Lompat ke isi utama
Sosialisasi program PEP ++

Potensi Program PEP++ Turunkan Angka Penularan Kusta

Solider.id, Pasuruan– Penularan kusta di kota Pasuruan masih terus terjadi hingga saat ini. Pada tahun 2021, tercatat telah ditemukan pasien baru kusta sebanyak 9 kasus dan pada tahun 2022 sebanyak 3 kasus. Mengetahui hal itu, NLR selaku organisasi nonpemerintah yang mendorong pemberantasan kusta, menyelenggarakan sosialisasi Pencegahan Pasca Paparan atau PEP++ pada Rabu (02/06/2022).

 

Sosilaisasi ditujukan bagi pemangku kepentingan di tingkat kecamatan (Camat dan Kepala Puskesmas), perwakilan orang yang pernah mengalami kusta (OYPMK) dan tokoh agama. Sosialisasi ini dilakukan untuk menjalin hubungan kerjasama, dukungan dan komitmen untuk keterlibatan semua pihak dalam pencegahan kusta. Sosialisasi ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, RSUD Dr. R. Soedarsono dan Dinas Sosial kota Pasuruan.

 

Dalam pembukaan sosialisasi ini, Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Daerah, Sekretariat Daerah Kota Pasuruan, Sahari Putro mengatakan, kagiatan ini memberi angin segar dalam menurunkan angka penularan kusta di kota Pasuruan. “Marilah kita bersama-sama mendukung dan memperkuat komitmen untuk mencegah penularan kusta, menghapus stigma maupun diskrimiasi kepada penderita kusta,” ujarnya.

 

Kegiatan pencegahan kusta ini sebagai kelanjutan dari kegiatan tahun 2015 yakni Post Exposure Profilaxis  (PEP) atau dengan nama lain Pencegahan Pasca Paparan (PPP). Menurut Ketua Tim Peneliti PEP++, Cita Rosita, perbedaan PEP++ dengan kegiatan sebelumnya terletak pada peningkatan obat tambahan yang lebih disempurnakan serta perubahan perilaku masyarakatnya tentang kusta. Pengobatan itu sendiri nantinya akan diberikan kepada kontak dari penderita kusta, baik kontak dekat maupun kontak sosialnya. “Dari hitungan statistik, program PEP++ ini kemungkinan menurunkan angka penularan kusta lebih dari 50% sampai dengan 90%,” pungkasnya, (02/06/2022).

 

Sementara itu, Ahmad Sokhib juga mengatakan bahwa dukungan dari masyarakat dan tokoh masyarakat sangatlah diperlukan untuk menyebarkan informasi bahwa program ini bertujuan mengendalikan penyakit kusta.

 

“Bukan berarti kota Pasuruan ini tempatnya kusta. Akan tetapi kota Pasuruan ini nantinya akan menjadi percontohan yang baik untuk kota-kota lain di Indonesia dalam memberantas kusta,” katanya.

 

Secara garis besarnya, tahap awal kegiatan PEP++ akan dimulai dengan melakukan kunjungan kepada penderita kusta (kasus indeks) untuk melakukan edukasi dan meminta informasi mengenai kontak dekat dan kontak sosialnya.

 

Ahmad melanjutkan, tahap selanjutnya adalah melakukan kunjungan ke para kontak dan melakukan skrining (pemeriksaan klinis) bercak. Apabila kontak dinyatakan sehat maka kontak akan langsung diberi obat pencegahan. Bagi kontak yang dinyatakan suspect (terduga) kusta, mereka akan dirujuk ke Puskesmas terdekat agar segera diberi tindakan lebih lanjut. Lalu tahap yang terakhir yaitu melakukan follow up (pemantauan) selama 2 tahun pada kontak yang telah diberi pengobatan.

 

“Intinya kita harus berusaha untuk mengendalikan kusta, agar masyarakat kota Pasuruan yang sudah sedikit kasusnya ini bisa memutus mata rantai penularan kusta. Dengan cara apa? Yaitu dengan mengobati penderita dan tetap mengobati orang sehatnya (kontaknya),” imbuhnya.

 

Kegiatan ini dilaksanakan oleh staff lapangan dari tim PEP++ yang bekerjasama dengan penanggungjawab Kusta Puskesmas serta dengan pelibatan tokoh agama, tokoh masyarakat, kader, dan lainnya yang terkait.[]

 

Penulis: Addib dan Alfat, Staff NLR wilayah Pasuruan

Editor: Robandi

The subscriber's email address.