Lompat ke isi utama
foto mendiang Fahmi

Mengenang Fahmi, Mahasiswa Difabel dengan Segudang Prestasi

Solider.id, Yogyakarta – Jumat (9/9) lalu, Muhammad Fahmi Husaen, Mahasiswa D4 Prodi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak Universitas Gadjah Mada  (UGM) Angkatan 2020, dinyatakan meninggal dunia pada pukul 09.00 pagi di RS Akademik UGM. Jenazah langsung diberangkatkan menuju rumah duka yang berlokasi di Dadapan, Turi, Sleman. Baru kemudian sorenya pukul 16.00 langsung dikebumikan di pemakaman setempat.

 

Mendiang merupakan difabel fisik karena DMD (duchenne muscular dystrophy) atau penyakit pengurangan fungsi otot sehingga diseparuh hidupnya harus dihabiskan di atas kursi roda. Mendiang sendiri merupakan anak sulung dari pasangan Murtandlo dan Anik Marwati. Dua dari tiga adiknya juga merupakan difabel fisik akibat DMD.

 

Kendati jasadnya telah tiada, namun karya dan dedikasinya akan tetap terkenang hingga kapanpun. Pria yang semasa hidupnya akrab disapa Fahmi itu memiliki segudang prestasi. Mulai dari perolehan medali perak Seoul International Invention Fair Korea 2018, 2 medali emas dari ajang PKM, Pemuda Difabel Berprestasi Kemenpora 2019, dan sederet prestasi lainnya.

 

Baca Juga:Ujicoba Aplikasi Accessive.id, Cara Mudah Difabel Temukan Tempat Aksesibel 

 

Tak hanya soal akademik, mendiang turut aktif menjadi anggota UKM Peduli Difabel UGM. Bersama UKM, mendiang turut berkontribusi dalam  upaya menciptakan UGM menjadi kampus inklusif. Hal itu diawali ketika mendiang yang merupakan seorang difabel fisik merasa kampusnya belum memiliki bangunan yang ramah untuk difabel. Acapkali mendiang sebagai pengguna kursi roda kesulitan dalam mengakses ruang perkuliahan dan praktikum. Akhirnya, mendiang memulai advokasi permasalahan tersebut di Sekolah Vokasi UGM.

 

Hal tersebut tidak berhenti di situ saja. Advokasi berlanjut ke tingkat universitas karena memang mendiang beserta rekan-rekannya merasa kurangnya aksesibilitas di fasilitas-fasilitas lain di kampus. Upaya tersebut mendapat dukungan dari stakeholder UGM karena memang kala itu pihak mereka juga sedang mengusung visi kampus yang lebih inklusif. Perjuangan advokasi inilah yang membawa berdirinya POKJA Disabilitas UGM sebagai cikal bakal terbentuknya ULD atau entitas yang berperan memonitor pemenuhan hak-hak difabel di UGM.

 

Sebelum meninggal, mendiang sempat membangun sebuah perusahaan rintisan bernama accessive.id yang berfokus pada penyediaan informasi aksesibilitas suatu tempat. Informasi yang dimaksud adalah seputar toilet akses, guiding block, ramp/bidang miring, dll. Informasi itu tentunya akan bermanfaat bagi orang dengan hambatan fisik seperti difabel, lansia, dan ibu hamil. Dengan demikian, adanya informasi ini dapat mempermudah perencanaan aktivitas mereka. Mereka jadi lebih paham, mengenai bagaimana gambaran aksesibilitas yang ada.

 

Atas segala pencapaian tersebut, Muhammad Karim Amrullah, S.H, M.H., dosen UNY sekaligus salah satu pendiri UKM Peduli Difabel UGM, mengatakan bahwa Fahmi merupakan sosok pemuda difabel yang pintar, aktif, dan memiliki mental juang yang begitu kuat. Selaku mantan seniornya di UKM, ia berpendapat bahwa Fahmi memiliki semangat yang lebih hebat dari pada kemampuan raganya.

“Fahmi menunjukkan bahwa siapapun berhak dan mampu untuk berinovasi, bergaul, dan berjuang baik untuk diri sendiri maupun sesama manusia khususnya disabilitas. Fahmi akan terus kita kenang sebagai sosok yang inspiratif, sebagai simbol perjuangan kita semua khususnya UKM Peduli Difabel UGM,” pungkasnya.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.