Lompat ke isi utama
ilustrasi garamin NTT

Peran Garamin NTT dalam Mendukung Program SOLIDER-INKLUSI

Solider.id, Yogyakarta – Dalam acara sosialisasi Program INKLUSI yang didukung oleh Pemerintah Australia dan Bappenas yang digelar Kamis (14/9) kemarin di Ruang Asisten Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Acara ini dihelat dalam rangka memperkenalkan program Inklusi dan mitra kerjanya di wilayah NTT. Sebab NTT sendiri merupakan satu dari banyak wilayah yang menjadi sasaran program.

 

Berti Soli Dima Malingara dari Garamin (Gerakan Advokasi Transformasi Disabilitas untuk Inklusi) NTT, menyebutkan bahwa Inklusi sendiri sebenarnya memiliki 8 mitra yang salah satunya adalah SIGAB Indonesia. Sebagai mitra yang membawa isu kesetaraan difabel lewat pembentukan kelompok difabel desa sebagai upaya pemberdayaan difabel. Selain mitra, Inklusi juga memiliki sub mitra atau lembaga lokal yang berperan secara langsung di lapangan. Lembaga lokal ini turut dilibatkan karena memang dinilai lebih memahami kondisi yang terjadi.

 

Adapun Lembaga lokal yang ada di NTT terdiri dari Garamin, Bumi Lestari, PKPM, PKBI, Serikat PEKKA, YKS dan UDN (Ume Daya Nusantara). Sedangkan lembaga lokal yang bekerja sama langsung dengan SIGAB  Indonesia terkait perjuangan hak-hak difabel dalam hal akses layanan dasar adalah Garamin NTT. Garamin sendiri rencananya akan memfokuskan diri di Kabupaten Kupang dan Rote Ndao sebagai wilayah program.

 

Berti menyebut jika Garamin NTT merupakan lembaga yang baru dibentuk 2 tahun lalu. Kendati usianya baru seumur jagung, namun kiprah Garamin sebagai organisasi lokal yang memperjuangkan hak difabel sudah memiliki kontribusi yang besar. Mulai dari melakukan pelatihan, penelitian dengan menempatkan difabel sebagai pelaku. Advokasi ke pemerintah, hingga bantuan respon Covid-19 seperti vaksinasi dan BLT.

“Selain itu, Garamin juga memiliki mimpi mewujudkan desa inklusi karena kenyataan pahit bahwa mayoritas teman-teman difabel di NTT tinggal di wilayah pedesaan. Sayangnya mereka sering mendapatkan stigma dan perlakuan diskriminatif dari masyarakat,” ujarnya.

 

Oleh karena itu, Berti menggarisbawahi bahwa Garamin tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan jejaring dengan berbagai pihak untuk sama-sama mewujudkan desa inklusi. Maka melalui Program Inklusi bersama dengan SIGAB, Garamin mencoba menggapai impiannya tersebut. Impian yang sebenarnya menjadi impian banyak pihak untuk membuat NTT menjadi provinsi inklusi, mulai dari desa-desa.

 

Dalam Program Inklusi ada tiga hal yang akan dikerjakan. Pertama adalah fokus membangun desa inklusi. Dari desa inklusi, ada beberapa kegiatan yang telah dilakukan Garamin seperti workshop identifikasi permasalahan, sosialisasi aksesibilitas, pembentukan dan pendampingan kelompok difabel desa (KDD). Sedangkan untuk kedepannya akan fokus pada upaya pendekatan dan pengenalan tools penganggaran dan pendataan difabel.

“Saya rasa ini adalah momen yang tepat karena disaat yang sama, pemerintah nasional juga sedang gencar-gencarnya mengimbau kepada pemerintah provinsi dan kabupaten untuk memastikan bahwa setiap difabel harus memiliki identitas diri,” tuturnya lagi.

 

Kedua adalah fokus mendukung akses ketenagakerjaan bagi difabel angkatan kerja. Adapun langkah-langkah yang ditempuh Garamin dengan menggelar workshop strategi penanganan buruh migran, FGD pengembangan sdm difabel, dan membangun kedekatan yang intens dengan pemerintah untuk membentuk ULD ketenagakerjaan. Harapannya agar ULD bisa menjembatani difabel pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja.

 

Ketiga adalah fokus pada akses keadilan dan sosialisasi kesadaran hukum melalui sosialisasi kepada difabel dan kelompok marjinal, tentunya dengan menggandeng instansi penegak hukum seperti Polda dan Polres. Sebab pada praktiknya, banyak difabel mengalami kekerasan dan bingung harus melapor kemana. Selanjutnya adalah melalui kegiatan pelatihan paralegal bagi KDD sehingga pada titik ini diharap difabel memiliki kapasitas dalam memberikan bantuan hukum.

“Dengan adanya kerja-kerja kolaboratif ini, kami berharap agar semua pihak turut mendukung gerakan menuju NTT yang inklusif ini. Kami yakin ketika NTT telah bertransformasi menjadi provinsi inklusif maka manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat difabel saja, melainkan seluruh masyarakat tanpa terkecuali,” pungkasnya.[]

 

Reporter: Bima

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.