya.  Di pelosok desa yang berjarak  sekitar 40 KM dari pusat kabupaten gadis kecil penderita cerebral palsy ini hanya bisa mengandalkan sang nenek mengurusi semua kebutuhannya.

Terlahir prematur di usia kandungan 30 minggu dengan hanya berbobot setengah kilogram membuat bayi Dian membutuhkan perawatan medis yang intensif. Sayangnya hal ini tidak didapatkannya, kondisi ini menyebabkan  gadis kecil ini tidak tumbuh dengan baik. Minimnya layanan kesehatan yang diperoleh membuat kondisinya semakin memburuk. Jika gadis kecil lain sebayanya sibuk mengenyam sekolah setiap harinya, dia hanya tergolek di atas tumpukan kayu di dapur rumahnya.

Sehari-hari Dian dan kedua adiknya diasuh sepenuhnya oleh sang nenek Sukinem. Ayah mereka pergi  meninggalkan rumah sejak beberapa tahun yang lalu, sedangkan ibu mereka bekerja sebagai pelayan restoran dan hanya pulang seminggu sekali. Perempuan paruh baya ini  sehari-harinya juga bekerja sebagai petani dan peternak.  Tuntutan ekonomi membuat Sukinem tidak bisa selalu mendampingi cucunya di rumah.  

Di malam hari, Dian tidur di kamar  dengan kasur yang diberi pelapis. Sementara dari pagi hingga sore hari sang nenek terpaksa meninggalkan gadis kecil ini sendirian berbaring di atas tumpukan kayu yang terletak di dapur. Hal ini dilakukan semata-mata demi kepraktisan. Dengan cara ini, lebih mudah membersihkan sisa buang air sulung dari 3 bersaudara ini. Padahal di sebelah tumpukan kayu ini terdapat kambing peliharaan keluarga mereka.  Meski hanya di siang hari, pola perawatan ini berpotensi membahayakan keselamatan gadis kecil ini karena kambing yang berada di dekatnya bisa melukai.

Sampai usia ini Dian memang belum bisa melakukan aktivitas sehari-hari, dia hanya bisa memberi isyarat ketika haus, lapar atau ingin mandi.  Pola komunikasi yang terbentuk membuat sang nenek bisa memahami bahasa tubuh yang disampaikan cucunya.

 “Kami sedang mengusahakan kursi roda supaya Dian bisa lebih mandiri,” ungkap Sabihis, pendamping dari PPRBM Surakarta  Jumat (12/4).  Saat ini memang gadis kecil ini dalam tahap awal pendampingan dari PPRBM Surakarta. Menurut Sabihis selain kursi roda, gadis kecil yang kerap tertawa ketika dikunjungi ini juga butuh therapy sehingga kemampuannya meningkat.

Kondisi daerah yang jauh dari pusat kota, juga pengalaman penduduk yang masih terbatas membuat nasib penyandang disabilitas terpinggirkan. “Perbedaan kondisi antara penyandang disabilitas yang berada di daerah perkotaan dan daerah pelosok sangat jauh,” lanjut Sabihis. Di daerah pelosok seperti ini penyandang disabilitas nyaris tidak mendapat layanan  kesehatan. Lain halnya dengan penyandang disabilitas yang tinggal di daerah perkotaan atau setidaknya dekat perkotaan. Perlakuan yang diterima Dian bukan karena keluarganya tidak menyayanginya, namun karena ketidaktahuan mereka. Dengan dukungan dari pihak-pihak terkait diharapkan penyandang disabilitas yang tinggal di pelosok daerah juga mampu mengakses layanan yang tersedia guna meningkatkan taraf hidup mereka.

The subscriber's email address.