Lompat ke isi utama
kegiatan workshop menulis bagi terapi kesehaatan jiwa

Berbagi Tips Menulis Sebagai Terapi Jiwa

Solider.id, Surakarta-Bisa jadi mustahil bagi kita untuk menemukan satu orang saja dengan jiwa yang bersih tanpa kabut luka. Hinaan dan fitnah dari saudara-saudara kandung yang iri hati, ibu yang selalu memandang rendah dan membandingkan dengan saudara yang lebih cantik pula pintar, putus cinta, sahabat yang menikam dari belakang, kekasih yang menggunting dalam lipatan bersama adik sendiri, istri yang kabur tanpa sepatah katapun, anak yang kasar dan jauh dari rasa hormat; oh, temanku, kau bisa memunguti jenis luka yang terserak hingga ujung-ujung jalan sana, dan kau akan terlanjur lelah sebelum berhasil mengumpulkan bahkan setengahnya. Sebab itu saya tak yakin ada jiwa yang halus, mulus, tanpa koyakan. Setiap hati tersakiti. Setiap jiwa terluka. Setiap batin pernah diperas oleh lara. Itulah yang ditanggung oleh setiap anak manusia; mereka, Anda, dan saya.

 

Demikian kalimat pembuka yang disampaikan oleh Yuanita Maya, founder Komunitas Literasi Gula Kelapa saat menyampaikan materi pelatihan menulis bertema “Menulislah untuk Jiwamu” yang dihelat oleh Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) didukung Voice pada awal April 2022. Yuanita yang juga memiliki latar belakang sebagai jurnalis menyampaikan pengalaman hidup yang pernah  dialaminya. Kala itu, ia lebih suka menyimpan masalah sendiri. Bila sudah usai dan berlalu, baru ia ceritakan pada seseorang yang tepat. Itu pun bila ada kesempatan atau bila ia pikir masih relevan untuk diceritakan. Ia tidak punya kebiasaan mencurahkan permasalahan sebagai katarsis yang menyembuhkan. Pertanyaannya: lalu apa yang menjadi sumber kesembuhannya?

 

Salah satu yang terpenting adalah ketika ia mulai merasa dekat dengan Tuhan, yang kemudian membantu proses penerimaan dan pemulihan diri dan itulah yang terutama. Namun, menengok ke belakang, sejak kecil ia sangat suka berkegiatan luar ruangan dan punya banyak sekali teman. Selain itu ia juga menikmati waktu sendirian untuk membaca. Dari padatnya kegiatan membaca itu, mudah ditebak jika ia juga terpicu untuk menulis.

 

Ternyata menulis cerita yang berakhir kesedihan membuat deritanya sendiri berkurang derajatnya. Lalu ia berpikir mengapa ia tidak menulis deritanya sendiri? Karena, seperti yang ia ungkapkan pada Diary, menceritakan kesedihan di dalam hati hanya membuat sedihnya semakin menjadi. Maka ia 'memakai' kesedihan rekaan untuk menguapkan kesedihannya sendiri. Dengan cara sederhana: menuliskannya. Terus menuliskannya. Lalu mengirimkannya ke media massa. Dan ketika tulisan tersebut dimuat, dan terlebih lagi memenangkan kompetisi menulis, lalu berlanjut selama bertahun-tahun menjadi jurnalis, maka semakin menyusutlah tumpukan rasa sakitnya. Demikianlah menulis, dengan satu dan banyak lagi cara, menyelamatkannya dari

kehancuran mental absolut. Menulis, dengan waktunya sendiri, secara pasti membantu Yuanita mengenali hal-hal yang membuatnya bisa kembali utuh, lalu tegak berdiri.

 

Namun dampak buruknya seperti dikutip dalam materi yang disampaikan pada pelatihan, studi membuktikan bahwa orang-orang yang bergerak di bidang kreatif (termasuk penulis), rentan menderita depresi yang dalam derajat tertentu menjadi kecenderungan untuk bunuh diri. Contohnya, menurut data panjang dari 1,2 juta pasien kejiwaan di Swedia, penulis berisiko 50% lebih tinggi untuk bunuh diri. Di luar itu, penelitian Karolinska Institute yang dipublikasikan pada Journal of Psychiatrict Recearch menyebutkan bahwa penulis rentan terkena skizofrenia, depresi, dan gangguan kecemasan.

 

Lalu mengapa penulis mudah tertekan jiwanya? Menurut Alan Manefitz, MD (psikiater klinis dari Lenox Hill Hospital, New York City) hal itu disebabkan karena:

  •  Penulis bisa menuliskan penderitaan kendati itu bukan penderitaannya sendiri. Itu terjadi bila dalam proses penulisan penulis menceburkan diri terlalu dalam pada penderitaan tokoh rekaannya, dan menyediakan dirinya utuh untuk menghayati derita tersebut.
  •  Kurang berinteraksi sosial dan mengisolasi diri dalam penggarapan naskah.
  • 3. Gaya hidup tidak sehat yang menjadi depresan seperti tidur larut (siang jadi malam, malam jadi siang), tidak berolahraga, tidak melakukan hal-hal yang disukai, dan sebagainya.
  • . Penolakan dari editor, agen, penerbit, dan sebagainya, yang kemudian menjadi roller coaster emosional.

 

Mengapa Yuanita “Selamat” dengan Menulis?

Ada beberapa hal yang membuat Yuania 'selamat' dengan menulis, bahkan bisa menyebut bahwa menulis adalah bagian dari tali penyelamat jiwa yakni dengan berbagai cara seperti ;

 

  1. 'Memindahkan' derita pada tokoh-tokoh rekaaan, dan bukannya justru menceburkan diri dalam penderitaan tokoh-tokoh khayal tersebut.
  2.  Menulis sebagai kesenangan. Artinya, tidak ada beban dalam menulis. Ketika akhirnya terjun dalam dunia jurnalistik dan kerap dikejar deadline, Yuanita menggunakan 'kejaran deadline yang menegangkan' tersebut justru sebagai kegiatan seru yang memancing adrenalin. Ketika adrenalin dipacu gila-gilaan dan akhirnya menang atas deadline, maka bukan main melonjak semangat dan gairah hidup.
  3.  Tidak mengisolasi diri atau miskin secara hubungan sosial, dengan suka traveling dan membuat catatan perjalanan untuk kemudian dikirim ke berbagai media massa. Lebih suka berbincang dengan penduduk lokal, mendengarkan kisah mereka akan pekerjaan, makanan, cara hidup, dan lain-lain hal yang unik dan berbeda dengan tempat lain. Lalu, lagi-lagi, hasilnya bisa kirim ke media massa. Ini membuat hati senang, tentu saja. Demikian juga tugas-tugas jurnalisme diperlakukan sebagai 'rekreasi' yang menyenangkan jiwa.
  4. Dengan  menerapkan gaya hidup sehat, terutama sejak berhenti merokok hampir 10 tahun lalu dan sangat giat berolahraga. Perlu diketahui bahwa olahraga memicu hormon pembawa kebahagiaan, terlebih olahraga luar ruangan. Berjalan kaki atau jogging selama 10 menit akan membuat pandangan mengirimkan sinyal kebahagiaan, yangn kemudian direspon oleh seluruh syaraf tubuh. Tidur pada jam terbaik untuk tubuh yakni antara jam 10 malam hingga 3 dini hari.

 

Yuanita juga minum rempah yang mengandung anti depresan rutin sehari dua kali. Ia  banyak bercanda dan tertawa. Ia juga menjaga jarak dengan orang-orang beracun yang punya track record suka memandang rendah, hina, serta mematahkan semangat, siapapun orangnya. Ia juga melakukan hal-hal yang saya senangi seperti bermain dengan hamster dan mengajak mereka bicara. Ia memasak dan mencoba resep baru, sebab itu hobi. Ia juga rutin memasak untuk pekerja jalanan dan kaum dhuafa, karena melihat senyum mereka membuatnya bahagia. Sebanyak mungkin hal yang ia senangi, ia kerjakan. Satu hal ia pelajari: kebahagiaan kecil yang dipetik sekuntum demi sekuntum, akan menjadi seikat besar ketenangan jiwa dalam satu rangkum.

 

Menjadi penulis tidak membuat Yuanita depresi. Menulis, dibarengi cara hidup yang disiplin, pelan tapi pasti mampu menjadi terapi. Usai ini, maka akan bersama-sama 'menikmati' bagaimana menulis bisa membantu merasa lega, untuk kemudian utuh di dalam jiwa.

 

Galih Gilang (28) seorang dengan bipolar yang juga berstatus mahasiswa menempatkan menulis sebagai sarana terapi. Ia belajar menulis mulai dari awal, dari menulis hal-hal positif pada kolom komentar di media massa. Dari berbagai komentar positif dan menyemangati, kemudian Galih mencoba menulis di luar group yakni dengan membuat esai pendek yang akhirnya tertuang dalam sebuah antologi. Galih  mengaku sampai saat ini masih harus belajar banyak, salah satunya dengan mengikuti kompetisi. Dengan berkompetisi menurutnya menjadi tolok ukur sampai di mana kemampuan menulisnya.[]

 

Reporter: Puji Astuti

Editor     : Ajiwan Arief

 

 

The subscriber's email address.