Lompat ke isi utama
kunjungan ke Sidorejo

Perkuat Gambaran Desa Inklusi, Fasilitator Desa Kunjungi Kelurahan Sidorejo

Solider.id, Yogyakarta - Setelah 3 hari para fasilitator desa/kelurahan berproses untuk memahami berbagai materi dalam upaya meningkatkan kapasitas fasilitator, pada hari Selasa (14/6) kemarin, para fasilitator diajak dalam lawatan lapangan di Kelurahan Sidorejo, Kecamatan Lendah, Kulon Progo. Kelurahan Sidorejo sendiri dipilih karena merupakan salah satu percontohan desa inklusif dan lokasi temu inklusi 2016 lalu.

 

Rombongan SIGAB Indonesia dan fasilitator disambut hangat oleh Lurah Sidorejo yaitu Sutrisno di Balaidesa. Sutrisno memulai pembicaraannya dengan menceritakan bahwa Kelurahan Sidorejo memiliki penduduk berjumlah 8056 jiwa yang tersebar di 14 padukuhan. Dengan besaran penduduk difabel adalah 364 jiwa. Sebagian besar dari penduduk Sidorejo bermatapencaharian sebagai buruh dan petani karena wilayah yang didominasi oleh persawahan.

 

Sutrisno juga menjelaskan bahwa upaya perintisan desa inklusif bukan tanpa alasan. Perda Kab Kulon Progo no 3 tahun 2016 dan Perda DIY no 4 tahun 2012 tentang Perlindungan Pemenuhan Hak Penyandang DIsabilitas merupakan sebagian kecil mandat hukum yang melatarbelakangi terbentuknya desa inklusif di wilayahnya.

 

Baca Juga: Tumbuhkan Perspektif Difabel bagi Fasilitator Desa, Sigab Gelar

Kendati begitu, Sutrisno juga menerangkan bahwa dirinya turut menemui kendala dalam upaya perintisan ini. Hal itu dimulai dari adanya fakta bahwa banyak difabel yang tidak memiliki KK dan KTP sehingga cukup menyulitkan pihaknya dalam melakukan pendataan. Padahal kita tahu bahwa data merupakan gerbang pertama dalam mengidentifikasi permasalahan yang sedang terjadi dan tanpanya niscaya nihil menemukan hambatan yang dialami oleh masyarakat difabel.

“Oleh karenanya, tahap yang kami lakukan pertama kali adalah pendataan difabel. Kemudian dilanjutkan dengan pembentukan dan pengukuhan kelompok difabel desa melalui SK Kepala Desa tahun 2015 lalu. Semenjak KDD terbentuk, kami rutin melakukan pertemuan untuk membahas identifikasi masalah dan solusi yang dihadapi oleh difabel di Kelurahan Sidorejo,” jabarnya.

 

Lebih lanjut, setelah KDD resmi terbentuk dan gencar melakukan pertemuan. KDD mulai dilibatkan dalam musdus, muskal, atau pertemuan formal lainnya baik di tingkat padukuhan maupun kelurahan. KDD juga dituntut memberikan masukan dan evaluasi terhadap setiap kebijakan dari Pemerintah Kelurahan Sidorejo. Misalnya saja terkait aksesibilitas lingkungan di balai desa dan berbagai pelatihan peningkatan kapasitas difabel.

“Bersyukur setelah berproses dari tahun 2015, tepatnya di tahun 2018 kemarin kami resmi memiliki Perdes No 3 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Pemenuhan Hak-Hak Penyandang Disabilitas. Dalam perdes soal desa inkluisif itu dijelaskan mengenai berbagai hak yang melekat pada diri difabel sebagai masyarakat desa. Mulai dari partisipasi dalam pembangunan, kesehatan, pendidikan, hingga pendanaan,” terangnya lagi.

 

Terakhir, Sutrisno menyampaikan rasa terimakasih yang begitu dalam atas kehadiran SIGAB berikut dengan rombongan fasilitator. Ia mengaku pada momen itu menjadi kesempatan terbaik bagi dirinya dalam membagikan pengalamannya merintis desa inklusif di Kelurahan Sidorejo.

 

Ia juga berharap supaya banyak ilmu yang bisa diserap dari praktik baik di Kelurahan SIdorejo dan bisa direplikasi di desa-desa lainnya. Acara kemudian diakhiri dengan kunjungan melihat-lihat aksesibilitas yang dimiliki Kelurahan Sidorejo dan foto bersama.[]

 

Reporter: Bima Indra

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.