Lompat ke isi utama
Mulyati dengan suami berfoto bersama dua anak kembarnya (Kredit foto: Paulan Aji/NLR Indoneisa)

Mulyati: Saya Kusta Tapi Tak Merasa Sendiri

Solider.id,- Mulyati, perempuan 23 tahun, pertama kali mengetahui kusta setelah ayahnya membawanya bertemu petugas kusta Puskesmas Rancabango, Taufik Rahman. Ayah Mulyati khawatir bila anak gadisnya terkena kusta seperti dirinya dulu.

 

“Waktu itu saya baru masuk SMP, usia 13 tahun. Badan saya merah-merah, sakit di tubuh dan bengkak-bengkak di kaki.  Setelah diperiksa oleh Pak Taufik, saya dinyatakan kena kusta,” kenang Mulyati di rumahnya di Desa Ranca Jaya, Kabupaten Subang.

 

Menurut Taufik Rahman, Mulyati diantar kepadanya dalam kondisi dengan  tanda-tanda yang dapat terlihat pada beberapa jari tangannya. Selama 12 bulan pengobatan kusta, Mulyati juga mengalami reaksi berulang sehingga ia sering tidak masuk sekolah. Untunglah, gurunya memahami dan mengijinkannya untuk belajar di rumah selama beberapa bulan.

 

Baca juga: Intervensi Dini Kusta Selamatkan Raga

 

Di lingkungan rumah, Mulyati mengalami depresi karena tidak boleh keluar rumah oleh warga sekitar. Hal ini juga makin memicu reaksi pada kusta yang sedang diobati.  “Teman-teman sebaya di sekitar rumah juga tidak suka saya ikut bermain bersama. Mereka takut tertular kusta dari saya. Jadi lebih baik saya di rumah saja,” ujar Mulyati.

 

Selesai pengobatan kusta, Mulyati mengikuti kegiatan Kelompok Perawatan Diri (KPD) yang dilaksanakan Puskesmas Rancabango dengan dukungan NLR Indonesia. Mulyati bertemu dengan beberapa orang yang pernah mengalami kusta dari desa lain.

 

“Saya tidak merasa sendiri.  Di KPD ini saya diajari cara merawat jari-jari agar tidak bengkok. Saya ikuti sarannya Pak Taufik untuk mengatur pola makan, tidak stres dan tetap bersemangat ,” ucap Mulyati.

 

Bermodal kepercayaan diri yang kuat, akhirnya Mulyati menamatkan sekolah tingkat SMP. Beberapa tahun kemudian, Mulyati diterima bekerja sebagai kasir di toko bahan bangunan selama satu tahun. Lalu, ia bekerja sebagai pengasuh anak di sebuah yayasan. Ia bersyukur dirinya tidak ditolak bekerja meski pernah mengalami kusta.

 

Pada 2020 Mulyati memutuskan menikah dengan seorang pria bernama Jaja, yang dikenalnya melalui Facebook. Jaja menerima Mulyati apa adanya. Saat ini mereka dikaruniai dua anak kembar laki-laki, Abiyaksa dan Adisatya. “Kadang ada rasa khawatir jangan-jangan anak kembar saya terkena kusta. Karena itu, kami menjaga kesehatan mereka dan mengikuti petunjuk dari kader posyandu,” lanjut Mulyati lagi.

 

Baca juga: Antara Kusta dan Vespa

 

Saat hamil si kembar, Mulyati hadir mendukung kegiatan launching PEP di Rancabango oleh Puskesmas dan NLR Indonesia pada awal 2021. “Saya mendorong agar masyarakat mau mengikuti kegiatan pencegahan kusta sehingga desa kita bebas dari kusta. Kalau ada keluhan pada kulit, sebaiknya warga ke puskesmas untuk pemeriksaan,” pesannya.

 

Bersama suami dan dua anak kembarnya, kini Mulyati tinggal bersama orang tua dan adik-adiknya di Desa Ranca Jaya, Subang. Sehari-harinya, Mulyati berkeliling menjual telor asin dari distributor. Ia mampu menjual 30-40 butir per hari dan mendapat Rp. 500 per butir telur yang terjual. Mulyati berharap suatu saat ia dapat membuat telor asin sendiri sehingga dapat meraih keuntungan lebih besar.[]

 

 

Penulis: Paulan Aji/NLR Indonesia

Editor: Robandi

The subscriber's email address.