Lompat ke isi utama
pembentukan KDKPalbapang

Cerita Kalurahan Palbapang Bentuk Kelompok Difabel Desa

Solider.id, Yogyakarta-  Kalurahan Palbapang merupakan salah satu daerah di kabupaten Bantul yang cukup strategis. Letaknya tak jauh dari pusat di kabupaten Bantul. Berada di sisi selatan pusat pemerintahan kabupaten membuat daerah ini tumbuh menjadi Kawasan yang progresif. Bukan berarti meninggalkan nilai tradisional dan berkiblat pada segala sesuatu yang modern, karakteristik masyarakat sekitar menjadi ciri bahwa daerah ini mudah menerima perubahan dan menerima keberagaman. Bermula dari hal tersebutlah, daerah ini amat berpotensi menjadi kalurahan yang inklusif, yang dapat menerima berbagai keberagaman, permbedaan, dan kesetaraan.

“Kelompok difabel menjadi sarana bagi warga difabel untuk bisa bersama-sama menggali potensi yang ada dalam dirinya. Kalurahan Palbapang menyatakan kesiapannya untuk menjadi kalurahan yang inklusif”. Penyataan tersebut disampaikan oleh Lurah Palbapang Sukirman, S.H. dalam sambutannya di pertemuan pembentukan kelompok difabel kalurahan (KDK) yang diinisiasi oleh SIGAB Indonesia  melalui Program SOLIDER-INKLUSI pada hari Kamis (7/7) silam. Acara tersebut dihelat di ruang pertemuan kalurahan. Hadir sebagai peserta sekitar 18 perwakilan difabel dewasa, anak-anak yang didampingi oleh orangtua dan wali difabel. Mereka juga bersepakat untuk melakukan pembentukan kelompok difabel di Kalurahan Palbapang.

 

Purwanto sebagai Ulu-ulu (pelaksana teknis pembantu lurah bidang pembangunan) Kalurahan Palbapang, memberikan pemahaman bahwa saat ini tengah terjadi pergeseran cara pandang masyarakat dalam melihat difabel. Sebelumnya masyarakat masih memandang difabel dengan kacamata belas kasihan, namun kini telah berubah menjadi cara pandang berbasis hak. Hal itu juga dibarengi dengan penggunaan istilah penyandang cacat yang saat ini telah berganti menjadi penyandang disabilitas atau istilah lainnya difabel. Dengan pemahaman ini diharapkan masyarakat atau dukuh tidak menjadi bingung dengan istilah pelabelan difabel.

 

Purwanto yang juga merupakan aktivis difabel ini juga menyampaikan bahwa melalui paguyuban ini diharapkan difabel dapat menyampaikan gagasannya terkait kebutuhan-kebutuhan mereka. Misalnya bidang kesehatan, pendidikan, hingga pekerjaan melalui musyawarah padukuhan. Kemudian dibawa ke musyawarah tingkat kalurahan dan seterusnya. Sebab yang memahami kebutuhan difabel adalah si difabel.

 

Hal ini selaras dengan pentingnya Kelompok Difabel Kalurahan (KDK) untuk segera dibentuk berdasarkan paparan oleh Kuni Fatonah selaku Koordinator Program SOLIDER-INKLUSI. KDK dibentuk agar difabel memiliki wadah sebagai sarana untuk belajar berorganisasi, tempat belajar menggali potensi difabel dan aspirasi sebagai wujud keterlibatan difabel dalam perencanaan pembangunan.  Mengingat difabel merupakan warga negara yang memiliki hak sama seperti warga negara lain. Maka keterlibatan difabel dalam perencanaan pembangunan perlu terus didorong.

 

Salah seorang peserta Bernama Ade menyampaikan harapannya terhadap KDK, “Semoga anggota kelompok kompak, semua bisa mendapat pekerjaan, jadi mandiri, bisa percaya diri, difabel dilibatkan musyawarah,” pintanya.

 

Sementara itu, mayoritas peserta yang hadir dalam pertemuan kali ini memiliki harapan agar kelompok yang terbentuk nantinya bisa berkembang, dapat memperoleh keterampilan, sebagai media peningkatan kemampuan, serta dapat mengakses layanan dasar seperti kependudukan dan akses layanan lainnya.

 

Kendati, KDK Palbapang belum memiliki nama, namun diharapkan kedepannya kelompok ini dapat dilegalkan melalui SK (Surat Keputusan) yang diterbitkan oleh pemerintah kalurahan agar setara dengan kelompok lainnya. Serta dapat memperoleh dana untuk mendanai pertemuan rutin. Berdasarkan kesepakatan peserta, struktur organisasi terdiri dari ketua pengurus yaitu Rosyid (difabel polio) yang kesehariannya bekerja sebagai PNS di Dukcapil Kabupaten Bantul. Selain itu untuk wakil ketua dijabat oleh Atun sebagai orangtua difabel yang juga aktif sebagai kader desa. Untuk jabatan lain seperti sekretaris dijabat oleh Ade (difabel paraplegi), bendahara yaitu Mujiyem (orangtua difabel), dan humas yaitu Barjinah (orangtua difabel).

 

KDK yang baru terbentuk ini memiliki harapan untuk segera mewujudkan perekaman E-KTP bagi difabel yang usianya mendekati 17 tahun, baik secara kolektif maupun secara perorangan dengan mengajukan melalui Disdukcapil. Berdasarkan informasi Rosyid, ketua KDK terpilih dan sekaligus PNS di Disdukcapil menyampaikan, “Disdukcapil bisa memberikan layanan dengan mendatangi secara langsung lokasi rumah-rumah difabel yang memiliki hambatan mobilitas. Perekaman E-KTP bisa dilakukan sebelum menginjak usia 17 tahun dan akan terbit ketika genap 17 tahun.” imbuhnya.

 

Kelompok difabel Kalurahan menjadi tonggak perwujudan inklusivitas dari tingkat bawah. Lewat kerja-kerja dan program yang strategis, masyarakat difabel jadi semakin berdaya dan bermanrtabat serta turut berperan dalam pembangunan, diawali dari tingkat hierarki pemerintahan paling bawah.[]

 

Reporter: Tutik

Editor     : Bima Indra, Ajiwan Arief

The subscriber's email address.