Lompat ke isi utama
kunjungan komunitas difabl ke artjog

Memetik Inside dari Kunjungan Komunitas Difabel dalam Exhibition Tour ArtJog 2022

Solider.id, Yogyakarta - Matahari berjalan tinggalkan siang yang menyengat, membakar kulit. Hadirkan sore dengan udara yang lebih bersahabat. Sore itu, Selasa (3/8) pukul tiga, bertepatan dengan datangnya puluhan difabel dari berbagai komunitas yang memasuki halaman Jogja National Museum (JNM). Sebuah gedung peninggalan atau warisan budaya (heritage) di kota Yogyakarta. Tempat diselenggarakannya festival seni rupa kontemporer ArtJog 2022.

 

Menghadiri ArtJog Exhibition Tour menjadi tujuan. Sebuah program edukasi yang diagendakan pada penyelenggaraan ArtJog tahun ini. Bahwa ArtJog tidak hanya menjadi wadah bagi para seniman berkarya. Namun juga mendekatkan karya seni yang dipamerkan dengan publik. Exhibition Tour. Sebuah sarana edukasi, memberi ruang bagi siapapun tak ketinggalan difabel, untuk dapat menyaksikan pameran sekaligus mendapatkan penjelasan tentang karya yang dipamerkan.

 

Kesigapan para pemandu pameran tampak di sana. Seorang pemandu pameran dengan sigap mengambilkan kursi roda, bagi difabel dengan cerebral palsy dari Panti Asuhan Bina Siwi. Lalu mendorongnya dari satu titik pameran ke titik lain. Saat menuju ruang pamer di lantai dua maupun lantai tiga, empat orang pemandu mengangkat kursi roda dan penggungannya.  JNM, gedung heritage itu memang belum menyediakan lift maupun jalan miring (ramp). Karenanya, mengangkat kursi roda dan penggunanya menjadi satu cara, agar pengguna kursi roda dapat mencapai setiap sisi ruang pamer.

 

Demikian pula, kepada Wildan dan Taufiq, dua orang difabel netra, tottaly blind atau buta total. Dua orang pemandu segera mengulurkan tangannya untuk digaet oleh Wildan dan Taufiq. Sedang bagi pengunjung tuli, pada exhibition tour sore itu disediakan juru Bahasa isyarat (JBI). Lalu, seluruh pengunjung difabel diajak mengelilingi ruang pamer. Mereka diberikan informasi dan pengetahuan terkait konsep dan konteks dari karya-karya yang ditampilkan.

 

Baca Juga: Pembukaan ARTJOG MMXXII, Perluasan Kesadaran Melalui Kesenian

 

Sebagaimana disampaikan Direktur ArtJog Heri Pemad, bahwa mendorong kesenian sebagai media untuk melampaui berbagai batasan, sebagaimana tema  expanding awareness diwujudkannya. Tema inklusivitas diusung pada pameran kali ini. Berbagai karya yang melibatkan anak-anak, difabel, juga transgender, adalah bukti. Ada karya yang bisa diraba. Dengan demikian totally blind dapat menikmati pameran begengsi tersebut. Ada pula karya dalam bentuk audio, serta audio visual.

Kepada solider.id, Wildan mengaku mendapatkan masukan (inside) dan pembelajaran terkait proses penyelenggaraan even pameran berskala internasional itu. “Ternyata untuk menghasilkan karya seni rupa, tak serumit yang saya bayangkan. Bulu ayam, sabut, benang, ternyata bisa menjadi sebuah karya. Karya yang dipamerkan di ruang pamer bertaraf internasional. Saya sangat terisnpirasi,” ujar Wildan.

 

Membuka kesadaran

Sedangkan Gading Narendra Paksi, Direktur Program ArtJog yang sekaligus menjadi pemandu saat exhibition tour mengaku masih harus banyak belajar. Dia juga mengatakan bahwa, baru pertama kali menjadi guide bagi pengunjung difabel. “Ketika kami berkoar-koar ini even untuk semua orang, ternyata belum untuk semua orang, ini yang paling menohok buat kami. Bicara kesetaraan, keunggulan infrastruktur, gedung ini belum dilengkapi infrastruktur yang mendukung. Tapi ini di luar kapasitas kami,” ujarnya.

 

Dia juga mengatakan bahwa mengundang difabel bukan karena mereka difabel. Tetapi karena karya mereka yang memang bagus. Dia contohkan karya dari Jogja Disability Arts (JDA) dan Bhawayang. Semua karya mereka bagus, keseniman mereka juga baik, kata dia. Bahkan diakuinya pula, banyak mendapat masukan dari para seniman difabel. Tentang bagaimana penyelenggara menemani difabel.

 

Demikian pula dengan Sarah Raihana, Tim Edukasi Program, yang kali itu menjadi gaet  pengunjung difabel netra. Pada project pilot ini, dia mengatakan memang masih banyak kekurangan. Dia berharap pameran yang akan datang akan lebih baik. Terkait infrastruktur menurut dia itu adalah tanggung jawab negara, bukan ArtJog. “Saya selalu antusias, bersemangat, apa nih yang bisa dipelajari. Sebagai penyelenggara apa yang bisa kita evaluasi, urgensi apa yang harus diberikan solusi,” demikian ujarnya.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor    : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.