Lompat ke isi utama
Screen Shoot scene duet Judika dan Nurlela

Sebuah Framing: Inspirasi Berlebihan dalam Lagu Tak Pernah Tinggalkanku

Solider.id,- Puasa hari ke 21, saya tidak melakukan banyak aktivitas, hanya beberes rumah dan membaca buku puisi Aan Mansyur berjudul “Sebelum sendiri”. Buku yang sudah saya selesaikan sebelumnya tapi kembali saya baca lagi dan lagi. TV di ruang tamu sedang menayangkan CNN Indonesia dan membahas berbagai berita terbaru.

 

Saya tidak terlalu memerhatikan acara tv tersebut, hanya mendengarkan sepintas. Namun aktivitas saya terhenti ketika pembawa acara menyampaikan bahwa penyanyi Judika telah merilis sebuah single duet terbaru. Sebuah lagu duet pertama yang ia bawakan bersama orang lain selain sang istri, Duma Riris.

 

Lagu berjudul “Tak Pernah Tinggalkanku” ini dinyanyikan bersama dengan seorang difabel Netra bernama Nurlela. Ia adalah salah satu binaan di Panti Sosial Rehabilitasi Penyandang Disabilitas (PSRPD), Cimahi, Jawa Barat. Konon, duet ini diinisiasi oleh Menteri BUMN Republik Indonesia, Erick Thohir setelah melihat penampilan bernyanyi Nurlela dalam kunjungannya ke PSRPD 2021 lalu.

 

Dalam pertemuan itu, Nurlela menyampaikan kepada pak Menteri bahwa ia mengidolakan sosok penyanyi Judika. Mengetahui hal tersebut, pak Menteri kemudian mewujudkan keinginan Nurlela untuk bertemu Judika. Mereka dipertemukan di kantor Kementerian BUMN RI tidak lama setelahnya.

 

Judika adalah seorang penyanyi tenar saat ini. Ia jebolan ajang pencarian bakat tahun 2005 dan berhasil memeroleh posisi ke 2 serta mengeluarkan banyak lagu setelahnya. Semua lagu-lagu yang ia nyanyikan sukses besar dan menjadi favorit banyak orang. Suara khasnya yang mampu meraih nada tinggi menjadi daya tarik dari Judika. Kini, ia juga dipercaya menjadi salah satu juri dalam ajang pencarian bakat yang sama dimana ia pernah keluar sebagai juara dua.

 

Bertemu dengan Sang idola, membuat Nurlela merasa senang. Ditambah lagi Judika mengajaknya membuat single duet yang disambut antusias. Dengan segala proses persiapan mulai dari pemilihan lagu, perekaman, pembuatan video clip hingga finalisasi, akhirnya lagu itu dirilis tepat di hari ke 21 Ramadhan, 23 April 2022.

 

Sejenak saya berhenti membaca dan mengalihkan pandangan ke arah tv karena penasaran seperti apa lagunya. Video klip pun diputar. Di awal video menampilkan seorang anak laki-laki yang mengenakan baju tanpa lengan berwarna putih dan celana pendek berwarna abu-abu. Ia Nampak berjalan menyeberangi Zebra cross sambil membawa beberapa koran. Anak tersebut berprofesi sebagai penjual koran dan sedang menjajakkannya di jalanan. Di scene lain, anak itu terlihat sedang duduk dan membaca beberapa baris berita dalam kolom koran yang ia bawa. Scene kemudian berpindah dan menampilkan wajah Judika yang sendu ketika mulai bernyanyi. Begini lirik awalnya:

 Aku terlahir di dunia ini dengan segala kelemahanku.

Tuhan mengajarkan rasa bersyukur atas semua ini.

Lirik kemudian dilanjutkan oleh Nurlela:

Aku terlahir di dunia ini dengan segala kekuranganku.

Tuhan mengajarkanku rasa bersyukur atas semua ini

 

Video klip berdurasi 04.29 itu bercerita mengenai seorang anak laki-laki penjual koran yang setiap hari duduk di tempat yang sama. Di pinggir jalan untuk menunggu ibunya datang menjemput. Tempat di mana sang ibu pernah meninggalkannya dan tak pernah terlihat lagi. Interaksi antara anak laki-laki tersebut dan Nurlela juga ditampilkan. Ketika anak laki-laki tersebut menuntun Nurlela yang seorang difabel Netra untuk mengantarkan kue ke warung-warung. Anak laki-laki itu juga terlihat rajib belajar menulis dan membaca. Adegan berikutnya memperlihatkan anak laki-laki yang sedang membeli buku Latihan menulis abjad.

 

Anak laki-laki tersebut dan Nurlela adalah anak-anak yang tinggal di sebuah panti asuhan. Suatu ketika, Pak Erick Thohir datang berkunjung. Adegan ini merepresentasikan momen ketika pak Menteri berkunjung ke PSRPD dulu. Tampak pak Menteri sedang menyampaikan sesuatu ke anak-anak panti ketika anak laki-laki itu datang menghampirinya. Ia meminta tolong kepada pak Menteri untuk membacakan surat yang ia tulis. Menariknya, permintaan tolong itu disampaikan dengan menggunakan Bahasa isyarat. Sang anak laki-laki ternyata adalah seorang Tuli.

 

Dari video klip, kita ketahui anak lelaki ini belajar menulis dan membaca agar bisa menulis surat untuk ibunya. Surat yang menyampaikan bahwa ia telah bertemu dengan orang-orang baik dan masih menunggu ibunya di tempat yang sama setiap hari. Sang ibu, meski menonton video itu melalui youtube yang diunggah, tetap tak kunjung menjemput sang anak.

 

Setelah melihat potongan video clip lagu itu dari TV, saya kemudian membuka youtube untuk melihat video yang lebih lengkap. Lagu dengan aransemen dengan menggunakan teknologi Dolby Atmos itu terdengar begitu lembut dan easy listening. Namun setelah menonton video klipnya, saya merasa bahwa lagu itu akan menjadi salah satu lagu yang tidak ingin didengar oleh kebanyakan difabel.

 

Sama halnya lagu “Jangan Menyerah” dari D’Masiv. Lagu itu seolah menjadi lagu backsound untuk setiap acara yang melibatkan difabel. Dimana ditekankan bahwa kita patut beryukur apapun keadaannya. Lagu yang sekali lagi menjadikan difabel seperti dengan sinis dikatakan oleh Stella Young sebagai “inspiration porn” alias "Inspirasi Porno".

 

Inspiration Porn adalah istilah yang diutarakan pertama kali oleh Stella Young, seorang komedian, aktivis difabel dan editor situs Web Ramp Up ABC, sebuah ruang daring untuk berita, diskusi dan opini tentang disabilitas di Australia. Ia menjelaskan makna Inspiration Porn dalam presentasinya di TEDx 2014 sesaat sebelum ia meninggal dunia.

 

Bagi Stella, Inspiration Porn adalah suatu objektifikasi difabel demi keuntungan orang lain. Alasan untuk memperhatikan orang lain, dalam hal ini penyandang disabilitas bukanlah karena mereka adalah makhluk hidup yang memiliki pikiran, perasaan, gagasan dan nilai. Melainkan mereka ada untuk menjadi inspirasi bagi orang-orang yang menganggap dirinya “sempurna” atau “normal”.

 

Difabel menjadi objek bagi non-difabel/difabel untuk lebih menyusukuri apa yang mereka miliki. Fisik yang utuh dan berfungsi sebagaimana mestinya, pikiran yang normal dan lain sebagainya. Inspiration Porn terhadap difabel dilakukan oleh para non-difabel hanya untuk membuat mereka merasa lebih baik.

 

Tindakan Inspiration Porn sangat mungkin terjadi ketika orang-orang memiliki asumsi mengenai ketidakmampuan. Melihat hal-hal yang dilakukan oleh difabel sebagai sesuatu yang luar biasa sehingga menginspirasi dan memotivasi banyak orang. Contoh Inspiration Porn paling banyak ditemui adalah pada poster-poster quote seperti “the only disability in life is bad attitude” dengan latar belakang seorang gadis Sindroma Down yang tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya. Poster-poster seperti itu akan menggiring para pembaca untuk menganggap bahwa seberapa buruk pun hidup yang kita miliki, tidak lebih buruk dari hidup yang dilalui oleh difabel.

 

Seperti halnya lagu D’Masiv, Jangan Menyerah yang selalu diputar untuk menginspirasi banyak orang agar lebih bersyukur dan tidak mudah menyerah karena difabel pun tidak mudah untuk menyerah dalam menjalani hidupnya. Lagu Judika ini pun memiliki kemiripan.

 

Hal yang menarik dari lagu ini adalah ketika Judika dan Nurlela menyanyikan lirik “setiap manusia berharap dirinya terlahir sempurna tanpa ada kekurangan di dalam dirinya” mengingatkan saya pada makna kesempurnaan itu. Masih banyak sekali orang yang menganggap dirinya adalah ciptaan yang sempurna dan normal karena memiliki tubuh yang lengkap: dua kaki untuk berjalan, dua tangan untuk menggenggam, dua mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, mulut untuk berbicara, pikiran dan akal sehat yang baik.

 

Seorang difabel Netra yang menggunakan tongkat untuk melihat sekitar dan aplikasi pembaca layar untuk memperoleh informasi dari sebuah teks dianggap tidak sempurna dan tidak normal karena mata yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Seorang Tuli yang berkomunikasi menggunakan Bahasa Isyarat, bukannya berbicara dengan suara dianggap tidak sempurna dan tidak normal karena sulit dipahami ucapannya. Seorang pengguna kursi roda yang kehilangan kakinya karena amputasi, atau polio, atau mengalami Cerebral Palsy pun dianggap tidak sempurna dan tidak normal karena tidak berjalan menggunakan kaki sebagaimana kebanyakan orang.

 

Lirik “semua manusia berharap dirinya terlahir sempurna tanpa ada kekurangan” seolah mengatakan bahwa difabel adalah ciptaan Tuhan yang tidak sempurna. Dan ketika seorang difabel yang menerima kedisabilitasannya dan memanfaatkan tubuhnya sebaik mungkin justru dianggap sebuah hal yang luar biasa dan menginspirasi bagi non difabel.

 

Banyak sekali non difabel yang menganggap kedisabilitasan seseorang adalah sebuah hal yang luar biasa. Mereka menganggap bahwa mereka jauh lebih beruntung daripada difabel. Hal ini adalah sebuah ketidakadilan bagi difabel.

 

Sudah saatnya menganggap kedisabilitasan seseorang adalah suatu hal yang lazim dan tidak menjadikan individu difabel sebagai objek rasa syukur. Sudah saatnya menerima kedisabilitasan sebagai keberagaman kenormalan itu. Sudah saatnya berhenti memiliki ekspektasi yang rendah terhadap kemampuan seorang difabel.[]

 

 

Penulis: Zakia. Pengurus di Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PerDIK) Makassar

Editor: Robandi

The subscriber's email address.