Lompat ke isi utama
aplikasi wiguna payment

Wiguna Mahayasa, Melaju dengan Start Up Digital Payment

Solider.id - Industri 4.0 yang bergerak dan memelesat cepat, membuka begitu banyak peluang bagi pelaku bisnis startup digital. Mereka yang dapat membaca situasi dan kondisi akan mampu menjawab permasalahan orang-orang, kemudian maju membawa ide dan gagasan untuk menawarkan jasa dan produk mereka.

 

Itulah yang dilakukan oleh I Made Prasetya Wiguna Mahayasa, seorang difabel netra asal Denpasar Bali. Ia masih berstatus sebagai mahasiswa yang tengah menempuh tahun terakhirnya di Universitas Negeri Malang, jurusan pendidikan luar biasa Fakultas Ilmu pendidikan.

 

Putra dari pasangan Ni Nyoman Suriani dan I Putu Whidiadnyana Mahayasa ini sekarang  menjabat sebagai Chift Executive Officer (CEO) dari PT Mahayasa Teknologi Nusantara. Wiguna, begitulah panggilannya. Ia mendirikan perusahaan itu bersama seorang temannya, Rila Ayu Agnes Indarwati pada Desember 2021 silam.

 

Bermula pada tahun 2019 lalu, Ketika Wiguna ingin mendapatkan penghasilan tambahan sewaktu ia berkuliah di Malang. Lelaki kelahiran 11 Maret itu menjalankan semua pekerjaan yang memungkinkannya untuk mendapatkan penghasilan, mulai dari membuka les musik, menawarkan jasa pijat, serta menjual produk digital seperti Pulsa, paket data, token listrik, dan produk digital lain.

 

Baca Juga: Era Digital dan Kemudahan bagi Pengusaha Difabel

Semua kemudian berubah ketika pandemi datang. Wiguna harus menutup les musiknya untuk sementara, pun ia tidak bisa memijat lagi karena pembatasan sosial waktu itu. Karena perkuliahan daring, ia lantas pulang ke Bali dan menyadari bahwa dirinya juga tidak bisa berjualan produk digital sebab dia tinggal di tempat yang relatif sepi. Kedua usahanya yang lain pun tidak bisa dilanjutkan. Untuk beberapa saat, semua usaha yang dia jalankan harus berhenti di tempat.

 

Dari sana, bungsu dari dua bersaudara itu memutar otak bagaimana caranya ia menghasilkan uang melalui daring. Kemudian terpikir olehnya bagaimana caranya untuk membuat aplikasi digital payment.

“Dulu, kan, saya berjualan dengan menggunakan aplikasi orang lain. Nah, saya jadi berpikir, gimana, sih, caranya bikin aplikasi yang kayak gini?” tuturnya pada sebuah wawancara.

 

Wiguna lantas melakukan penelusuran menyoal hal tersebut dan mengikuti berbagai webinar bisnis. Bermodalkan tabungan yang ia kumpulkan dari usaha-usaha sebelumnya, lelaki kelahiran tahun 2000 itu lantas mengeksekusi ide dan gagasannya itu bersama salah seorang temannya. Kemudian, mereka meluncurkan aplikasi pembayaran digital, Wiguna Payment.

“Dari sana, saya mulai mengembangkannya, memasarkannya, berdasarkan ilmu-ilmu yang telah saya pelajari,” ujar lelaki kelahiran Denpasar Bali itu.

 

Wiguna Payment sendiri merupakan aplikasi pembayaran digital besutan Mahayasa Teknologi Nusantara. Wiguna menuturkan bahwa aplikasi ini ditujukan untuk orang-orang yang menjual produk digital seperti pulsa, paket data, token listrik, dll. Keunggulan yang ditawarkan oleh aplikasi ini, dan yang juga membedakannya dari aplikasi sejenis, yakni murahnya biaya yang diperlukan untuk melakukan transaksi dan penjualan produk digital. Pun, Wiguna juga menjelaskan bahwa aplikasi mereka inklusif untuk ragam difabel.

 

Jadi, kan, karena founder-nya difabel, kita juga ramah difabel. Kalo ada difabel yang mau gabung, mau jualan, bisa dibimbing sesuai dengan kondisi difabelnya,” tambah lelaki 22 tahun itu.

 

Aplikasi Wiguna Payment telah diunduh sebanyak 5.000 kali, dengan rating 4,6 dari 126 ulasan. Mereka sudah memiliki lebih dari 9.000 agen di seluruh Indonesia, serta omzet yang mencapai 20.000.000 perhari.

 

Siapa yang menyangka kalau mulanya hanya sekadar ingin mendapatkan penghasilan tambahan, lantas berkembang menjadi perusahaan rintisan yang menghasilkan  keuntungan berkali-kali lipat dari yang dulunya menjadi agen dari perusahaan milik orang lain?

 

Selain menjadi CEO PT Mahayasa Teknologi Nusantara, Wiguna juga menjadi owner Wiguna payment, Wiguna Homestay, Sanggar Sunar Sanggita, dan founder bantukita.org. Sekarang, lelaki yang juga dikenal sebagai cerpenis, pemusik, dan gemar menulis puisi ini tengah berada di Bali, dan sedang menyusun tugas akhirnya sebagai mahasiswa tingkat akhir sembari terus menjalankan perusahaannya.

 

Pun, Wiguna juga berpesan pada difabel lain yang tengah merintis usaha mereka. “Teruntuk teman-teman difabel lain yang memiliki usaha, jangan setengah-setengah menjalankannya. Kita juga punya kesempatan yang sama untuk bersaing dengan banyak orang diluar sana. Dan, jangan pernah menggunakan kelemahan kita untuk mendapatkan market dengan menjual rasa kasihan. Tunjukkan kualitas yang bagus supaya orang-orang datang dan percaya,” tutur lelaki asal Pulau Dewata itu.

“Sekarang, kita udah bisa belajar banyak dari webinar dan kelas belajar daring. Sudah sangat terfasilitasilah untuk belajar dan memulai. Tinggal kitanya aja yang mau ngambil apa enggak,” pungkasnya.[]

 

Reporter: Ni Komang Ayu

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.