Lompat ke isi utama
bahasa siyarat istilah hukum

Istilah Hukum dan Layanan Pengadilan dalam Bahasa Isyarat

Solider.id – Difabel berhadapan dengan hukum bukan lagi sebuah fenomena baru. Masyarakat difabel tergolong rentan mengalami tindak kasus kekerasan, bahkan semakin marak terjadi. Mereka secara umum sebagai korban pun, mulai bersedia mengungkap dan menindaklanjuti kasusnya melalui prosedur hukum yang berlaku hingga menempuh ranah pengadilan.

 

Sebagai warga negara yang memiliki kesamaan hak hidup untuk mendapatkan perlindungan dari negara, mereka wajib mendapatkan bentuk layanan pengadilan yang setara dengan warga lain. Salah satu kewajiban  aparat penegak hukum adalah menyediakan aksesibilitas dan akomodasi yang layak selama proses peradilan berlangsung, sesuai dengan kebutuhan difabel yang sedang berhadapan dengan hukum. Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 39 tahun 2020 tentang Akomodasi yang Layak bagi Penyandang Disabilitas dalam Proses Peradilan.

 

Akses komunikasi dan informasi menjadi hal penting yang menunjang kelancaran selama proses hukum berlangsung. Ragam komunikasi yang bisa digunakan seperti dalam bentuk lisan, tulisan, braille, bahasa isyarat, alat peraga, gambar dan lainnya.

 

Pemenuhan akomodasi yang layak di pengadilan 

Istilah hukum berkaitan dengan pengadilan yang mudah dipahami difabel juga dapat menjadi sarana komunikasi yang tepat. Seperti contoh pada difabel Tuli yang harus berhadapan dengan hukum, jenis istilah hukum dalam bahasa isyarat mulai diperkenalkan.

Mulai di-launching 15 Juli 2022 bersamaan dengan pembukaan pelatihan pengadilan atau sekolah pengadilan inklusif ketiga secara online, kamus istilah hukum dan layanan di pengadilan dalam format bahasa isyarat Yogyakarta yang digagas oleh Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak  (SAPDA) terus disosialisasikan dalam bentuk video yang diunggah lewat platform youtube.

Rini Rindrawati divisi Women Disability Crisis Center (WDCC) SAPDA memaparkan belajar dari pengalamannya, ada kekosongan hukum dan istilah yang berterkaitan dengan hal itu. Sedangkan kebutuhan pengadilan tidak bisa menunggu. Meski belum sempurna, timya berusaha membantu untuk memberi panduan.

“Disahkan dan dibakukan, belum. Semoga setelah teman-teman melihat hal ini memberi warna terkait hukum dan pengadilan,” ungkap Rani.

 

Baca Juga: Menyiapkan Akomodasi Layak bagi Difabel dalam Proses Peradilan

Timnya yang juga bergerak di penanganan kasus, merasa memerlukan istilah hukum dan layanan di pengadilan saat mendampingi difabel tuli. Selain kebutuhan pendamping bagi difabel, JBI, akses istilah hukum yang mudah dipahami juga sangat penting.

“Videonya sudah bagus dan hampir lengkap, saya suka, itu sangat membantu,” respon Raka difabel Tuli.

 

Perlunya bahasa isyarat dalam istilah hukum

Dalam prosesnya, istilah-istilah terkait hukum dan pengadilan sudah diolah sejak 2015 silam bersama para difabel Tuli dan Juru Bahasa Isyarat (JBI). Namun, belum terealisasikan hingga ada kesempatan bekerja dengan pengadilan-pengadilan. Kebutuhan kamus kembali muncul seiring masih ada kekosongan istilah hukum yang belum juga terisikan.

 

Bekerja dengan pengadilan tentu saja memerlukan usaha dan kerja keras. Banyak upaya yang sudah ditempuh, seperti melakukan pelatihan-pelatihan baik offline dan online. Misal dalam mengenalkan terkait ragam difabilitas, tentang apa dan siapa mereka, apa hambatan dan kebutuhan spesifik saat mereka perlukan di pengadilan.

“Tentu saja dengan menghadirkan ragam difabelnya. Mengenalkan ragam difabel sensorik Runguwicara dan Tuli, salah satu yang muncul adalah kebutuhan bahasa isyarat. Kami selalu berusaha menghadirkan JBI untuk berkomunikasi dengan mereka, termasuk saat dengan pengadilan. Bahkan menghadirkan difabel Tuli dan JBI sebagai narasumber,” papar Rani.

 

Selama proses pembuatan kamus istilah hukum dan layanan di pengadilan tersebut juga muncul pertanyaan dari pihak pengadilan yang menyampaikan mereka belum tahu bahasa isyarat dan mereka ingin mengetahuinya.

“Kami juga sarankan pihak pengadilan untuk menghadirkan teman Tuli. Kami melibatkan difabel Tuli dan JBI dalam kamus ini,” kata Rani.

 

Dengan menghadirkan istilah-istilah hukum dan pengadilan, menjadi satu upaya praltik baik untuk memberikan akses kelancaranan berkomunikasi saat ada difabel tuli yang sedang berhadapan dengan hukum.

“Harapannya pihak pengadilan tahu istilah-istilah hukum dalam bahasa isyarat dan dapat berkomunikasi,” ucap ia.

 

Pembuatan kamus bahasa isyarat istilah hukum dan pelayanan di pengadilan yang digagas, SAPDA mengacu pada apa yang berkembang di komunitas atau latar dari difabel Tuli. Masih banyak istilah hukum yang belum ada bahasa isyaratnya.

 

Sosialisasi yang terus ditempuh

Secara lingkup kecil sosialisasi yang ditempuh langsung ke dua puluh delapan pengadilan-pengadilan negeri yang menjadi dampingan atau mitranya. Melalui pelatihan timnya menyampaikan informasi kamus tersebut hingga ke Mahkamah Agung (MA).

“Belum mendapatkan informasi adanya kasus yang masuk ke pengadilan terkait teman tuli. Belum ada infonya dari pengadilan sejak kamus ini di-launching-kan. Secara umum, saat ada kasus yang melibatkan difabel tuli, dan menghubungi layanan SAPDA, kami juga selalu melibatkan JBI Tuli maupun JBI Dengar. Kami berusaha membantu pengadilan dan sistem hukum dalam pemenuhan hak masyarakat difabel yang berhadapan dengan hukum. Terutama pemenuhan akomodasi yang layak di peradilan, sesuai amanah Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 dan PP 39 Tahun 2020,” Rani merangkan.

 

Istilah hukum dan pelayanan di pengadilan yang ada di kamus tersebut antara lain: ‘Cerai. Dokter. Duduk. Eksepsi. Fotokopi. Ganti rugi. Gedung. Hakim ketua. Hakim anggota. Hukum. Identitas. Juru sumpah. Jaksa agung. Kasir. Keluarga. Korban. Korupsi. Lantai 2. Lapor. Loket. Melanggar. Pencatat. Online. Pelayanan terpadu satu pintu. Pembelaan. Penasehat hukum. Pendaftaran. Pendamping disabilitas. Pengacara. Pengadilan agama. Pengadilan militer. Pengadilan negeri. Pengadilan tinggi. Penggugat. Penilaian personal. Penjara. Pemohon. Psikiater. Psikolog. Putusan. Ruang kesehatan. Ruang sidang. Saksi. Tahanan. Tenang. Termohon. Tuduhan. Tunggu.’ Diperagakan Fikri Muhandis dalam bahasa isyarat Yogyakarta.[]

 

Reporter: Srikandi Syamsi

Editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.