Lompat ke isi utama
ilustrasi anak difabel

Tumbuhkan Keberanian Diri Anak Difabel Sedari Dini

 

Solider.id, Yogyakarta - Enam bulan terakhir, ada perubahan sikap yang terjadi pada P. Bocah yang biasanya bercerita setiap peristiwa yang ditemui. Apakah dibully, dicubit, atau kegiatannya di sekolah. Tiba-tiba memilih diam. P adalah gadis kecil berumur 12 tahun. Lahir dengan hambatan pendengaran (tidak total). Gadis ini, memiliki kemampuan membaca gerak bibir dan berbicara, meski terkadang tidak jelas.

 

Entah mengapa, sering kali P terlihat gelisah. Bahkan sampai pukul empat pagi, tidak bisa tidur. Ketika ditanya sang ibu, dijawab, “tak apa-apa kog mak,” tiru Mujiati, ibunda P. Padahal, lanjut Mujiati, sebelumnya apa saja itu diceritakan. Apakah diejek “P P budheg…. [tuli_red], P P goblog… [bodoh_red]. Bahkan dicubit anak umur 6 tahun pun, biasanya cerita.

 

Yang lebih aneh lagi, timpal Nana, kakak pertama P, setiap pagi, dia menuju pinggir kali. Duduk diam dan melamun, itu yang dilakukannya. Dia akan pulang ke rumah kalau dipanggil. Terkadang bocah yang masih duduk di bangku kelas lima sekolah dasar itu menangis tanpa sebab.

 

Hingga suatu siang, Nana melihat P dibonceng sepeda motor oleh seorang laki-laki, tetangganya. Kejadian tersebut dilaporkan pada sang ibu. Sontak Mujiati menuju rumah tetangga tersebut, guna memastikan keberadaan putrinya. Tak mendapat petunjuk, di perjalanan pulang Mujiati bertemu teman-teman P. Dari para bocah itu, diperoleh cerita kalau P sudah beberapa kali dibonceng sepeda motor oleh S.

 

Mencari petunjuk

Dengan perasaan tak menentu, ibu lima orang anak itu pulang. Secara kebetulan bertemu dengan S yang hanya mengenakan celana pendek dengan kaos ditaruh dipundak. “P kamu bocengkan dan ajak ke mana?” tanya Mujiati, “Saya tidak memboncengkan P kog, hanya ketemu di pasar pakaian,” Mujiati menirukan jawaban S.  “Yoh,” satu kata Mujiati. Dia sadar, dirinya tidak mendapatkan petunjuk yang dia cari. Dia tak punya cukup bukti untuk bertanya lebih jauh.

 

Mujiati pun meneruskan langkah untuk pulang ke rumah. Setibanya di rumah, dijumpainya P putrinya juga sudah tiba di rumah. Pelan-pelan dia tanya, “tadi dibonceng motor sama S ya? pergi ke mana? Mamak tahu lhooo….”. Dia berharap putrinya tidak menyangkal kalau pergi bersama S, dan berani berkata jujur.

 

“Mamak tahu to?” jawab P. “Tadi ke rumah temannya pak S, ke rumah kos-kosan warna hijau, bayar Rp 20 ribu,”  lanjut P. “Terus ngapain?” “Tidak apa-apa kog mak”. Dari percakapan dengan putrinya, Mujiati mulai gundah. Tapi tak sanggup lagi memaksa putrinya bercerita lebih lanjut.

 

Mujiati mencoba meminta tolong pada tetangga untuk pelan-pelan bertanya apa yang terjadi pada P putrinya. Akhirnya P mengaku bahwa dirinya telah diperkosa oleh S. Laki-laki beristri dan memiliki beberapa anak. S tak lain tetangganya sendiri.

 

Bagi disambar petir di siang hari, mendapati pengakuan anaknya. Sakit hati Mujiati. Dia marah besar, naik pitam dan tak terima putrinya diperlakukan tidak manusiawi. Mujiati yang mengalami polio pada kaki kirinya itu spontan masuk rumah. Mengambil pedang menjadi tujuan. Sambil berteriak-teriak histeris, “S… kowe kudu mati ning tanganku, [S… kamu harus mati di tanganku-red]”.

 

Setelah kemarahannya bisa diredam oleh para tetangganya. Dan pedang pun telah disembunyikan Nana, putri pertamanya. Mujiati didampingi Nana dan dua orang tetangganya mendatangi rumah S. Sempat terjadi pemukulan, sampai akhirnya S dibawa ke rumah Ketua RW.

 

Baca Juga: Pentingnya Terapi untuk Tumbuh Kembang Anak

Penetapan tersangka

Dalam interogasi Ketua RW, S yang seorang pemulung itu tetap saja tidak mengakui perbuatannya. Namun pak RW mengatakan, bahwa S harus menjelaskan semua di depan polisi, yang akan datang sebentar lagi. S yang ketika itu mengenakan celana pendek, minta izin untuk berganti celana panjang karena akan bertemu polisi.

 

Tanpa curiga, permintaannya diizinkan. Setelah ditunggu 30 menit tak juga muncul, kecurigaan pun timbul bahwa S melarikan diri. Benar saja, dipastikan  di rumahnya, S sudah tidak ada. Peristiwa itu terjadi pada 17 Agustus 2022. Hingga saat wawancara dengan solider.id, Minggu (18/9/2022) S, masih belum juga ditemukan. Dia menjadi target pencarian orang (DPO) oleh Kepolisian Resot Kota Besar (Polrestabes) Yogyakarta.

 

Kasus pemerkosaan yang dialami P sudah ditangani dan didalami UPT PPA Polrestabes Kota Yogyakarta. Tertangkap dan dipenjara selama-lamanya, adalah harapan Mujiati dan keluarganya.

 

Sekali lagi Mujiati terus berupaya melalui berbagai cara agar dapat menemukan pelaku pemerkosa yang hingga kini masih buron. “Sakit sekali! Anak yang saya lahirkan dan besarkan. Saya rawat dan jaga dengan hati-hati, dengan semena-mena dicabik-cabik harga dirinya! Betul-betul kurang ajar! Pantas mati itu orang!” kalimat kemarahan Mujiati.

 

Sebagaimana dilansir pada laman www.timesindonesia.co.id Kasi Humas Polresta Yogyakarta, Timbul Sasana Raharjo mengatakan bahwa Polrestabes memastikian, perkara pemerkosaan tersebut telah naik ke tahap penyidikan dan menetapkan tersangka yang saat ini melarikan diri.

 

Beda pola asuh

 

Muji mengaku bersyukur, bahwa kini P sudah mulai dapat sedikit ceria. Pasca mendapat penanganan psikolog dan pendampingan, P mulai bisa terlihat tenang, kata Mujiati. Dia mulai bisa tidur, lanjutnya.

 

Kepada Solider.id, Mujiati mengaku mendidik keras, mendidik militer, dalam Bahasa dia. Tetapi kepada P, memang diperlakukan berbeda. Kondisi P yang kurang mendengar, dan kecil hati, membuat Muji memberikan perlakukan yang berbeda.

 

“Barangkali karena hal itu, P tidak tumbuh menjadi pemberani sebagaimana ketiga kakak perempuan dan seorang adik lak-lakinya. Beda pola asuh, ternyata beda juga hasilnya. Apa boleh buat,” ucapnya lirih. Dukungan dan kelapangan dada menerima apa pun kondisi P disepakati oleh Muji, sang suami Bibit Subekti dan anak-anak mereka.

 

Tumbuhkan keberanian anak

Lingkungan sosial dan pergaulan merupakan salah satu hal yang berpengaruh pada pembentukan diri anak. Walaupun orangtua sudah bagus dalam mendidik anak, ia bisa saja tumbuh menjadi tidak baik, jika berada dalam pergaulan yang buruk. Hal tersebut disampaikan oleh Atika Dian. Salah seorang psikolog yang bertugas di Puskemas wirobrajan, Yogyakarta.

 

Maka dari itu, lanjutnya, sangat penting bagi orangtua untuk melakukan berbagai cara demi melindungi anak dari pergaulan yang berpengaruh buruk untuknya. Mulai dari memasukkannya ke lingkungan sosial yang positif, mengenal siapa saja temannya, hingga memberikan pemahaman tentang pertemanan yang baik.

 

Apabila rasa percaya diri anak tumbuh dengan baik maka perkembangan diri dan kemandiriannya pun akan baik pula. Masa kanak-kanak adalah masa bermain dan belajar. Si Kecil pun harus berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Dengan rasa percaya diri dan keberanian maka proses bersosialisasi akan berjalan makin lancar.

 

Tips menumbuhkan keberanian pada anak pun disampaikannya. Yakni dengan cara: (1) memberi motivasi pada anak, (2) menggali potensi anak, (3) anak diajak mencoba hal baru, (4) anak diberi tanggung jawab, (5) memberi apresiai atas sekecil apapun capaian anak, (6) membangun hubungan dan komunikasi yang baik, serta (7) memberi contoh.

 

“Keberanian dan rasa percaya diri harus dipupuk dan ditanamkan sejak dini oleh kedua orangtua. Hal ini, agar anak siap menghadapi segalanya di masa mendatang,” pungkas Atika.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

editor     : Ajiwan Arief   

The subscriber's email address.