Lompat ke isi utama
pelatihan aksesibilitas di bantul

Pentingnya Pemahaman Aksesbilitas yang Ramah Difabel di Kabupaten Bantul

Solider.id, Bantul - Selasa (13/9), SIGAB bersama dengan stakeholder Kabupaten Bantul mengadakan acara sosialisasi aksesbilitas Publik yang ramah difabel. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperkuat inklusi sosial, kesetaraan dan hak-hak difabel, terkhusus dalam hal aksesbilitas. Sebab di luar sana masih banyak bangunan publik yang nyatanya belum ramah terhadap difabel.

 

Pramono Murdoko sebagai perwakilan SIGAB, mengucapkan rasa terimakasihnya kepada Setda kabupaten Bantul yang telah mendukung terlaksananya kegiatan ini. Menurut Pramono, penting bagi pemerintah daerah untuk memahami pentingnya mengenali apa itu aksesbilitas dalam pembangunan gedung. Di lain sisi karena memang sudah ada undang-undang yang mengatur terkait difabel  di tingkat daerah yaitu Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2021 sebagai perubahan dari Perda Nomor 11 Tahun 2015 tentang Pemenuhan Hak-Hak difabel.

 

Kegiatan sosialisasi aksesibilitas publik kali ini menyasar pimpinan instansi, kepala dinas, dan Panewu di Kabupaten Bantul. Tentunya kegiatan ini juga selaras dengan niat baik Bupati Bantul yang tertuang pada misi ke-5 nya, yaitu mendukung terpenuhinya hak-hak difabel sebagai wujud komitmen tidak ada satupun warga negara yang ditinggalkan dalam pembangunannya.

 

Salah satu dari pembangunan itu adalah fasilitas publik yang bisa diakses oleh semua, tidak hanya kaum difabel tetapi juga ibu hamil dan lansia. Sebab seyogyanya kita tidak boleh membeda-bedakan fasilitas publik dan harus memahami kebutuhan yang dimiliki difabel.

 

Pada sosialisasi ini turut mendatangkan Narasumber yaitu Wijang Wijanarko dari Tenaga Ahli Penanganan Pasca Bencana dari Kementerian PUPR dan juga Tenaga Ahli Pusat Studi Aksesibilitas CUDD (Center for Universal Design and Difabilities) UGM. Dalam penjelasannya, Wijang berbagi pengalaman tentang isu aksesibilitas, terutama tentang universal desain. Serta fakta bahwa dulu difabel acapkali dipanggil dengan istilah penyandang cacat, walaupun kini istilah itu sudah bergeser menjadi difabel.

 

Sementara itu, terkait aksesibilitas sebenarnya telah ada petunjuk teknis yang mengatur seperti yang tertuang pada Peraturan Menteri PUPR No 8 Tahun 1998 yang isinya tentang standar-standar teknis fasilitas yang diperuntukan untuk difabel itu seperti apa dan untuk apa. Petunjuk teknis ini ada sebagai wujud penegasan penghormatan hak-hak difabel dalam aspek aksesibilitas.

 

Tidak hanya itu, proses teman-teman difabel untuk mencari keadilan juga belum difasilitasi karena gedung tempat beraktivitas seringkali tidak akses. Sebagai contoh tidak adanya rump untuk pengguna kursi roda, toilet yang aksesibel dengan closet duduk, pintu masuk toilet yang kurang lebar untuk pengguna kursi roda dan orang yang berbadan besar sehingga cenderung menyulitkan saat akan masuk ke toilet.

Untuk itu, Wijang menekankan kepada peserta bahwa kita harus membangun paradigma universal desain. Artinya desain bangunan yang bisa dipakai oleh siapapun dengan mengubah sudut pandang bahwa setiap orang berhak menikmati ruang. Sebab selama ini kita sering salah paham dalam memandang suatu karena dipengaruhi kebiasaan. Kebiasaan itu selama ini menjadi masalah yang sangat besar dan jika dilembagakan dan terus diulang-ulang seolah-olah menjadi suatu kebenaran.

“Seringkali ketika ada pengguna kursi roda yang kesulitan mengakses suatu tempat karena lebih tiggi, kita cenderung akan membantu mengangkat mereka bersama kursi rodanya dengan alasan kasihan. Padahal apabila situasi ini dilihat dari sudut pandang si pengguna kursi roda, mereka cenderung merasa kurang nyaman dengan keberadaan orang lain di kanan kirinya, yang mereka inginkan sebenarnya hanya tempat yang akses sehingga mereka bisa melakukan secara mandiri, ” jabarnya

 

Pada poin ini, Wijang mengajak peserta untuk berpikir kritis dalam melihat sesuatu dari kontekstual dan tekstualnya, dengan mengubah paradigma kita yang hanya mengandalkan berdasarkan kebiasaan yang diulang-ulang. Paradigma itu harus dihilangkan guna memberikan pandangan yang luas bahwa sebenarnya difabel tidak perlu dibeda-bedakan karena kondisi fisik karena mereka sebenarnya memiliki kemampuan setara. Itulah alasan dibalik istilah difabel (different Ability).

“Prinsip mobilitas fisik itu berdasarkan kemampuan sosial, berdasarkan paparan dari Reach, Enter, Circulate dan Use, yang harus bisa menuju , mencapai, memasuki, menggunakan semua fasilitas umum agar memenuhi asas Aksesbilitas. Serta harus memberikan kemudahan, kegunaan, keselamatan, kemandirian untuk teman difabel," pungkas Wijang.[]

 

 

Reporter: Yanti

Editor     : Bima Indra

The subscriber's email address.