Lompat ke isi utama
ilustrasi kapal feri

Difabel Susah Mudik, Kapal Feri Penyeberangan Tak Aksesibel

Solider.id - MUSIM mudik kembali datang. Tentu semua orang ingin bisa bertemu keluarga dan handai tolan di kampung halaman. 

 

Termasuk Rodi, sebut saja begitu. Mahasiswa salah salah satu perguruan tinggi Islam di Jambi. Keinginan menjenguk kerabat di Yogyakarta pun masuk di wishlist-nya. 

 

Keinginan ini kemudian perlahan sirna. Ia membayangkan ketika naik bus dari Jambi hingga ke Yogyakarta akan sangat membutuhkan effort besar buatnya yang  celebral palsy. 

 

Iya, awal 2022 lalu bersama keluarga. Ia menempuh jalur darat dengan bus umum dari Jambi ke Yogyakarta.

 

Bagaimana tidak, fasilitas sepanjang perjalanan darat dari Jambi hingga daerah tujuan sangat minim yang supportif untuk orang sepertinya dan difabel lainnya. 

"Saya kepikiran ketika harus naik turun bus di rest area. Baik itu untuk ke kamar mandi atau makan," tuturnya beberapa waktu lalu. 

 

Baginya mustahil bisa melakukan sendirian. Harus dibantu orang lain. Kalaupun harus sendiri akan sangat berisiko.

 

Bisa terjatuh, menabrak benda sekitar dan orang lain dan sebagainya. Sangat riskan buat diri sendiri dan orang lain. 

 

Lebih ironis lagi, fasilitas khusus difabel di bus angkutan umum sejak dari pool pemberangkatan, di dalam bus, di kapal feri penyeberangan hingga di pool kedatangan, sangat minim. Bahkan tidak ada.

 

Rodi pun menceritakan kesulitannya berbagi kamar kecil di feri penyeberangan dari Bakaheuni-Merak dan sebaliknya. Kamar kecil khusus difabel di kapal feri eksekutif itu sama sekali tidak bisa digunakan.

 

Di depan kamar mandi terdapat tulisan "sedang dalam perbaikan". Ironis lagi, kamar keci itu ada di depan spot petugas kapal feri berjaga.

 

Ketika ditanya, petugas yang sebagian para wanita itu mengatakan kamar kecil sedang rusak. " Lho, anak saya difabel, di sini ada kamar kecil khususnya, tapi kok ga bisa dipakai," kata orang tua Rodi.

 

Petugas tidak bisa berbicara banyak. Hanya maaf. 

 

Baca Juga: Transportasi Publik Sulit Diakses Difabe

 

Lebih parah lagi ketika awal masuk ruang tunggu di kapal feri. Begitu bus masuk di dek paling bawah kapal, mustahil difabel bisa mengakses ruang tunggu. 

 

Parkir bus penumpang bercampur dengan truk-truk besar. Sedih lagi adalah jarak antarkendaraan sangat sempit. Hanya cukup untuk jalan satu orang. Itu pun sering harus berjalan miring. 

 

Jangankan untuk  difabel, untuk anak-anak saja tidak layak. Jalur keluar bus menuju ruang tunggu di dek (lantai) 3 kapal feri sangat sempit sangat berbahaya dilalui kalangan difabel dan anak-anak tanpa bantuan orang lain.

 

Penerangan juga sangat minim. Rodi harus melalui ruang mesin dengan suara berisik belum lagi ketika ada ombak. Kapal bergoyang yang makin menyulitkan Rodi melangkah. 

 

Sepanjang dek 1 ke dek di lantai 3, sama sekali tidak ada jalur khusus   difabel. Jangankan pegangan lampu saja remang-remang. Belum lagi dek 1 sangat jauh dari kata bersih.

 

Sampah? Iya tidak ada sampah. Tapi aroma pesing dan bau BBM mesin sangat mengganggu.

 

Ruang tunggu pun tak kalah "menantang". Jangan harap difabel bisa bepergian dengan kapal feri ini tanpa pendamping.

 

Petunjuk, apalagi fasilitas pendukung untuk  difabel hampir tidak ada -- masih untung ada toilet khusus difabel--.

 

Kurang lebih satu jam perjalanan Bakaheuni-Merak atau sebaliknya. Rodi tidak bisa istirahat maksimal. Ia kepikiran perjalanan dari ruang tunggu di dek 3 ke parkiran bus di dek 1.

 

Jalan dan tangga licin. Sempit. Antre karena banyak penumpang lain yang ingin cepat. Belum lagi "jebakan-jebakan batman" seperti ujung-ujung tangga, kendaraan lain hingga gundukan di lantai dek kapal menjadi tantangan, dan lebih cocok disebut ancaman.

 

Belum lagi kesulitan mencari lokasi bus yang ia tumpangi karena parkirnya berdempetan. Ruang tunggu pun hanya jadi persinggahan sementara penuh "ke"-pikiran.

 

Maka, difabel harus bepikir ulang untuk bepergian dengan jalur darat dan kapal feri penyeberangan Sumatera-Jawa dan sebaliknya. Mungkin buat mereka dengan duit lebih bisa memilih moda transportasi umum pesawat terbang dengan layanan bagi difabel lebih baik dibanding bus dan kapal feri. 

 

Termasuk bepergian dengan mobil pribadi. Masih akan sangat nyaman dan aman buat kaum difabel. 

 

Sementara untuk mereka dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Lupakan kenyamanan bepergian dengan mobil pribadi atau moda pesawat yang aman dan nyaman itu. 

 

Bersiaplah menghadapi challenge yang tidak seharusnya mereka dapatkan. Cuan, cuan dan cuan. Itu saja yang ada di otak pelaku bisnis transportasi kapal feri penyeberangan.[]

 

Reporter: indrawan setyadi

Editor     : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.