Lompat ke isi utama

DifaTravelX Terobosan Baru di Era Baru bagi Difabel Menjelajah Wisata Alam

 

Solider.id, Yogyakarta. Berwisata, tak jarang dilakukan oleh kebanyakan masyarakat saat mengisi waktu libur kerja atau libur sekolah. Konon, dengan berwisata dapat menurunkan tingkat stress atau depresi karena aktivitas harian. Berwisata juga dapat menghilangkan ketegangan, mengendorkan syaraf, meningkatkan kreativitas, serta berbagai efek positif lainnya.

Sering kali dijumpai rombongan keluarga, staf kantoran, atau rombongan siswa yang memadati tempat-tempat wisata. Titik Nol Malioboro, sebagai contoh. Namun, sangat jarang atau bahkan bisa dikatakan langka, dapat menjumpai wisatawan dengan difabilitas di tempat wisata tersebut. Demikian pula di tujuan (destinasi) wisata lainnya. Ke mana mereka?

Apa karena populasi penduduk difabel yang sangat sedikit? Adapun jumlah warga difabel menurut PUSDATIN 2010 sebanak 11 juta penduduk. Sedang menurut WHO, populasi penduduk difabel di tiap-tiap negara berkisar 15%. Jumlah yang tidak bisa dikatakan sedikit, tentu saja. Tetapi, mereka tidak tampak di berbagai destinasi wisata. Pertanyaannya, ke mana mereka? Apakah negara menyembunyikan mereka? Tidak mengizinkan mereka hadir dalam keseharian hidup bersama warga lainnya? Atau karena tempat-tempat wisata tidak mudah diakses bagi mereka, para difabel? Sebuah jawaban adalah infrastruktur. Di berbagai tempat, terlebih tempat wisata, infrastruktur menghalangi difabel beraktivitas leluasa dan mandiri.

Sementara, berbagai hal positif efek berwisata sudah barang tentu juga butuh dinikmati dan dirasakan warga masyarakat difabel. Terlebih di era pandemi. Sebagaimana warga pada umumnya, himpitan ekonomi pun turut lekat pada kehidupan keseharian para difabel. Jauh lebih berat ketimbang pada masa sebelum pandemi. “Bagi difabel, memenuhi kebutuhan ekonomi itu berat. Apalagi di masa pandemi. Semakin berat”. Hal ini mengemuka dari Aris Wahyudi, salah seorang pengemudi ojek online Difabike, beberapa waktu lalu.

Bukan khayalan, perubahan drastis memaksa setiap orang, tanpa kecuali difabel beradaptasi dan bertahan di era pandemi. Tak mudah, tetapi harus dilakukan. Sebuah tantangan di depan mata, bagaimana dapat bertahan di era ini. Solusi pun dibutuhkan untuk menjawab tantangan tersebut.

 

Travelxism dan DifaBike berkolaborasi meluncurkan project terbaru yang diberi nama DifaTravelX. Sebuah kerjasama memberdayakan penyandang disabilitas (difabel) melalui terobosan baru, industri pariwisata. Project bermula ketika industri pariwisata yang menjadi ranah bisnis Travelxism terpuruk akibat pandemi. Di sisi lain, penyedia layanan ojek online, tour and guide service DifaBike turut mengalami penurunan drastis selama pandemi.

 

Terobosan baru

 

DifaTravelX, meluncurkan dua program baru dan menarik. Yaitu, virtual tour dan virtual experience. Virtual tour akan membawa pecinta perjalanan (travelovers) menjelajahi berbagai destinasi wisata serta mengulik sejarah dan informasi dari tempat tersebut. Sementara pada virtual experience, travelovers dapat menikmati aktivitas menarik yang digelar oleh penduduk lokal di suatu wilayah.

 

Dengan dua program tersebut, travelovers tidak perlu bepergian jauh. Terlebih difabel travelovers, tak lagu harus membayangkan sulitnya menjangkau berbagai obyek wisata. Terobosan baru DifaTravelX menyajikan pengalaman berwisata ke berbagai penjuru daerah, tanpa harus pergi ke mana pun.

 

Menurut pendiri DifaBike, Triyono, program tersebut merupakan cara baru melakukan edukasi. Bagaimana memberdayaan orang dengan difabilitas di sektor pariwisata, menjadi tujuan besar. “Dengan begitu, difabel di Yogyakarta tidak hanya menjadi penonton di sektor pariwisata. Tetapi juga jadi sebagai pelaku aktif. Teman-teman difabel harus memiliki usaha lebih. Harus konsisten dan komitmen, harus terus mengupgrade (memperbaiki) pengetahuan juga sikap, agar dapat bertahan di era pandemi ini,” ujar pengguna krug itu.

********** p***** w*** p******* d********* t****** v****** t*** atau memberdayakan penyandang disabilitas fisik melalui tur virtual, menjadi ruh yang menjiwai project Virtual Tour DifaTravelX. Sebuah program yang didanai oleh Australia Global Alumni itu. Demikian penjelasan Triyono, pendiri ojek online dengan para pengemudinya difabel itu.

 

 

Kapan dan bagaimana?

Pada peluncuran perdananya, DifaTravelX menyuguhkan lima (5) destinasi wisata melalui acara Virtual Tour dan Virtual Experience. Mulai dari wisata alam hingga wisata sejarah akan dikupas dihadirkan bagi para travleovers. Menariknya lagi, biaya tour sangat terjangkau, yakni Rp 25 ribu, per paket program. Ada yang seru! Travelovers juga akan memperoleh free sertifikat.

Bagi yang ingin mengikuti rangkaian acara virtual tour dan virtual experience, dapat mendaftarkan diri melalui tautan berikut: https://s.id/VirtualtourDTX. Berbagai informasi terkait kapan dan bagaimana akan diperoleh setelah membuka link tersebut. Dapat juga menghubungi nomer kontak 0812-4960-5055, scan barcode atau bisa klik link di bio IG @travelxism.[].

 

Reporter: Harta Nining 

editor     : Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.