Lompat ke isi utama
SURIPTO, pejuang informasi vaksinasi bagi difabel Karanganyar

Suripto, Difabel Pejuang Sosialisasi Vaksin COVID-19 bagi Disabilitas Karanganyar

Solider.id, Yogyakarta -Selama pandemi, difabel fisik yang bernama Suripto (48), menjadi sumber cahaya bagi sesama difabel di Karanganyar, Jawa Tengah. Ia berkeliling mengedukasi dan melakukan advokasi bagi kelompok difabel tanpa lelah, demi memberikan informasi yang tepat tentang COVID-19 dan vaksinasi kepada mereka.

 

Pria yang akrab disapa Ripto ini lahir di sebuah desa di Kecamatan Jatipuro, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Ia terserang penyakit polio pada usia 5 tahun hingga kaki kanannya tidak dapat digunakan untuk berjalan.

 

Namun, dengan kemandirian dan kegigihannya, Ripto berusaha untuk tidak mengandalkan alat bantu dalam menjalankan aktivitas. Dalam kesehariannya, Ripto berprofesi sebagai petani dan peternak kambing. Ia juga dipercaya untuk menjabat sebagai ketua RT di desanya.

 

Di tengah hambatan yang dimilikinya, ia mampu mengendarai sepeda motor untuk menunjang kegiatannya. Semangat tinggi dimiliki Ripto  saat mengedukasi teman-teman difabel di wilayahnya. Teutama, motivasi menghilangkan ketakutan para difabel terhadap COVID-19. Bahwa budaya protokol kesehatan 5M semestinya diterapkan dengan baik di kalangan difabel. Dia juga meyakinkan teman-temannya untuk melakukan vaksinasi.

“Saya sadar betul, banyak teman  Tuli, netra, mental, dan difabel fisik lainnya yang tidak cukup paham tentang pandemi ini. Padahal kami termasuk kelompok rentan yang perlu bertahan menghadapi COVID-19 ini. Kami perlu tahu bagaimana menghindari infeksi, apa yang harus dilakukan saat infeksi, dan lain sebagainya,” tutur Ripto dalam konfirmasinya  pada Solider melalui telephone genggam, Kamis  (14/4/2022).

 

Pemimpin di desanya

Dalam upaya menambah pengetahuannya, Ripto juga aktif di berbagai organisasi,  komunitas dan lembaga swadaya masyarakat, seperti Layanan Inklusif Disabilitas dalam Penanggulangan Bencana (LIDi), Self Help Group (SHG), Pusat Pengembangan dan Pelatihan Rehabilitasi Bersumber Daya Masyarakat (PPRBM), dan menginisiasi pendirian Kelompok Pemberdayaan Tawangmangu (KPT).

 

Di KPT, Ripto bahkan duduk sebagai ketua dan dirinya teguh mendorong tujuan organisasi menghimpun para alumni dari berbagai pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah setempat untuk difabel, agar tetap memiliki hubungan silahturahmi yang baik.

 

Alasan kuat Ripto mengikuti banyak organisasi dilandasi oleh keinginan untuk membuktikan bahwa difabel fisik bukan suatu hambatan untuk maju. “Saya aktif berorganisasi karena saya punya keinginan belajar yang kuat, ingin menambah relasi, dan mengisi waktu luang,” ujarnya.

“Selama pandemi saya banyak belajar dari internet dan juga organisasi yang saya ikuti sehingga saya bisa mendapatkan banyak informasi terkait COVID-19. Berkat hal tersebut saya rutin melakukan edukasi dengan tetangga baik saat berkumpul, melalui pendekatan door to door, dan dengan memanfaatkan grup WhatsApp.

“Biasanya saya menggunakan bahasa yang mudah dimengerti yaitu bahasa Jawa dan menyesuaikan dengan teman bicara saya,” lanjut Ripto.

 

Berkat jerih payahnya melakukan edukasi, cakupan vaksinasi di wilayah Rukun Tetangga (RT) yang ia pimpin mencapai 90% atau 80 orang, karena mereka kini memiliki pemahaman lebih baik tentang vaksinasi COVID-19. Ada pun sisanya,  belum memutuskan vaksinasi, karena adanya penyakit penyerta lain (komorbid).

 

Tak mulus

Upaya Ripto dalam melakukan sosialisasi dan edukasi tidak selamanya berjalan lancar, banyak rintangan yang harus ia lewati. Ripto sempat terpapar COVID-19 dengan gejala yang berat hingga terpaksa ia dirawat di rumah sakit. Hal ini menghambatnya bertemu dengan warga. Sementara, pada kesempatan lain ia harus berhadapan dengan mereka yang tidak percaya COVID-19.

“Saya pernah terinfeksi COVID-19 varian Delta dengan kondisi cukup parah, sehingga menghambat perjuangan saya. Persitiwa sakit itu menjadi hikmah luar biasa karena saya jadi semakin paham risiko penyakit ini. Saya jadi lebih bersyukur bisa melalui titik kritis dan sembuh kembali. Di tengah sosialisasi, tak jarang saya menjumpai teman-teman sesama penyandang disabilitas yang sebaliknya masih menganggap COVID-19 tidak ada dan menuduh bahwa pandemi ini adalah hal yang dibuat-buat oleh pihak tertentu. Padahal saya sendiri sudah pernah merasakan penderitaannya. Pengalaman saya ini adalah contoh bagi mereka bahwa COVID-19 itu ada. Ya saya memang harus sabar…,” ungkapnya.

 

Semua hambatan yang ditemui Ripto, dihadapi dengan penuh kesabaran. Segera setelah sembuh, ia langsung menginisiasi program Jogo Tonggo yang dalam Bahasa Indonesia berarti “menjaga tetangga”. Fokus utama program tersebut adalah melakukan penanganan dan memberikan bantuan bagi warga desa yang melakukan isolasi mandiri akibat terpapar COVID-19.

 

Dalam menjalankan program Jogo Tonggo, Ripto aktif mengajak warganya untuk secara kolektif membantu warga yang terkena COVID-19. Sumber dana program Jogo Tonggo berasal dari dana kas RW yang dikumpulkan oleh warga tiap bulannya. Bentuk bantuannya beragam. Dapat berupa suplai bahan makanan, penjagaan di pintu masuk desa agar tidak menerima kunjungan tamu dari luar, mencarikan oksigen, serta memberi edukasi kepada masyarakat.

Program tersebut berhasil, penanganan COVID-19 di lingkup Rukun Warganya, berjalan dengan baik. Warga semakin paham bagaimana cara memutus rantai virus ini. Salah satu pengalaman lain yang tak terlupakan adalah ketika keberhasilan mengajak warganya yang mengalami gangguan kejiwaan atau ODDP (orang dengan disabilitas psikososial) melakukan vaksinasi.

Ripto mengaku bahwa, tidak mudah melakukan edukasi terkait pencegahan COVID-19 dan vaksinasi pada tetangga ODDP. Pendekatan secara personal dan perlahan menjadi kunci keberhasilan Ripto membujuk kelompok rentan ini agar mau divaksin. Ripto membantu segala persyaratan yang dibutuhkan dengan penuh kesabaran.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap ODDP yang mau divaksin, Ripto membelikan makanan. Dengan harapan, ODDP memiliki kesan baik terhadap vaksin, dan bersedia divaksin dosis kedua atau bahkan booster.

“Biasanya saya belikan bakso atau mie ayam setelah vaksin, biar mereka tidak kapok, dan punya kesan yang baik terhadap proses vaksin dan juga terhadap saya,” imbuhnya.

 

Keterbatasan bukan penghalang

Dengan segala keterbatasannya, Ripto mampu membentuk kesadaran di tengah masyarakat bahwa penting untuk waspada terhadap COVID-19 dan mau melaksanakan vaksinasi. Suripto berharap masyarakat bisa secara sadar menaati 5M dan segera mengikuti vaksinasi baik dosis primer dan booster, agar pandemi ini segera berakhir.

 

Di sisi lain, ia menyayangkan kurangnya arus informasi yang terpercaya terkait vaksin dosis 3 atau booster. Demikian pula dengan tidak masifnya dorongan pemerintah terhadap program tersebut. Sehingga, masih banyak warga dan rekan-rekannya enggan divaksin booster.

Dalam keterbatasan, Suripto tetap berkontribusi bagi masyarakat. Keterbatasan dan himpitan krisis kesehatan, bukan halangan bagi Ripto terus menebar manfaat dan berbuat baik bagi sesama.[]

 

Reporter: Harta Nining Wijaya

Editor    : Ajiwan Arief

The subscriber's email address.