Lompat ke isi utama
Vani tengah serius mencatat beberapa hal di atas komuter

Clara Vania Puspita, dari Fotografer Resmi Asian Paragames 2018, hingga Advokasi Feminis lewat Fotografi

Solider.id - MACBOOK warna pink pastel ditentengnya. Bersicepat ia menghampiri salah satu meja di Takana Eatery di kawasan Mayang Mengurai, Kota Jambi.

Seperti gadis seusianya, dengan ceria ia menyapa dengan menelungkupkan kedua telapak tangannya sambal mengangguk. “Selamat malam,”katanya sambil menundukkan kepala.

 

Perkenalan singkat mengantar obrolan makin akrab.  Bantuan seorang rekan  yang mengerti bahasa isyarat mempermudah komunikasi kami.

Obrolanpun mengalir lancar.

Berikutnya terungkap bahwa ia pernah menjadi fotografer resmi Asian Paragames 2018 di Jakarta. Ajang multieven olahraga difabel level Asia memberi kepercayaan kepada Vani dan ketiga rekan lainnya menjadi perekam momen multieven 4 tahunan itu lewat foto.

 “Kami sama sekali tidak mengira bisa terpilih untuk even itu,”katanya membuka kisah. Bermula saat panitia di Indonesia membuka kesempatan untuk menjadi official photographer untuk even itu.

 

	Vani berdiskusi mempersiapkan pameran

Bersama ketiga rekannya yang juga difabel, ia mengajukan proposal ke panitia. Rekam jejaknya ternyata menjadi salah satu yang dilihat panitia sebelum akhirnya terpilih.

 

Baca Juga: Putu Puspa Wati kula, Pahlawan Pendidikan bagi anak Difabel Bali

Singkat cerita ia dan tim kemudian presentasi proposalnya. Momen Asian Paragames sangat cocok dengan timnya. Kedekatan emosional sesame difabel tentu menjadi nilai tambah untuk menangkap objek saat bertugas nanti.

 

Alhasil, timnya pun terpilih.

“Sempat tidak percaya dengan hasil ini. Tapi kami percaya diri dengan kemampuan kami,”katanya bersemangat.

 

Di lapangan, katanya, sepekan penuh ia bekerja 24 jam. “Saya sampai sering lupa makan,” ujar alumni jurusan Fotografi ISI Yogyakarta ini bersemangat.

 

Pagi buta ia harus berbagi lokasi dengan rekan-rekan timnya untuk mengabadikan momen. Cabang aquatik menjadi salah satu spot penugasannya.

 

Ia pun jeprat jepret sana sini. Ternyata tidak cukup. Ia masih harus memberi caption atau  keterangan singkat foto dari objek yang ia rekam.

Usai pemotretan ia masih disibukkan dengan memberi caption itu. Praktis tengah malam ia mulai bisa istirahat. Pagi buta, ia kembali harus ke lapangan untuk pemotretan.

“Di awal ke lapangan saya sempat minder,” imbuhnya. Tapi bukan karena difabilitasnya. Melainkan ia harus berdiri sejajar dengan para pewarta foto profesional. Salah satu fotografer yang membuat perasaannya campur aduk adalah Arbain Rambai, fotografer Harian Kompas.

 

Selain menjadi salah satu idolanya, senjata fotografer senior itu sangat jauh dibanding dengan kameranya. “Saya masih menggunakan  Canon D 550 standar dengan lensa 50-70 mm,” terangnya. Namun itu tak berlangsung lama. Tanggung jawabnya di momen itu harus lanjut.

 

Dan tugasnya sepekan di Asian Paragames 2018 pun purna. Vani puas. Passionnya di fotografi terlampiaskan. “Belum lagi ternyata hasilnya juga lumayan besar,” katanya sambil tergelak.

 

Hasil kerja kerasnya pun terbayar. Sebuah kamera baru idamannya, Canon R 30, berhasil ia beli dari honornya itu. Plus beberapa lensa tentunya.

 

Setelah itu Vani terus berproses. Setahun berselang, ia mencoba masuk ke dunia kerja. Kali ini ia masuk ke sebuah lembaga, yakni Aspictura. Di 2019, ia bertugas sebagai internship editor photo di Aspictura. Tak bisa diam di satu tempat, setahun berselang, di 2020, ia pindah lagi. Kali ini ia di Waton Merch di Yogyakarta. Kali ini ia menjadi social media officer. Dan akhirnya di Januari 2022, ia mencoba menawarkan kolaborasi dengan Takana Eatery di Kota Jambi.

 

Midas Vani terbukti. Apa pun yang ia sentuh berbuah emas. Termasuk di resto di Jambi ini. Sempat tertatih di awal kerja karena pandemi covid-19 yang mengganggu berbagai sektor ekonomi, perlahan namun pasti, kolaborasi Vani-Takana Eatery kini bangkit. Bahkan melambung.

 

 Kembali jiwa petualangannya bergejolak. Di minggu kedua April 2022, ia memutuskan resign dari resto tempatnya bekerja dan memutuskan kembali  ke Jawa. “Saya masih ingin belajar ilmu-ilmu baru lebih banyak,”katanya.

 

Ia memutuskan kembali ke Jawa karena ingin kembali aktif di pameran-pameran fotografi. Dan tentu ingin memperdalam ilmu marketingnya. “Saya ga bisa diam. Banyak ide di kepala ini,” tuturnya.

 

Aktivis feminisme ini ternyata tak sekadar ingin berpameran lagi. Ia ingin advokasi tentang feminisme lewat karya foto. “Kebetulan Vani pernah ditawari pameran tentang perempuan di Surabaya beberapa waktu lalu, tapi belum dapat. Nah,  ini mau coba lagi,” tandasnya.

 

Dan memang masih ada satu capaian yang belum ia dapatkan. “Saya ingin pameran tunggal,” tukasnya.   

 

“Saya juara di lomba di Bandung itu. Mas Darwis jurinya langsung menawari saya magang atau pelatihan di studionya,” katanya.

 

Vani sangat bangga karena tidak hanya mendapat teori di kampus tapi mendapatkan ilmu langsung dari pelaku serta idolanya. Tentu sangat antusias karena beliau adalah idola saya," katanya bersemangat.
Wanita muda energik ini pun bersemangat menceritakan ihwal kecintaannya pada fotografi. "Saya mulai suka fotografi sejak SMP. Saat itu ayah saya minta tolong fotoin dengan kamera saku," ujarnya membuka kisah.
Nah, sejak itulah ia kemana-mana   selalu jepret sana jepret sini. "Kalau anak perempuan seusia saya waktu itu main boneka, saya justru sibuk dengan kamera," katanya sambil tergelak.
Setamat SMA di Jambi, passionnya pada fotografi tak terbendung. Dan jurusan Fotografi pun ia pilih di ISI Yogyakarta. Dan jurusan inilah yang kini menempatkannya di posisi seperti sekarang. Bukan pekerjaan populis memang. Tapi di saat dunia digital seperti sekarang, profesi itu jadi mutiara terpendam.

Kesuksesannya tidak didapat dengan mudah. Apalagi ia terlahir dengan "keistimewaan".  
Perjalanan hidup gadis itu tentu tak jarang banyak hambatan. Sempat berada di fase terendah saat tak punya teman karena kondisinya, dengan penuh percaya diri ia bangkit dan berhasil.
Ketika di kampus pun ia tak banyak mengalami kendala. "Hanya memang ketika ada mata kuliah fotografi jurnalistik saya agak kesulitan," tutur gadis kelahiran 23 September 1995 ini. Untuk mendapatkan objek foto jurnalistik, ia perlu komunikasi intens dengan objek. Di situlah ia mengalami kesulitan. "Tapi mata kuliah lain tidak masalah," katanya.

 

Ia pun berpesan kepada difabel lainnya agar terus semangat. Jangan lihat keterbatasan, katanya. “Kembangkan potensi yang ada,” tegasnya.[]

 

Reporter: indrawan setyadi

Editor: Ajiwan Arief

 

The subscriber's email address.