Lompat ke isi utama
peserta IMA Sedang berfoto bersama

Tempo Institute Gelar Independent Media Acceleratior

Solider.id, Yogyakarta – Independent Media Acceleratior (IMA) merupakan upaya mencari cara baru bermedia yang digagas oleh Tempo Institute. Dalam pelatihan ini telah terjaring 20 peserta terbaik dari sekitar 160 media pendaftar di seluruh Indonesia yang memiliki profil dan ide menarik menurut panitia. 

 

Media yang terpilih berhak mengikuti pelatihan hybrid secara daring dan luring untuk kembali berkompetisi memenangkan seleksi fellow program IMA. Untuk jadwal pelaksanaannya, secara daring mulai 15 hingga 19 Agustus 2022. Sedangkan untuk luring dan seleksi akhir akan digelar pada 22 hingga 24 Agustus 2022 di Hotel IBIS Tamarin Jakarta guna mengikuti pendalaman materi tentang kualitas jurnalis, transformasi digital dan model bisnis.

 

Peserta yang telah terpilih ini datang dari berbagai daerah dengan beragam jenis dan bentuk media. Diantaranya: media komunitas, media umum, media TV, media jurnalisme warga hingga bentuk komik. Mereka akan mengikuti akselerasi, lalu mengusulkan proposal ide perbaikan media dengan pendanaan dari IMA dan merealisasikannya dalam waktu 2 bulan.

Independent Media Accelerator merupakan upaya kita untuk mencari dan menemukan bersama bentuk baru dan cara baru bermedia,” ungkap Direktur Tempo Institute, Qaris Tajudin, dalam sambutanya membuka kegiatan daring, Senin pagi (15/8).

 

Kegiatan ini merupakan inisiasi Tempo Institute bersama Aliansi Jurnalis Independen, Asosiasi Media Siber Indonesia, Google News Initiative, dan Kominfo. Harapannya media digital baru ini  dapat melalui  tantangan disrupsi teknologi dengan mulus.

 

Disampaikan Qaris, di sektor media saat ini, orang masih mencari-cari bentuk dan model bisnisnya. Ada tiga hal yang menjadi sorotan, yaitu: (1) Kualitas Jurnalisme. Kualitas jurnalisme dinilai menurun, kehadiran digital mendorong orang beradu cepat dan banyaknya memproduksi berita demi google analitik. (2) Model bisnis. Dulu orang rela mengeluarkan uang demi mengetahui informasi, kini sulit sekali untuk menjual berita. Banyak konten  ekslusif prodak media yang mudah disebar dengan dibagikan berulang atau di screenshot. (3) Dirupsi teknologi. Menggunakan multimedia tentu akan berbeda dengan menggunakan media konvensional.

 

Dirupsi teknologi ini yang sedang coba untuk diatasi, melalui kegiatan ini dapat dicari, dirunuskan bentuk baru bermedia. Bahkan memungkinkan untuk dikembangkan agar media mampu mengatasi persoalan tersebut.

“Saya selaku perwakilan dari Solider.id  merasa bangga terpilih jadi salah satu peserta pelatihan IMA ini,” ungkap Ajiwan Arief Hendradi, Redaktur Solider,id.

 

Ia berharap dengan mengkuti kegiatan tersebut, medianya semakin berkualitas baik dari sisi manajemen maupun konten, bahkan dari sisi kemanfatan bagi masyarakat luas.

“Isu difabel masih harus terus disuarakan, isu yang dianggap kelompok termarginalkan dan butuh ruang-ruang atau media atau platform untuk meyuarakannya agar masyarakat menjadi awere, sadar, menjadi tahu, menjadi terpikirkan tentang bagaimana perlindungan dan hak masyarakat difabel,” pungkas ia.

 

Dalam pelatihan ini, dari 20 media yang telah terpilih akan diseleksi lagi menjadi 10 media dan kemudian disaring menjadi 5 media yang nantinya akan berhak mendapatkan fellow program IMA.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

 

 

 

The subscriber's email address.