Lompat ke isi utama
Garuda Indonesia Masih Setengah Hati Penuhi Janjinya

Garuda Indonesia Masih Setengah Hati Penuhi Janjinya

Yogyakarta, solider.or.id - Sepulang dari training jurnalistik yang diadakan oleh Sigab di Hotel Galuh Prambanan bersama dengan kelima belas peserta lainnya, pada Selasa (26/3), penulis berangkat ke Bandar Udara Adisucipto Yogyakarta untuk pulang ke Jakarta, bersama dengan Binti Chofifah, Erlina Marlinda, dan M. Sonni Sandra, yang juga kontributor solider.or.id.

            Karena Erlina Marlinda difabel yang menggunakan kursi roda, dan M. Sonni Sandra juga merupakan difabel penglihatan, maka saya berdua dengan Binti Chofifah membantu mereka berdua untuk melakukan check-in di bandara tersebut. Kebetulan keduanya menggunakan penerbangan Garuda Indonesia dan transit ke Jakarta dahulu, sehingga satu pesawat, dan baru terpisah di Jakarta nanti karena Erlina akan ke Aceh, sedangkan Sonni ke Makassar.

            Sebelumnya pada training jurnalistik Sigab di hari terakhir kami sudah diberitahukan mengenai tidak berlakunya lagi surat sakit oleh Garuda Indonesia oleh Cucu Saidah, yang sudah melakukan upaya Advokasi dengan cara mengirimkan petisi dan somasi melalui www.change.org/SupportSaidah dan saat ini telah menang dan menerima 1.762 tanda tangan dukungan. Sehingga kami semua mengetahui bahwa sebagai difabel kami bisa menolak untuk menandatangani Surat Pernyataan Sakit, bahkan seharusnya pihak Garuda sudah tidak boleh memberikan Surat tersebut sama sekali kepada penyandang disabilitas karena dinilai diskriminatif terhadap hak-hak difabel.

            Namun pada saat kami melakukan proses check-in, petugas ground yang ditugaskan menjadi pendamping Erlina Marlinda menunjukkan Surat Pernyataan Sakit dan meminta Binti Chofifah untuk menandatanganinya selaku pendamping Erlina. Namun Binti menolaknya, dan mengatakan "Langsung meminta saja kepada yang bersangkutan.". Maka petugas tersebut membawa surat dan menghampiri Erlina, pada saat itu Erlina didampingi oleh Sonni di belakangnya, dan langsung berkata

            “Bukannya Surat tersebut tidak berlaku lagi, kita ini difabel, bukan orang sakit.” Ujar Sonni.

            Petugas tersebut masih berusaha untuk menjelaskan kepada Sonni dan Erlina mengenai Surat pernyataan sakit tersebut yang harus ditandatangani agar mendapatkan pelayanan dari Garuda Indonesia. Namun Sonni dan Erlina terus menolak untuk menandatangani Surat tersebut, hingga akhirnya petugas check- in meminta Surat Pernyataan Sakit tersebut dan mengatakan kepada petugas ground untuk tidak usah memintanya.

            Dan pelayanan terhadap Erlina dan Sonni kembali dilanjutkan oleh petugas ground, seperti memberikan label Fragile kepada kursi roda Erlina dan memberikan pendamping seorang lagi untuk mendampingi Sonni. Barang bagasi keduanya juga sudah diproses, dan akhirnya mereka berdua dibantu oleh pendamping masuk ke ruang tunggu dan langsung dibawa ke pesawat Garuda yang sudah siap take off.

            Memang Garuda Indonesia telah memberikan janji untuk menghapuskan Surat Pernyataan Sakit tersebut, dan Cucu Saidah selaku inisator petisi dan beberapa teman difabel lainnya telah merasakan perbedaan pelayanan yang lebih adil kepada para difabel dan sudah tidak disodori surat itu lagi. Namun sepertinya dalam pihak Garuda Indonesia sendiri, informasi tersebut belum cukup tersebar dan dipahami oleh petugas ground, sehingga masih saja ditemukan petugas yang memberikan Surat Pernyataan Sakit kepada difabel yang akan naik pesawat Garuda.   

            Jelas perlu pengawalan dari kita bersama atas proses perubahan pelayanan penerbangan oleh Garuda yang lebih ramah dan adil terhadap penyandang disabilitas. Dan secara sederhana dapat kita laporkan melalui twitter mereka di https://twitter.com/IndonesiaGaruda atau hotline sms di 0274.3158000

 

Testimoni oleh Ahmad Arib Alfarisy

The subscriber's email address.