Lompat ke isi utama
kerjasama Sigab dan AISIYAH untuk difabel berhadapan dengan hukum

Kerjasama Sigab - Aisyiyah dalam Penanganan Perkara Perempuan, Anak dan Difabel Berhadapan dengan Hukum

Solider.id, Surakarta - “Bicara masalah hukum di Indonesia masih miris,” ungkap Muhammad Da’i Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Surakarta ketika memberikan sambutan pada Seminar Nasional Perempuan dan Anak dengan Disabilitas Berhadapan dengan Hukum di Auditorium Moh. Djazman, Surakarta (14/7).

 

Da’i menyoroti perlindungan terhadap warga negara seharusnya tidak pandang bulu sehingga kesetaraan hukum dapat terwujud, terlebih pada penyintas perempuan, anak dan difabel.

 

Sementara itu, Atiyatul Ulya, ketua Majelis Hukum dan HAM (MHH) Aisyiyah Pusat mengungkap bahwa MHH telah mempunyai pos-pos bantuan hukum di 25 provinsi di Indonesia yang sudah melakukan pendampingan litigasi dan non-litigasi untuk korban perempuan, anak dan difabel.

 

Terkait tantangan penanganan kasus, Ulya menyatakan bahwa keluarga korban difabel tak jarang abai atau tidak memperhatikan anggota keluarga difabel yang mengalami tindak kekerasan.

 

Baca Juga: Tantangan APH Menyingkirkan Kerentanan Difabel Berhadapan dengan Hukum

Masyitoh Chusnan, ketua PP Aisyiyah, memperkenalkan HiDiMu atau Himpunan Disabilitas Muhammadiyah dengan ujung tombak mahasiswa difabel dan alumni UMJ Magister. HiDiMu adalah bentuk penghormatan kepada difabel karena mengakui keragaman serta kesempatan yang sama bagi difabel memperoleh Pendidikan dan Kesehatan.

 

Seminar ini diselenggarakan oleh Sigab Indonesia bekerjasama dengan Aisyiyah dan didukung oleh DRF. Sebagai penutup sambutan, Purwanti, selaku koordinator advokasi Sigab Indonesia  melihat gerakan-gerakan kecil dalam kerjasama Sigab – Aisyiyah ini adalah laboratorium untuk akses keadilan difabel berhadapan dengan hukum yang masih perlu banyak diselesaikan dari segi penggunaan perspektif difabel.

 

Purwanti atau yang lebih akrab disapa Ipung ini berharap apa yang dilakukan Aisyiyah merawat umat dan masyarakat di wilayah akar rumput berbasis keagamaan ini dapat melibatkan perempuan, anak dan difabel didalamnya.

 

“Ini sangat penting untuk konsep diri, kemaslahatan dan akses perlindungan mereka,” ujar Ipung.

 

Difabel membutuhkan dukungan perlindungan terhadap risiko terjadinya kekerasan, baik Kekerasan Seksual, kekerasan fisik, nonfisik, maupun penelantaran keluarga. Ipung menambahkan bahwa semakin tinggi tingkat kedifabilitasannya maka semakin tinggi kerentanan yang dihadapi, baik akses perlindungan hukumnya, akses penjaminan agar tidak terjadi kekerasan dan akses HAM.

 

Oleh karenanya, Ipung berharap Sigab Indonesia dan Aisyiyah dapat bergerak dan berjejaring bersama untuk advokasi, penanganan dan perlindungan kelompok rentan, termasuk perempuan difabel dan anak difabel.[]

 

Reporter: Alvi

Editor     : Ajiwan Arief  

 

 

The subscriber's email address.