Lompat ke isi utama
PENTAS SENI DIFABEL PASCAPANDEMI

Sadrajat, Konser Kolaborasi Seni Difabel yang Luput dari Perhatian Media dan Masyarakat

Solider.id, Surakarta - Tembang Macapat Pocung “Ngelmu iku kelakone kanthi laku, lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, setya budya pangekese dur angkara. “(red_Ilmu bisa didapat dengan cara dilakukan, menggunakan niat, sehingga jadi kuat, berbuat tulus dan usaha yang akan mengalahkan perbuatan jahat atau tercela) disuarakan dengan jernih oleh salah seorang vokalis netra di atas panggung Gedung Wayang Orang (GWO) Sriwedari. Sebelumnya, para penonton yang memenuhi sepertiga dari kapasitas gedung dibawa terhenyak dengan suasana hipnotis ketika para penyaji seni tersebut menyanyikan lagu “Semusim” ciptaan Eros Djarot dengan iringan musik dan gamelan. Suara Trias, sang vokalis, dengan oktaf yang tinggi diiringi dengan alunan musik yang memadupadan mampu membuat suasana penonton bergeming.

 

Di tengah suasana pandemi yang kemudian terjadi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dan secara bertahap Pemkot Surakarta memberi izin kembali even outdoor seperti berlakunya kembali Solo Car Free Day mulai 22 Mei, maka geliat pertunjukan kesenian pun tampak. Seperti yang dilakukan oleh Yayasan Kesejahteraan Anak-ana Buta (YKAB) yang memiliki hajat pertunjukan seni bertajuk Sadrajat “Together for Equality”. Pagelaran ini sebagai wadah penyaluran kreativitas seni, menurut sutradara Dwi Mahendra S.Sn, yang juga pengajar seni karawitan di SLB YKAB dalam sambutannya mengatakan bahwa setiap manusia lahir ke dunia dengan memiliki berbagai kelebihan dan kekurangan, lalu berupaya dengan mengoptimalkan bakat dan kemampuan yang dimiliki lewat berkesenian adalah salah satu wujud berbudaya.

 

Sadrajat adalah pentas kolaborasi yang mengkombinasikan nada pentatonis dan diatonis berirama selaras. Konser yang didukung oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I. Yogyakarta ini adalah perpaduan seni musik, karawitan, tari dan wayang dengan para pemain semua adalah difabel yang terdiri dari mayoritas difabel netra, intelektual dan fisik. Dengan antusiasme para penonton yang terdiri dari komunitas dan keluarga pemain serta pemerhati, sepertiga kapasitas gedung terpenuhi dengan jajaran kursi berjarak, adalah hal yang patut diapresiasi. Meski hal ini seakan menjadi kekhawatiran, bahwa semakin hari, kesenian terutama seni karawitan dan wayang semakin ditinggalkan oleh masyarakat.

 

Kepada solider.id, malam itu, Minggu (22/5) Bayu Sadewo, pemain bass, menyatakan bahwa ia bahagia karena saat bermain musik tidak memiliki halangan yang berarti. Dengan durasi latihan yang hanya memakan waktu 14 hari saat bulan puasa, ia merasa bahwa konser malam itu adalah hasil dari sebuah proses yang sudah dijalaninya bersama teman-teman. Ia sebelumnya sangat ingin memiliki karya kolaborasi pentatonis dan diatonis yang sudah diimpikannya sejak lama dan konser malam itu adalah pentas yang pertama. “Memang agak susah menyatukan nada pentatonis dan diatonis, tapi bagi saya ini tantangan dan harus saya dan kawan-kawan lalui, nyatanya berhasil,” terang Bayu. 

 

Rasino, S.Sn, pengajar Seni Karawitan di YKAB usai pentas menyatakan bahwa persiapannya yang sangat minim (tidak ada satu bulan) sebenarnya bukan halangan sebab para pemain sendiri secara kapasitas diri sudah memiliki kemampuan dasar bermain musik sebab mereka secara rutin giat berlatih. Rasino bersama guru tari dan musik hanya menata dan mengkoordinir. Dan dengan alat musik sebanyak yang ada di konser malam itu, kolaborasi tersebut akhirnya terwujud. Ia berharap ke depan akan ada konser semacam ini dan bisa berkolaborasi dengan pihak lain sehingga memberikan kesempatan kepada anak-anak difabel untuk berkarya.

“Sungguh luar biasa konser malam ini. Anak-anak yang main itu pasti akan diapresiasi dengan baik, bahkan oleh para penikmat seni dari luar negeri. Saya yakin mereka akan berkembang, ”cetus Indah Darmastuti yang hadir mendampingi para difabel netra dari komunitas Teras Baca.

 

Sayangnya, minimnya publikasi dan pemberitaan media menjadi faktor minimnya penonton malam itu, meski dengan sepertiga kapasitas gedung, antusiasme penonton tetap ada. Hanya ada dua orang wartawan yang meliput pagelaran malam itu. Kala pandemi lebih dari dua tahun, masyarakat telah memiliki kebiasaan-kebiasaan baru dengan menonton pertujukan kesenian secara daring lewat kanal youtube atau media sosial lain. Pun dengan pageralan seni bertajuk Sadrajat “Together for Equality” ini, pihak penyelenggara telah memastikan bahwa pertunjukan malam itu rencananya akan diunggah di kanal Youtube.[]

 

Reporteer: Puji Astuti

Editor    : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.