Lompat ke isi utama
anak muda dn aktivitas menuju kesetaraa difabel

Anak Muda dan Upaya Mewujudkan Kesetaraan Pendidikan bagi Difabel

Solider.id, Surakarta-Siang itu saya diundang sebagai pembicara dalam acara halal bi halal Gerakan Peduli Inklusi (Gapai) Indonesia bertemu dengan para relawan yang terdiri dari mahasiswa yang bersekolah di berbagai perguruan tinggi di Kota Surakarta. Selain para relawan, hadir pula para difabel yang tinggal di asrama YPAC Prof.Dr.Soeharso. Aula yang berukuran cukup besar dan dilengkapi dengan ramp/plengsengan tersebut hanya terisi oleh seperempat dari seluruh kapasitas. Ada sekitar 40 orang duduk di ruangan itu. Delapan di antaranya berkursi roda.

Ada hal-hal yang melatarbelakangi yang jadi alasan mengapa saya dihadirkan di even itu. Saya jadi teringat pengalaman bagaimana beberapa orang  mahasiswa pada tahun 2014 mengajak berdiskusi para pegiat difabel kota Solo saat itu dan tempat yang kami pilih adalah sebuah taman bermain yang terletak di pinggir sungai di Kelurahan Danukusuman. Ada Samuel Rori atau biasa dipanggil Pak Semmy yang sudah meninggal dunia setahun lalu. Juga ada Joko Sumpeno yang lebih dikenal dengan panggilan Koko Prabu, orangtua anak kelainan langka CdLS serta pegiat lainnya seperti Agnes Widha dan Ida Putri. Dua orang mahasiswa yakni Inayah dan Sidiq, adalah pengurus pertama komunitas ini saat didirikan.

 

Dengan berbekal sumber daya relawan, komunitas Gapai kemudian memiliki program dan kegiatan yang bersentuhan dengan difabel misalnya memberikan bimbingan belajar kepada para siswa SLB YPAC, terutama mata pelajaran matematika dan ilmu alam lainnya. Seiring berjalannya waktu, komunitas Gapai kemudian berganti 'baju' menjadi sebuah yayasan yang salah satu tujuannya agar bisa mengembangkan jejaring dan kerja sama dengan pihak ketiga.

Di antara kegiatan yang dilakukan beberapa waktu lalu dan melibatkan relawan secara nasional adalah pemilihan Duta Gapai yang diikuti 25-an orang, sebagian besar adalah mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, Padang, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Kebumen serta daerah lain. Mereka datang dengan rencana program yang disodorkan untuk kegiatan bersifat inklusif difabilitas di daerah masing-masing. Gapai Indonesia juga pernah bekerja sama dengan Baznas lewat program beasiswa bagi anak-anak difabel.

Kembali kepada even halal bihalal yang diselenggarakan oleh Gapai siang itu. Karena saya hadir diminta oleh pengurus Gapai untuk menjadi pembicara dengan tema Inklusi, lalu saya memulainya dengan bagaimana sejarah pemilihan kata tentang difabel sampai kepada gerakan difabilitas. Baru kemudian saya berbicara tentang apa itu inklusi dan bagaimana pelaksanaan pendidikan Inklusi di Indonesia. Kepada salah seorang guru yang juga hadir dalam acara, sempat saya tanyakan apakah SLB  YPAC juga mengakomodir jika ada siswa yang ingin melanjutkan sekolah di sekolah reguler? Guru tersebut menjawab bahwa beberapa tahun ini tidak banyak siswa yang melanjutkan sekolah ke sekolah reguler. Tetapi beberapa tahun lampau di setiap lulusan, selalu ada siswa yang ingin melanjutkan jenjang ke sekolah reguler.

Tiba-tiba perhatian saya terpusat kepada salah seorang siswa berkursi roda yang sejak awal acara, memikat dengan cetusan-cetusan kalimat menjawab beberapa pertanyaan. Namanya Braga dan tahun ini ia sudah lulus SMA. Braga berasal dari luar Solo dan cita-citanya ingin berkuliah di Universitas Sebelas Maret. Braga sudah masuk di sebuah group WhatsApp yang di sana berkumpul para siswa difabel dari berbagai daerah yang ingin lanjut kuliah di Universitas Sebelas Maret.

 

Baca Juga: Upaya Merdeka Ala Braille’iant Indonesia

Saat ini Braga sedang menunggu pengumunan resmi penerimaan mahasiswa baru melalui jalur difabilitas. "Dulu sekolahku  tidak di sini lalu lanjut SMA di sini sebab sekalian menjalani terapi tulang di rumah sakit ortopedi," jelasnya. Ia sangat antisias ketika berbicara bagaimana sebenarnya Indonesia telah memiliki undang-undang tentang difabel tetapi masih sangat kurang terkait implementasinya. Ia juga berkisah bahwa saat ini masih banyak ditemui stigma di masyarakat jika difabel bersekolah di sekolah reguler.

Lain lagi cerita Rizky, siswa berkursi roda yang bergiat sebagai atlet. Rizky mengaku masih nyaman ketika bersekolah di SLB sebab banyak teman yang nyaris semua memiliki hambatan seperti halnya dirinya. Namun ia juga senang ketika harus bergaul dengan masyarakat luas. Ia bertekad berfokus dan mengembangkan hobi pada olah raga dan ingin mencapai prestasi setinggi-tingginya melalui olah raga Boccia.

Saya pikir, perjumpaan-perjumpaan antara teman difabel dan non difabel harus terus terjadi seperti yang diupayakan oleh Gapai Indonesia yang setiap tahun menggandeng para mahasiwa untuk menjadi relawan sebagai teman belajar difabel. Selain itu perspektif para mahasiswa tersebut baiknya juga terus-menerus dibongkar dari yang awalnya mereka mungkin ada yang belajar tentang difabilitas berangkat melalui pendekatan charity atau belas kasihan kemudian seiring berjalannya waktu paradigma itu berubah dengan pendekatan sosial dan pemenuhan HAM bagi difabel dan bersama-sama menciptakan masyarakat inklusi.

 

Cerita tentang Braille’iant, Komunitas Anak Muda Peduli Kesetaraan Pendidikan Bagi Difabel

 

Sore itu via aplikasi WhatsApp, saya berkenalan dengan Veronica Christamia, pendiri Komunitas Braille’iant Indonesia yang lahir di tahun 2012. Setelah bertegur sapa dilanjutkan kenalan, lalu saya mengajukan beberapa pertanyaan yang boleh dijawab saat luang oleh perempuan yang biasa dipanggil Vero.

 

Braille’iant berawal dari Veronica dan kawan-kawannya yang memiliki Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) di tahun 2010. Dari PKM itu ia membuat kelas Bahasa Inggris untuk teman netra di badan Sosial Mardi Wuto (MW) Yogyakarta. Karena kelasnya cukup diminati oleh teman netra di sana, kemudian membuat kegiatan para mahasiswa itu menjadi salah satu kegiatan rutin mereka. Bahkan hingga sampai tahun 2021 pun kegiatan kelas Bahasa Inggris masih berjalan meskipun online.

 

Seiring berjalannya waktu, yang berminat dengan kelas Bahasa Inggris ini tidak hanya teman netra di Mardi Wuto saja, maka pendidikan juga diberikan kepada teman netra di YAKETUNIS. Para mahasiswa yang awalnya hanya ingin mengajar saja, kemudian merasa bahwa mereka pun juga ingin belajar tentang difabilitas netra. Apalagi selain membuka kelas Bahasa Inggris, banyak   juga teman netra yang meminta bantuan mendampingi belajar. Sehingga dengan demikian mereka membutuhkan banyak relawan dan perlu rekrutmen, lalu lahirlah Komunitas Braille’iant. Sejak menjadi komunitas, justru mereka semakin berkembang dan memiliki pengurus yang tidak hanya datang dari kalangan mahasiswa saja tetapi juga teman netra sehingga lebih tepat manfaat komunitasnya.

 

Bidang kerja Komunitas Braille’iant lebih banyak ke pendidikan dan kegiatan sosial serta hiburan juga sebab semakin berkembang dan sejak memiliki pengurus difabel, ada eksplorasi dan kolaborasi kegiatan bersama. Veronica dan kawan-kawan sampai saat ini masih mempertahankan kelompok mereka dalam bentuk wadah komunitas, dan belum memiliki badan hukum, meski keinginan ke sana tetap ada.

 

Sejak pandemi kegiatan mereka lebih banyak berfokus bersama pengurus, karena kegiatan yang bersifat outdoor juga berkurang. Mereka membuka rekrutmen relawan jika hendak memiliki even/kegiatan saja. Komunitas Braille’iant dalam catatan kegiatannya pernah menghimpun 100-150 relawan saat kegiatan membuat audio book massal. Sedangkan ketika pandemi hanya mengumpulkan kegiatan bersama 15-16 orang saja. Sedangkan untuk kelas Bahasa Inggris diampu oleh enam orang relawan.

 

Kepada saya, Veronica menulis tentang visi misi dan harapan komunitasnya ke depan : terus mengkampanyekan keadaan yang inklusi bagi difabel netra serta mendorong pemenuhan hak-hak pendidikan bagi difabel netra. Selain itu juga bisa menjadi wadah bagi anak-anak muda Yogyakarta yang ingin mendapat pengalaman berharga dan inspirasi dari teman-teman difabel netra.

 

Veronica yang juga founder Tempat Nasi Gratis pada tahun 2020 menghubungi KitaBisa.com untuk menjadi partner penyaluran Tempat Nasi Gratis berbagi dengan teman difabel di Yogyakarta. Sekali lagi ia berharap semoga keadaan membaik sehingga mereka bisa kembali berkegiatan secara normal lagi bareng teman-teman difabel atau dengan relawan juga. “Dan semoga kami bisa jadi wadah untuk belajar bagi para anak muda atau siapa pun yang tertarik dengan dunia difabel netra, termasuk juga bisa membantu teman-teman difabel yang mengalami kesulitan yang paling kerasa ya di masa pandemi ini,”pungkasnya.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor   : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.