Lompat ke isi utama
salah satu kegiatan difabel di bulan Ramadhan

Ramadhan untuk Semua, Begini Cara Difabel Menikmati bulan Ramadhan

Solider.id – Bulan Suci Ramdhan yang hadir setiap tahun memiliki banyak makna  bagi yang melewatinya. Secara umum, masyarakat muslim menggunakan momentum Ramadhan sebagai waktu untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan, Allah Swt.

 

Mereka lebih banyak melakukan kegiatan yang berkaitan dengan spriritual dan keagamaan, seperti sholat sunah tarawih, sholat malam, selain tetap menjalankan sholat wajib dan berpuasa hingga magrib tiba. Pun demikian dengan para difabel muslim. Mereka mengisi satu bulan Ramadhan dengan ragam kegiatan yang bermakna dari sejak sahur hingga magrib, bahkan malam harinya.

 

Bagi mereka yang mampu secara fisik dan kondisi kesehatannya baik, kedifabelan bukan penghalang untuk tetap menjalankan ibadah puasa dan ibadah sunah lainnya. Mereka pahami, Tuhan memberikan banyak kemudahan dalam cara melakukan ibadah, bukan membebaskan mereka dari kewajiban beribadah.

‘.... Dia berkata: Berdoalah sambil berdiri, jika tidak bisa maka shalatlah dengan duduk, dan jika tidak mampu maka shalatlah (berbaring) di sisimu,’ (HR. Al-Bukhaari: 1066)

 

Cara difabel Mengisi Ramadhan

Pondok Muhasabah Difabel yang berlokasi di Cililin, Kabupaten Bandung Barat menjadi salah satu pionir aspirasi difabel dalam mengembangkan pembelajaran keagamaan. Pondok tersebut milik seorang Ustad dengan kedifabelan fisik kaki polio. Ustad Iwan Taufik, menjadikan samping rumahnya pondok untuk tempat anak-anak di wilayahnya mengaji, baca tulis Al-Qur’an dan berkegiatan keagamaan lainnya.

“Mereka yang mengaji disini tidak dipungut biaya, mereka nondifabel dengan usia anak-anak atau remaja,” kata Ustad Iwan, yang belum lama ini menjadi juara ketiga MTQ Nasional Difabel.

 

Di bulan Ramadhan ini, kegiatan di pondok tidak sebatas mengaji saja. Untuk merekatkan silaturahmi, acara buka bersama beralas daun pisang pun sering dilakukan.

“Selama bulan puasa jadwal mengaji atau tadarusan bertambah, selain sore ada juga setelah subuh. Kami juga kadang adakan buka bersama seadanya,” pungkas ia.

Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Bekasi, mengadakan kegiatan buka bersama dengan difabel dan keluarga difabel. Seperti yang disampaikan Maharani, yang turut hadir mencapai seratusan orang. Kegiatan tersebut digelar untuk mengadakan silaturahmi, dan mendengarkan ceramah sebagai upaya meningkatkan pengetahuan keagamaan,

 

Beralih ke Kota Pelajar – Yogyakarta, dalam konteks menikmati bulan Ramadhan, kota ini bukan lagi soal romantisasinya atau segala sudut keindahannya. Yogyakarta dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki julukan ramah difabel, tentu banyak pula warganya yang difabel, baik pribumi maupun pendatang.

 

Ragam kegiatan yang ada setiap tahunnya pada bulan Ramadhan antara lain, Kampung Ramadhan, Ramadhan di kampus, di kostan, di rumah teman. Banyaknya difabel yang tinggal di kota tersebut, tentu menyimpan banyak aktivitas khas selama Ramadhan. Pesantren kilat yang juga diadakan di panti-panti rehabilitasi atau asrama siswa, sahur dan buka bersama, hingga tadarusan. Bahkan ada tadarusan Al-Qur’an Braille yang dilakukan organisasi-organisasi difabel Netra.

“Selama Ramdhan ini banyak aktivitas tambahan, tarawih bareng, masih mengajar di TPA, tadarusan bareng, tadarus sendiri juga tetap dilakukan. Kadang juga menghadiri buka bersama. Seringnya di TPA, sering juga mengajar ngaji anak-anak difabel, dan mengurus organisasi difabel,” papar Akbar Satriawan, guru mengaji di Taman Pendidikan AL-Qur’an (TPA) yang aktif juga di organisasi Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI).

 

Akbar difabel sensorik low vision salah satu pendatang yang menetap di Jogja. Pria asal Sumatera Utara ini, sejak kuliah merantau tinggal mandiri di Jogja hingga sekarang.

 

Di bulan Ramadhan ini juga, beberapa difabel Netra dari ITMI Yogyakarta ada yang dikirim ke Bandung untuk mengikuti kegiatan pendalaman latihan kepemimpinan dan Training Al-qur’an Braille.

 

Yang tidak kalah menarik juga kegiatan selama bulan Ramdhan yang dilakukan masyarakat difabel dari berbagai daerah di tanah air yang gabung dalam grup whatsapp. Mereka mengadakan mengaji bersama dengan para anggota grup secara terjadwal.

Ramadhan 1443 H, telah berlalu separuhnya dan sudah begitu banyak kegiatan yang dilakukan masyarakat difabel dalam mengisi bulan Ramadhan. Menjelang sepuluh hari terakhir nanti, akan bertambah lagi kegiatan ibadah lain yang dilakukan di malam hari, yaitu beritikaf di mesjid hingga menjelang waktu sahur. (Srikandi Syamsi)

 

The subscriber's email address.