Lompat ke isi utama
ilustrasi penggunaan bahasa isyarat

Keunikan Bahasa Isyarat

Solider.id - Setiap manusia yang lahir di muka bumi ini pasti mempunyai keunikannya masing-masing. Pada kondisi umum manusia memiliki anggota tubuh yang lengkap sesuai dengan keberfungsiannya, intektual dan mental serta alat indera atau sensorik yang mampu berfungsi dengan normal sebagai mana mestinya. Namun ada sebagian manusia yang terlahir dengan kondisi berbeda secara fisik maupun intelektual yang menjadikan mereka sebagai disabilitas. Tertuang dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas pasal 1 angka 1 dijelaskan bahwa Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, mental, dan sensorik dalam jangka waktu lama yang mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga lainnya berdasarkan kesamaan hak (UU RI No. 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Hak-Hak Penyandang Disabilitas). Penyandang disabilitas atau difabel memiliki keterbatsan secara fisik maupun mental untuk mendapatkan pemenuhan hak sehingga sering kali mereka kesulitan untuk berpartisipasi aktif di tengah aktivitas kalangan masyarakat.

 

Berdasarkan Undang-Undang, terdapat lima kategori disabilitas, yakni fisik, intelektual, mental, sensorik, dan ganda/multi. Berdasarkan data berjalan 2020 dari Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,5 juta atau sekitar lima persen dari total penduduk. Dari data yang didapatkan maka bisa diketahui bahwa masih cukup banyak jumlah penyandang disabilitas di Indonesia yang mana memerlukan perhatian yang lebih agar mereka mampu memenuhi keberlangsungan hidupnya.

 

Secara historis awal terjadi kepada anak disabilitas rungu mengalami kesulitan dalam berbahasa yag kini istilah itu telah bergeser menjadi tuli atau orang dengan hambatan mendengar dan berbicara. Sulit dipahaminya wicara pada anak tuli merupakan hasil dari beberapa faktor, diantaranya karena ketidakmampuan membedakan nada dan juga masalah yang berkaitan dengan struktur bahasa.

 

 Disabilitas memiliki berbagai ragam, diantaranya terdapat disabilitas fisik, intelektual, mental, dan sensorik. Pada disabilitas fisik masih terdapat beberapa jenis diantaranya disabiltas daksa (kelainan tubuh), disabilitas netra (Kelainan Indra Penglihatan), disabilitas tuli (Kelainan Pendengaran), disabilitas wicara (Kelaianan Bicara) dan disabilitas ganda. Terkhusus kepada disabilitas tuli adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen sehingga memiliki kondisi hanya sebagian yang berfungsi dan seluruhnya tidak dapat mendengar.

 

Keunikan difabel tuli terlihat ketika mereka menggunakan bahasa isyarat dalam berkomunikasi kepada seseorang non difabel maupun sesama tuli. Tentunya ada penggunaan bahasa khusus ketika berkomunikasi kepada difabel tuli. Di Indonesia sendiri, terdapat dua jenis bahasa isyarat yang digunakan. Pertama adalah Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO dan kedua adalah Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI). Bagi masyarakat awam, keduanya memang tampak sama. Namun demikian, baik BISINDO maupun SIBI ternyata memiliki pengertian yang berbeda. Isyarat SIBI merupakan bahasa isyarat yang diadopsi dari American Sign Language (ASL). Bahasa isyarat yang satu ini biasanya lazim dipakai di Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk berkomunikasi antara guru dan siswa maupun antar siswa. Meskipun merupakan bahasa isyarat yang direkomendasikan oleh pemerintah, banyak yang berpendapat bahwa SIBI ini lebih sulit karena mengandung kosakata yang baku dan rumit. Sedangkan Isyarat BISINDO adalah bahasa yang biasa dipakai oleh orang-orang tuli sejak kecil. Boleh dibilang bahwa BISINDO ini adalah bahasa alami yang mudah dicerna oleh sesama tuli atau ketika digunakan untuk berkomunikasi dengan orang non difabel.

 

Seorang sarjana psikologi dari kampus Universitas Brawijaya Kota Malang sekaligus juru bahasa isyarat (JBI) bernama Ni Ketut Desy Ariani mengatakan ketika menerjemahkan suatu bahasa ke dalam bahasa isyarat tidak hanya menggunakan gerak tangan, namun juga mimik wajah atau ekspresi. Juru bahasa isyarat bertugas menerjemahkan bahasa penutur ke dalam bahasa isyarat ataupun sebaliknya.[]

 

Penulis  : Choirul Anam. F.R.

Editor          ;  Bima Indra .

Sumber Referensi :

The subscriber's email address.