Lompat ke isi utama
Supriyanti bersama Agung di tempat tidurnya

Berjibaku demi Sang Anak yang Tumbuh dengan Cerebral Palsy

Solider.id, Yogyakarta - WAJAHNYA terkesan lelah. Senyumnya seakan menggambarkan perjalanan panjang 12 tahun terakhir, sebagai seorang ibu dengan anak cerebral palsy. Dialah Supriyanti (37). Istri Hertranto (36) itu, pada 23 Oktober 2010 melahirkan putra pertamanya, Agung Wardana Pratama. Sang bayi kemudian hidup dengan cerebral palsy berat. Sampai sekarang. Supriyanti hanya bisa menerima kenyataan itu. Berbagai aral dan rintangan dalam upaya merawat dan membesarkan anaknya, tak lagi dihiraukan. Belum soal biaya yang tidak sedikit. Semua diupayakan, sebisa mungkin. Dengan berbagai cara.

 

 

Karena tidak sanggup membayar biaya persalinan dan operasi pertama di rumah sakit, sebesar Rp 20 juta, Supriyanti kemudian menyerahkan sertifikat rumah orangtuanya sebagai jaminan. Makin lama biaya perawatan dan pengobatan Agung di rumah sakit, makin membengkak dan pembayaran belum juga sanggup dibayar. Jaminan rumah terancam dilelang oleh pihak rumah sakit. Dalam upaya mempertahankan rumah dan agar bisa segera pulang dari RSU DR Sardjito, suaminya, Hertranto, memohon campur tangan Dinas Sosial Kabupaten Kulonprogo.

 

“Untuk bisa membawa pulang Agung, itu susah sekali,” ujar Supriyanti mengenang peristiwa pahit itu. Sambil menyapu air mata, ibu dua anak itu melanjutkan, “Suami saya kan buta huruf. Jadi susah bagi dia mengurus keringanan ke Dinsos. Padahal kalau tidak pulang, biaya semakin membengkak. Tidak hanya sedih, tapi air mata sampai habis,” ujarnya ketika ditemui, Sabtu (16/4-22).

 

Baca Juga: Peran Ibu Bagi Pemulihan Difabel Mental

 

Setelah mendapat bantuan Dinsos Sosial Kulonprogo, Agung boleh dibawa pulang. Bayi yang baru lahir setelah menjalani operasi itu harus pulang ke rumah naik bus umum. Menempuh jarak puluhan kilometer menuju tempat tinggalnya. Tapi, penderitaan belum juga selesai. Di usia 14 bulan, kepala Agung membesar, kelebihan cairan, dan harus dioperasi. Lagi-lagi, butuh biaya besar, tentu saja.  Untuk itu, sebidang kebun dijaminkan ke rumah sakit. “Padahal orang tua saya hanya punya rumah dan kebun. Sertifikat sudah terpakai semua,” ujar anak kedua dari tiga bersaudara itu.  Ia mengaku lahir di tengah keluarga sederhana. Ayah dan ibunya buta huruf. Tapi dia dan dua saudaranya masih bisa sekolah. Meski hanya menamatkan sekolah menengah pertama (SMP).

 

Ketika dalam proses melahirkan dan merawat anak sulungnya itu, Supriyanti harus tinggal di rumah sakit berbulan-bulan karena kondisi sang anak. Uang tak ada. Si suami tidak tahu cara mengurus bantuan, karena tidak bisa baca tulis. Supriyanti hanya bisa menangis. Akhirnya datang bantuan Jamkesos (jaminan kesejahteraan sosial) sebesar Rp 5 juta. Masih ada Rp 15 juta untuk membayar biaya operasi hydrocefalus. Agar bisa pulang, sertifikat rumah orang tua dijaminkan ke rumah sakit. Waktu itu dia hanya membawa uang Rp 2,5 juta, hasil pinjaman dari juragan suami. Belum lagi masih harus memikir biaya beli selang sendiri seharga Rp 1,7 juta. Lagi-lagi juragan suami yang memberikan pinjaman.

 

Setelah di rumah, dia mengurus Agung. Sedangkan suaminya bekerja apa saja. Serabutan. Di Bantul, seusai bekerja, suami membuat arang kemudian dijual.  Di rumahnya, wilayah Girimulyo, Kulonprogo Supriyanti membeli gula, kelapa, kluwak dari para tetangga. Sabtu sore, suami pulang ke Kulonprogo dengan membawa tungku, rendeng (daun tanaman kacang sebagai pakan ternak), dedak (kulit beras), juga beras untuk dijual di perbukitan Menoreh.  Hari Minggu, dia dan suami keliling ke berbagai pasar untuk menjual gula, kluwak dan kelapa. Jarak tempuh perjalanan yang mencapai puluhan kilometer dari rumah mereka, tak dihiiraukan. Semua demi bisa membayar utang-utang itu. Sedangkan Agung di rumah dijaga oleh neneknya, orangtua Supriyanti.

 

Dengan kerja keras itu, sebulan satu kali ia bisa mentransfer uang yang dikumpulkan ke RS DR Sardjito. Berapa pun yang terkumpul ditransferkan. Kadang Rp 200 ribu, atau Rp 250 ribu. 

 

Agung masih harus terus berobat jalan. Supriyanti ke sana ke mari sekaligus berpikir bagaimana caranya mengangsur utang. Dampak hal itu membuat dia lupa kapan jadwal harus mengikuti suntik KB, salah satu satu cara kontrasepsi. Akhirnya ia hamil anak kedua. “Saya gemetar ketika ibu bidan desa bilang, bahwa saya positif hamil. Antara takut dan trauma, bercampur aduk. Tapi, rencana Tuhan selalu yang terbaik,” ujarnya. Ia kemudian dipercaya merawat seorang bayi perempuan yang sehat. Anak keduanya diberi nama Pangestu Dwi Mahanani. Lahir pada 8 April 2015.

 

Namun, setelah melahirkan anak kedua, Supriyanti tidak bisa membantu suami mengumpulkan uang. Akibatnya angsuran tersendat dan berhenti. Akhirnya dua sertifikat akan dilelang negara. Pihak rumah sakit menganjurkan agar meminta bantuan ke Dinsos Kulonprogo. Saat itu, justru kami dapat bantuan Rp 5 juta dari seseorang di sebuah vihara, yang langsung dibayarkan ke RSU DR Sardjito. “Hingga suatu hari, rumah kami didatangi petugas KPKNL (Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang). Bertanya bagaimana dan maunya apa. Saat itu, saya hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Tidak bisa bicara apa pun. Saya diminta datang ke kantor lelang untuk menyelesaikan urusan.”

 

Di kantor itu dia disarankan untuk meminta surat keterangan tidak mampu. Saran berikutnya, agar surat keterangan tidak mampu dikirim saja melalui jasa pos. Karena tahu kondisi keluarga yang tinggal di tempat yang minim akses transportasi. “Sejak itu, tahun 2017 utang saya sudah dihapus oleh negara dan dianggap lunas,” tuturnya.

 

Supriyanti mengaku sangat bangga pada suaminya. Meski buta huruf, tetapi dia merasa bahwa sang suami bertanggung jawab, suami siaga. “Benar, Tuhan akan selalu memberikan yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan,” ujarnya.

 

Supriyanti menambahkan, anak keduanya bisa memberi perhatian kepada kakaknya. Kadang menyiapkan baju ganti usai dimandikan, pampers, celana, juga handuk. Atau menyiapkan gelas, untuk minum Agung, si kakak. Ketika Dwi, putri kedua Supriyanti itu berusia empat tahun (2019) dan Agung berusia sembilan tahun,  sang adik mulai memasuki usia taman kanak-kanak (TK). Saat itu juga, Agung ikut ke sekolah digendong sang ibu. Dua tahun Agung sempat mengenyam udara luar rumah, udara sekolah taman kanak-kanak. Setelah adiknya lulus TK, Agung harus kembali tergolek di tempat tidur[].

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor     : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.