Lompat ke isi utama
pertemuan FKDB

Metamorfosis FKDB dan Meluasnya Jaringan Kerja Sama

Solider.id, Surakarta- Di pengujung bulan Mei lalu, dengan difasilitasi oleh Ida Putri, seorang teman yang juga pegiat isu difabilitas, sampailah kami di sekretariat Forum Komunikasi Difabel Boyolali (FKDB) yang terletak di Desa Klowor, Kecamatan Kemusu Kabupaten Boyolali. Tempat itu terletak di sabuk hijau, tepatnya di pinggir Sungai Serang, hulu dari Waduk Kedungombo. Hanya beberapa langkah saja, tidak lebih dari lima puluh langkah, bangunan sekretariat FKDB yang kemudian bermetamorfosis menjadi Kresna Patra yang juga rumah kediaman Sri Setyaningsih, sang ketua, ada beberapa orang tampak asik memancing ikan.

 

Hari itu, di sekretariat FKDB sedang ada helatan bertajuk halal-bihalal yang dihadiri para penjahit dan anak didik pelatihan penjahit, relawan difabilitas, serta beberapa orang penting, pemangku kebijakan, “pejabat di dinas” atau saat ini disebut Organisasi Perangkat Daerah. Undangan yang diajukan oleh Sri atas nama FKDB menurut keterangannya, hanya dikirim via WhatsApp dan langsung ditanggapi positif. Bahwa pertemuan di hari kerja itu akan mereka hadiri.

 

Benar saja, ketika jam menunjuk pukul 11 siang, beruntun para petinggi OPD tersebut hadir. Tampak Kepala Dinas PUPR Kabupaten Boyolali, Plt Kepala Dinas Sosial, Kepala Dinas Koperasi dan Tenaga kerja, Lurah Desa Klewor, Camat Kemusu, dan beberapa kabid. Terakhir adalah kehadiran Kepala Dinas Kesehatan, dr. Puji Astuti yang merupakan pembina FKDB.

 

Dalam hati saya berdecak kagum, seorang Sri Setyaningsih sebagai Ketua FKDB berhasil mendatangkan para kepala OPD dalam situasi dan acara yang sangat cair, bahkan tanpa urutan dan jadwal acara, mereka santai saja, berdiskusi sambil menyantap hidangan tongseng dan gule kambing serta ikan hasil memancing di sungai.

 

Banyak yang mereka bicarakan, dari capaian gerakan komunitas, sampai program-program yang menyasar kepada difabilitas. Seperti yang disampaikan oleh Sri bahwa belum lama ini Bupati Boyolali menyerahkan tiga kios di Taman Indrokilo untuk dikelola oleh komunitas difabel FKDB Mojosongo. Juga diberikan pula satu kios di Desa Manggung, Kecamatan Ngemplak dan satu kios di Desa Ketitang, Nogosari. Sedangkan untuk UMKM FKDB Kecamatan Banyudono, diberikan satu kios di rest area jalan tol. Belum lagi, difabel juga akan diberikan porsi partisipasi pada pembangunan alun-alun Cepogo. Untuk memudahkan koordinasi antar FKDB di kecamatan, sekretariat tingkat pusat pun juga sudah terfasilitasi dengan diberikannya ruang di Gedung Loka Bina Karya (LBK) Kabupaten Boyolali. Bahkan di salah satu ruangan di bidang satu dinas sosial, ada seperangkat meja kerja yang diperuntukkan bagi koordinasi FKDB.

 

Dengan terbentuknya Unit Layanan Disabilitas (ULD) di Dinas Koperasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Boyolali, yang mengangkat Sri Setyaningsih dan Ida Putri sebagai pengurus ULD, maka seperangkat alat kerja seperti komputer, printer dan lainnya telah tersedia. 

 

Kemudian, untuk rencana barang apa saja yang akan dipajang dan dijual di kios Taman Indrokilo? Dengan koordinasi para pegiat di Kecamatan Mojosongo, usaha penjualan produk UMKM tersebut akan memajang produk olahan, souvenir dan rumah makan. Mereka menempati kios-kios tersebut dengan gratis alias tidak membayar uang sewa, namun bermodal yang diupayakan sendiri atau oleh komunitas.

 

Menurut Sri, setiap FKDB kecamatan mendapat dana operasional sebanyak satu juta yang dananya berasal dari APBD II. Dengan ketersediaan etalase yang sudah disiapkan, pihaknya berharap ruang pamer produk UMKM difabel tersebut segera terwujud. Termasuk yang dibicarakan dalam diskusi informal tersebut adalah bagaimana jika sekretariat Kresna Patra sebagai tempat kursus menjahit dipindah di lain tempat, yang bukan di sekretariat yang sekarang karena berada di area sabuk hijau dan masih berada di wilayah Desa Klowor, Kecamatan Kemusu.

 

Diskusi yang cukup cair dan sangat akrab tersebut kemudian memusat kepada program-program selanjutnya yang akan dilakukan oleh masing-masing OPD yang akan melibatkan partisipasi difabel secara aktif. Termasuk membicarakan dan menawarkan kepada Sri dengan Kresna Patra-nya untuk dijadikan Lembaga Pendidikan dan Kursus (LPK) yang memiliki legalitas.

 

Memahamkan Difabel Terlebih Dahulu untuk Memengaruhi Lingkungan

Menurut Sri Setyaningsih, saat ini jumlah difabel di Kabupaten Boyolali adalah 7.800 orang. FKDB sebagai komunitas memiliki beberapa program kegiatan yakni advokasi, pemberdayaan, edukasi dan pelatihan. Pealtihan yang dilakukan tidak hanya bersifat hardskill namun juga softskill. Ketika mengakses program-program pemerintah dan OPD, teman difabel memakai nama FKDB, namun ketika bekerja sama dengan pihak ketiga/swasta terutama jika ada pelatihannya, maka mereka menggunakan kelompok Kresna Petra sebagai pusat pelatihan menjahit.

 

Jauh hari sebelum bekerja sama FKDB juga pernah menjadi mitra dari USAID Indonesia dengan program mitra kunci inisiatif yang mengangkat isu keterampilan dan kesempatan kerja bagi difabel. Baru kemudian kerja sama dengan pihak lain terjalin yakni PT. Pertamina dan PT. Pan Brother.

 

Dalam kerja samanya dengan para pihak swasta, Kresna Patra yang memiliki anggota para difabel yang berfokus kepada bidang jahit sudah melakukan pelatihan penjahitan sebanyak lima kali dan dalam setiap angkatan diikuti oleh peserta yang berbeda dan berjumlah 10-15 orang.

 

Tidak hanya melatih difabel yang siap kerja, Kresna Patra juga melakukan advokasi dalam mengakomodir pekerja difabel di perusahaan-perusahaan tersebut. Dalam satu tahun ini, ada ada 15 difabel yang bekerja sebagai penjahit di PT. Pan Brother. Sedangkan peserta pelatihan penjahitan di Kresna Patra tidak hanya difabel saja tetapi masyarakat yang dalam perspektif Dinas Sosial, masyarakat yang memiliki masalah kesejahteraan sosial (PMKS). 

 

Dalam berkegiatan, FKDB bukan tidak memiliki hambatan, karena terkait koordinasi dan konsosliadasi antar kecamatan, Sri dan kawan-kawan juga memerlukan mobilitas tinggi dan tidak semua wilayah bisa terakses dalam satu waktu. Jadi selama ini untuk akses mobilitas dan sebagainya mereka bekerja sama dengan Peduli Anak Yatim Boyolali (PAYB) dan IDCC.

 

Secara internal organisasi, FKDB melakukan pelatihan-pelatihan untuk peningkatan kapasitas dan kepemimpinan. Dan sejak awal, sangat ditekankan kepada anggota FKDB untuk menghindari pendekatan berbasis charity.

 

Sri Setyaningsih tidak hanya mengajar pada pelatihan penjahit, namun ia juga menjadi petugas lapangan yang tahu benar latar belakang keluarga difabel yang hendak mencari kerja dan ketika mendampingi korban kecelakaan harus tahu bagaimana, apa yang akan dilakukan dan bagaimana keluarganya. Pun ketika mendampingi difabel polio bagaimana nanti adaptasinya, termasuk kepada difabel mental psikososial.

 

Bahkan ketika mendampingi untuk dianter ke perusahaan disampaikan pula bagaimana ragam difabilitas calon pekerja tersebut kepada pihak perusahaan. Ia akan mengatakan kepada pihak calon pemberi kerja kendalanya seperti ini, hambatannya seperti ini, dan sang difabel peluangnya bekerja di bagian ini, apakah masih ada peluangnya tidak? Kalau memang belum ada dan belum dibutuhkan di perusahaan tersebut maka difabel tersebut belum mendapatkan kesempatan kerja.  

“Aku kalau mengajar ya tegas, bisa aja obeng kulempar, beneran melayang, kamu mau keluar silakan, kamu nggak jadi ikut silakan, karena saya tidak butuh melatih orang yang ke sini coba-coba alias tidak serius,” tegas Sri. Ketika dalam pelatihan misalnya ditemui kendala listrik mati atau mesin jahit ada yang rusak, maka ia pilih menempel kertas plano dan mengajak berdiskusi peserta pelatihan. Dari diskusi akan diketahui apa hambatan mereka, keluhan mereka, siapa yang mereka benci, apa yang mereka harapkan, semua ditulis di kertas plano.

 

Dan ketika selesai sesi penjahitan, biasanya Sri mengajak mereka ke tempat wisata dengan membawa seperangkat alat jahit. Di hadapan masyarakat atau pengunjung Sri akan menguji para peserta untuk bisa menjelaskan apa saja yang telah diberikan sebagai bekal pelatihan. Dengan begitu ia juga memberikan pelatihan berbicara di depan publik dan melatih difabel untuk percaya diri. “Jadi sebelum mereka masuk di pabrik sudah diperhadapkan dengan publik. Biar mereka tidak ada rasa minder,” terang Sri.

 

Ia menegaskan kembali bahwa yang terpenting ketika mendampingi difabel ini adalah melakukan asesmen kebutuhannya dia apa terkait mesin jahit apakah ketika di pabrik, dia bisa mengakses mesin jahitnya tidak. Salah satu contoh baik yang ada di Kabupaten Boyolali, Sri menjalankan komunikasi aktif dengan pihak pemberi kerja.

Setelah memberi pemahaman dan penguatan terlebih dahulu kepada difabel calon pekerja, dan melakukan komunikasi secara intens dengan pihak pemberi kerja, yang diharapkan selanjutnya adalah akses yang mengikuti, misalnya pemenuhan akomodasi yang layak.

 

Menurut Sri, sama pentingnya melakukan advokasi yang berasal dari dalam dan luar.  “Dia (difabel calon pekerja_red) bagaimana di pabrik nanti, apakah sudah memiliki rasa percaya diri belum, apakah sudah mengenal dengan baik kemampuan dan kecakapannya belum, itulah yang memengaruhi lingkungan agar peduli pada dia. Jadi intinya memahamkan dulu tenaga kerjanya,”pungkas Sri yang memiliki cita-cita ingin kuliah di Fakultas Hukum, setelah dinyatakan lulus paket C di tahun 2019 lalu.[]

 

Reporter  : Puji Astuti

Editor    : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.