Lompat ke isi utama
Sri Hartaningsih Wijaya

Difference Equality Ambition Friend's : Mereka Mampu Melakukan Segalanya Kecuali Mendengar

Ketika itu, kurang lebih tujuh belas tahun yang lalu. Barangkali apa yang saya rasakan sama halnya dengan apa yang dirasakan oleh calon ibu yang lainnya. Penuh rencana indah tentang janin yang berada dalam rahim saya. Tentang bagaimana saya menyambut hadirnya di dunia, tentang siapa nama yang tepat yang sesuai dengan harapan saya sebagai orang tuanya, tentang bagaimana saya membuatnya bahagia, menyekolahkan, mengajak berbicara, bercanda, mengenalkan bagaimana dunia ini harus diperlakukan. Berjuta bahagia yang kurenda sambil menantikan hadirnya untuk mengisi dan memberi warna baru dalam hidupku.

Tanggal 15 Mei 1995, tiba saatnya pengalaman pertama saya. Dengan dibantu seorang bidan saya melahirkan seorang gadis cantik, mungil, dengan bibir yang merona indah, oh bahagia yang luar biasa membuat ku melupakan rasa sakit yang sebelumnya mendera. Putriku lahir dengan berat 2,8 kg dan panjang 50 cm. Oh putriku tidak menangis… hati ini sempat diliputi cemas, was-was, takut. Saya perhatikan wajah aneh bidan yang membantu melahirkan, saya cermati kalimat yang beliau ucapkan, beliau mengatakan oh hidungnya kemasukan air ketuban. Lalu dikeluarkan air ketuban dari hidung putriku dengan sebuah alat penghisap berbentuk selang kecil dengan penyedot dan putriku bisa menangis, berkali-kali suster melakukan pembersihan air ketuban dari hidung putriku dan kembali sesekali putriku menangis. Oh… Tuhan begitu bahagianya ketika mendengarnya suara tangisnya… Puji syukur kepadaMu yang Rabb yang Maha Sempurna dengan segala ciptaanya-Nya, hamba panjatkan doa syukur dalam ketulusan hati ini yang paling dalam.

Waktu terus berjalan sesuai dengan rencana-Nya. Semua menyambut bahagia hadirnya gadis mungilku dengan bahagia, itu yang saya rasakan. Gadisku sungguh luar biasa, tidak rewel, tenang, dia tidak pernah terbangun ketika pintu kamar terhempas oleh kerasnya tiupan  angin, tetap saja dia tertidur pulas. Sungguh dia adalah seorang anak yang tidak pernah membuatku repot, selalu manis, selalu membuatku bahagia.

Namun di usianya yang ke 8 bulan gadis kecilku mengalami panas tinggi, saya tidak tahu mengapa ini bisa terjadi? Ini hal baru bagi saya, gadis kecilku sakit, aku sedih dan panik.  Ketika itu saya membawanya ke dokter pada sebuah rumah sakit khusus anak. Dokter memeriksa keadaan gadis kecilku, memeriksa suhu badan gadis kecilku dengan thermometer, bertanya pada saya tentang beberapa hal lalu dibuatkan kami resep. Dokter berpesan tentang bagaimana saya harus memperlakukan anak yang sedang sakit, seperti jangan diberi selimut tebal nanti panas tidak bisa keluar dari tubuh anakku, kompres dengan air hangat bukan air dingin, sesering mungkin diberi ASI, juga bagaimana aturan meminumkan obat itu, serta satu lagi pesan dokter yaitu apabila dalam 3 hari panasnya tidak turun suapaya saya segera membawa kembali gadis kecilku untuk dilakukan kontrol   ulang dan observasi oleh dokter. Ya Tuhan… benar, panas tinggi yang diderita putriku tidak kunjung menghilang dalam 3 hari, dan justru sesekali tubuh putriku seperti meronta, saya tidak mengerti ada apa dengan gadisku? Berkali-kali tubuh mungil putriku meronta seperti kaget, aku hanya bisa menggendongnya, mengelusnya, menyayangi dan berdoa sepenuh hati saya. Seketika itu juga saya kembali ke rumah sakit untuk mengontrolkan keadaan kesehatan putriku. Dengan diantar ibu mertuaku yang penuh perhatian dan amat menyayangi kami, ku bawa putriku kembali ke rumah sakit. Oh Tuhan banyak sekali pasien yang mengantri, aku pun harus menunggu antrian panjang itu, dan tetap saja saya tidak mengerti ketika mata putriku terbuka ke atas lalu menutup lagi, terbuka lagi dan menutup lagi, saya hanya menenangkannya dengan menepuk lembut pantatnya dan mengusap kepalanya sambil terus berdoa, sesekali menyusuinya untuk menentramkan hati putriku juga hatiku. Tuhan dengarkanlah doaku kabulkan harapanku… sembuhkanlah putriku… Sampai pada akhirnya ada seorang perawat rumah sakit yang melewatiku dan mengetahui kondisi putriku, dan perawat itu menyapaku dengan pertanyaan… “Ibu, ada apa dengan putri ibu? Dia kejang ini ibu”. Saya tetap tidak mengerti apa akibatnya jika keadaan ini dibiarkan tanpa seorangpun yang memberi tahu padaku. Perawat itu menarikku dan membawaku masuk melewati banyak pasien lain yang sedang menunggu antrian. Dan langsung putriku mendapat penanganan serius dari dokter, dokter berkata harus diopname. Baiklah dokter apapun yang terbaik untuk putriku, untuk menyelamatkannya harus saya lakukan.

Dari hasil observasi di laboratorium rumah sakit itu, dokter menyimpulkan bahwa penyebab demam tinggi putriku adalah karena inveksi virus. Saya bertanya apa itu dokter? Dan virus apa yang menginfeksi putriku? Dokter hanya menjawab inveksi virus biasa. Dengan tanda tanya dan tidak mengerti aku telan pertanyaanku dan tidak ingin tahu lebih banyak, saya hanya ingin putriku cepat kembali sembuh. Terima kasih ya Allah… Engkau telah mengirim seorang perawat untuk mengetahui keadaan putriku sehingga kami dapat mengambil tindakan  yang tepat saat itu. Terima kasih suster perawat engkau telah melakukan tugasmu dengan sangat baik.

Selama 8 hari putriku dalam perawatan dokter. Sungguh dia memang gadis kecil yang luar biasa kuat, dia selalu manis meski aku tahu betapa sakit yang dideritanya. Jika saja aku bisa menggantikan sakitnya pasti aku akan melakukannya. Tiap hari putriku harus mendapatkan suntikan untuk menyembuhkan sakitnya, paha kaki kiri dan kanannya begitu juga lengannya, serta infusnya dan membuat tangannya harus diikat dengan sebuah papan kayu yang ringan, dan semua itu tidak membuatnya rewel dan merepotkan. Terima kasih Tuhan akhirnya pada hari ke-9 aku boleh membawa pulang putriku. Sujud syukur kupanjatkan pada-Mu ya Rabb. Dalam hatiku berjanji aku akan menjaga putriku sekuat tenagaku.

Hari demi hari kami lalui, minggu berganti bulan hingga putriku menginjak usianya 12 bulan, genap satu tahun usia putriku. Kami berbahagia merayakan ulang tahun putri kecilku. Namun, perasaanku sebagai ibu mulai terusik lagi. Putriku asyik dengan dirinya sendiri, tidak pernah menoleh ketika ku panggil namanya, tidak pernah kaget ketika pintu kamarnya terhempas angin dan menghasilkan suara benturan yang sangat keras, putriku hanya kaget ketika melihat bayangan tubuhku memasuki kamarnya untuk menengok dan melihat kondisinya. Tuhan ada apa dengan putriku. Pertanyaan khawatir yang aku simpan dalam-dalam dan tidak pernah berani aku ungkapkan, sungguh aku harus menyimpan segala kekhawatiran dan berharap tidak terjadi sesuatu yang saya khawatirkan itu.

Dan ampuni saya Tuhan, suatu ketika ternyata saya tidak mampu menepati janjiku untuk menjaga putriku dengan baik. Putri kecilku kembali jatuh sakit. Ketika itu usianya 14 bulan, dan putriku kembali harus diopname, kali ini putri kecilku menderita sakit demam berdarah. Di rumah sakit yang sama ketika dia terserang inveksi virus kembali putriku harus opname, kali ini putriku dirawat selama 5 hari karena demam berdarah. Ketika itu saya mengkonsultasikan dan mencoba memberanikan diri memastikan keadaan putriku pada dokter. Saya bercerita tentang apa yang saya fikirkan dan bertanya mengapa putriku tidak menoleh jika saya memanggil namanya, tidak kaget ketika pinta terhempas angin? Dokter menganjurkan saya untuk membawanya di dokter THT (Telinga Hidung Tenggorok)  dan kebetulan di rumah sakit itu juga terdapat pelayanan dokter spesialis THT.

Setelah benar-benar kondisi kesehatan putriku baik, saya membawanya konsultasi ke dokter THT dan dokter THT merujuk putriku pada sebuah Rumah Sakit besar di Yogyakarta untuk memastikan keadaannya. Benar saja saya ikuti anjuran dokter dan saya bawa ke sebuah rumah sakit besar itu dan putriku diperiksa dan di tes dengan bermacam-macam bunyi. Apa hasilnya? Ketika itu perawat yang melakukan tes, tidak ada yang mau memberi tahuku, para perawat hanya bilang yang boleh memberi tahu hanya dokter yang memberikan rujukan. Apa? Apa artinya ini? Banyak tanda tanya dan kekhawatiran yang hanya aku simpan dalam hati. Ku langkahkan kaki menuju dokter THT yang semula memberikan rujukan dengan membawa hasil pemeriksaan dari rumah sakit besar tersebut tentang putriku. Saya bertanya tentang tulisan yang tidak ku mengerti itu pada dokter THT. Bagaikan disambar petir di siang bolong mendengar penjelasan dokter THT tentang hasil tes putriku.  Dokter menjelaskan bahwa, “Ibu.. artinya putri ibu mengalami tuli total pada telinga kanan dan kirinya”. Seketika itu juga air mata ini tak mampu aku bendung, sesaat dunia yang kubangun goyah dan hendak menimpaku. Dengan bijaksana dokter menguatkanku, menasehatiku juga menganjurkanku untuk melakukan therapy  untuk putriku.

Berbagai cara saya lakukan dengan harapan membuat putriku sembuh (ini istilah yang salah) karena sebenarnya putriku tidak sedang menderita sakit. Dari anjuran yang masuk akal sampai yang tidak bisa ku mengerti ku jalani demi putriku. Aku bawa putriku ke mana pun saya bisa berharap kesembuhan.  Saya membawanya ke Solo, ke Jawa Barat, Salatiga, Semarang juga Ungaran, mendatangi orang pintar dan berharap kesembuhan dari Tuhan melalui orang-orang tersebut. Dan tidak ada yang bisa kudapat dari usaha ini.

Akhirnya di usia putriku 24 bulan (2 tahun) saya mulai mendengarkan dan melaksanakan kata hati dan logika saya, saya membawa putriku melakukan therapy  wicara ke rumah sakit dan sambil saya mengajaknya bicara apapun yang ingin saya sampaikan, meski mungkin putriku tidak semuanya mengerti tentang apa yang saya katakan.

Selama 2 tahun saya membawa putriku therapy wicara dalam setiap minggunya 2 sampai 3 kali. Tibalah pada usia 4 tahun dan waktunya untuk sekolah. Kami menyekolahkan putriku di sebuah SLB Negeri di Kota Yogyakarta. Sebelum masuk sekolah saya membawa putriku untuk melakukan tes Bhera di sebuah rumah sakit swasta besar di Yogyakarta, sebagai sebuah persyaratan untuk masuk SLB. Bhera yaitu sebuah tes untuk merekam keadaan pendengaran putriku dengan cara dibius, jadi anak tertidur pulas kemudian dipasang alat yang aku tidak mengerti, kemudian dilakukan test dan hasilnya tetap saja telinga putriku dengan100 desible tidak ada reaksi (tuli total). Aku sudah lebih kuat untuk menerima kenyataan itu. Saya membawa hasil tes dan menggendong putriku pulang yang dalam keadaan tertidur sampai esok harinya karena pengaruh obat bius. Di rumah sakit ini juga juga dilakukan tes psikologi untuk menentukan kondisi kecerdasan putriku.

Dan dimulailah tahun pertama putriku sekolah di SLB dengan bahagianya. Dia memang seorang gadis yang ceria, percaya diri, penuh semangat, kuat, pantang menyerah. Sampai pada akhirnya seorang teman mengajak untuk menyekolahkan pada sore harinya pada sebuah sekolah swasta dengan metode pembelajaran oral. Metode oral memungkinkan untuk membuat putriku dan anak-anak tuli (deaf) lainnya mampu berkata dan berbicara. Akhirnya pada usianya yang ke 5 tahun, putriku sekolah di 2 sekolah. Pagi hari sekolah di sekolah negeri dan sore hari sekolah di sekolah swasta, dengan harapan putriku dapat berkomunikasi layaknya anak lainnya (anak mampu mendengar). Dan ini kami lakukan selama 2 tahun. Setiap hari kami lalui dengan bahagia dan penuh semangat akan datangnya sebuah harapan putriku akan mampu bicara.

Dengan penuh semangat dan harapan, perjuangan kami sedikit demi sedikit memperlihatkan hasil, putriku mampu mengucapkan namanya, mama, papa,  makan, minum, dan sebagainya meski tidak jelas. Ini adalah sebuah kemajuan yang luar biasa dan membuat kami bahagia. Dan kami juga menanggil guru lukis untuk mengajari putri kami melukis. Dan di usianya 5 tahun dia sudah mampu menghasilkan beberapa lukisan yang sampai sekarang tetap saya pajang di dinding rumah kami.

Tiba saatnya memasuki usia sekolah dasar (SD). Saya menyekolahkan putri kami di sebuah SDLB di wilayah Bantul. Sekolah ini lebih banyak menggunakan metode oral juga dibantu dengan isyarat untuk lebih memudahkan siswa memahami makna kata. Saat usia SD ini Tuhan banyak memberikan kesempatan, sehingga putriku  mampu memperoleh beberapa penghargaan, di antaranya penghargaan dalam bidang menari, melukis, menulis cerita. Putriku juga lulus Ujian Nasional SDLB dengan NEM cukup bagus dengan rata-rata nilai NEM 7,8. Kemudian putriku melanjutkan di SMPLB pada SLB yang sama.

Di bangku SMPLB ini putriku juga mendapatkan banyak pelatihan dari Kementerian Pendidikan  Nasional Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa  bekerja sama dengan instansi-instansi yang peduli terhadap difabilitas. Di antaranya pada tahun 2008 mendapat Pelatihan melukis dari IKJ (Institut Kesenian Jakarta), pada tahun 2009 mendapat Pelatihan Theater dari Look School Pimpinan Didi Petet, juga pada tahun 2010 mendapatkan Pelatihan Komputer dari Global Inti Solution.

Kesempatan mengikuti beberapa lomba pun diperolehnya, yaitu tahun 2009 mengikuti Lomba Melukis dan menjadi Juara II tingkat Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, kemudian lomba membuat Design Grafis untuk Web pun diperolehnya, dan putriku mampu melaju dalam lomba di tingkat wilayah Bantul, kemudian tingkat provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, kemudian ke tingkat nasional. Hasilnya Subhanallah putriku menjadi Juara Harapan II dalam Festival & Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tahun 2010. Allahuakbar, sungguh keadilan itu ada dan kami benar merasakannya. Kebenaran akan sebuah keyakinan kami bahwa anak dengan disabilitas tuli (deaf) mampu melakukan apa saja, hanya satu yang tidak bisa dilakukan yaitu mendengar.

Bangku SMP telah putriku selesaikan dengan mengikuti ujian nasional dan kembali memperoleh nilai yang cukup bagus, dengan rata-rata nilai NEM 7,01. Dan setelah lulus SMP putriku ingin melanjutkan di sekolah umum. Putri kami memilih melanjutkan di sebuah SMK Negeri di Wilayah Bantul, tepatnya pada sebuah SMK Seni dan sekolah ini sangat dekat dengan rumah kami. Berbekal nilai NEM yang cukup dan beberapa sertifikat tingkat provinsi dan sebuah Sertifikat tingkat Nasional, saya mendaftarkan putri kami untuk mengambil jurusan DKV (Desain Komunikasi Visual). Setelah mengikuti tes wawancara baru kami ketahui bahwa karena disabilitasnya (deaf) yang dia miliki putri kami tidak bisa memilih jurusan DKV, tetapi masih diberi kesempatan untuk memilih jurusan Lukis dan Patung. Pada akhirnya putriku memilih Jurusan Lukis. Kami terus syukuri dan tidak pernah sia-siakan setiap kesempatan yang telah Tuhan berikan pada kami.

Kali ini adalah pengalaman pertama bagi putri kami bersekolah di sekolah umum, berada di antara teman-teman yang mampu mendengar (normal) adalah bukan  hal yang mudah dilalui putriku. Pada awal masuk sekolah,  setiap pulang sekolah ada saja cerita sedih yang saya dengar dari curhatan putriku, diantaranya “mama, guru lupa kalau aku tidak bisa mendengar, guru menerangkan terus tidak mencatat kemudian kami semua termasuk aku disuruh meringkas penjelasan guru”. Oh, sayang benarkah? Sedih menyayat hati mendengarnya. “Mama aku mau keluar sekolah dan sekolah lagi di SLB, sebab kalau di SLB aku bisa pintar tapi kalau di sekolah umum aku bodoh (ini istilah putri kami)”. Oh kembali terpukul hati ini.

Saya mencoba mencarikan jalan untuk mengenalkan keadaan putriku apa adanya pada sekolah. Saya mencoba menyampaikan setiap curhatan putriku untuk mendapat solusi dari sekolah. Saya memohon sosialisasi yang lebih lagi pada semua guru yang mengajar di kelas putri kami untuk memberikan sedikit perubahan cara mengajar karena di kelas itu terdapat siswa yang tuli (deaf). Jujur kami tidak ingin menuntut perlakukan lebih tetapi hanya keadilan bagi putri kami, artinya memperlakukan adil sesuai dengan keterbatasan yang dia miliki. Langkah berikutnya yang saya lakukan adalah minta ijin untuk merekam setiap pelajaran dari guru dengan harapan saya akan bisa membantunya belajar di rumah tentang apa maksud penjelasan dari guru, dan ini mendapat mendapat respon positif dan ijin dari pihak sekolah. Saya membekali putri kami dengan tape recorder dan kaset (sebagai media merekam), namun cara ini tidak berjalan lama karena beberapa sebab dan kendala yang diperoleh putri kami di kelas.

Pada semester pertama semangat putriku naik dan turun (up and down) menghadapi dunia barunya. Sampai pada sebuah keinginan saya untuk mengajukan permohon guru pendamping pada Dinas Pendidikan guna mengatasi masalah yang dialami putriku dan teman-temannya yang mengalami disabilitas yang sama. Dengan semangat dan dukungan dari pihak sekolah dan beberapa teman, saya mengajukan permohonan dengan berbekal surat pengantar dari sekolah. Ini harus saya lakukan mulai saat ini sebab keberadaan guru pendamping akan selalu diperlukan mulai saat ini bagi putri kami dan seterusnya bagi adik-adik kelas yang ingin bersekolah di sekolah ini. Syukur Alhamdulilah, tekad saya diberikan jalan dan dijawab oleh Allah. Kembali kebesaran Tuhan hadir pada kami yaitu pada akhir semester 2 kelas 10, permohonan guru pendamping dikabulkan oleh Dinas Pendidikan. Kembali sujud syukur saya pada Allah yang Maha mengatur segalanya.

Keadilan itu selalu ada buat kami, jalan itu selalu terbentang meski tak semuanya mudah buat kami melaluinya. Satu hal yang paling penting adalah jangan mudah menyerah, selalu berfikir positif terhadap rencana Tuhan, serta harus selalu berbuat terbaik yang bisa kita lakukan. Percayalah Tuhan  selalu punya rencana indah di balik semua peristiwa, dan selalu memberi apa yang kita butuhkan dan janji Tuhan selalu tepat pada waktunya.

Semua anak tanpa kecuali adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa. Anak yang terlahir dengan disabilitas apapun itu memiliki hak yang sama dengan anak-anak normal pada umumnya. Mereka berhak untuk menikmati hidupnya, mereka berhak menikmati pendidikan, mereka berhak mendapatkan keadilan dan perlindungan hukum. Mereka tidak butuh dikasihani, mereka tidak ingin diperlakukan berbeda, mereka tidak harus diperlakukan istimewa, mereka punya harga diri dan mereka mampu mandiri.  Mereka hanya perlu diberi tempat dan kesempatan yang sama.

BIODATA PENULIS

Nama dan Usia  : Sri Hartaningsih Wijaya, 43 tahun
Jenis Kelamin  : Perempuan
Tempat/Tgl. Lahir : Sleman, 7 Juli 1969
Agama   : Islam
Kewarganegaraan  : Indonesia
Status Perkawinan : Menikah
Alamat Asal  : Jl. Arjuna No. 7 Ketanggungan, Wirobrajan RT.047 RW.010 Yogyakarta 55252
No. Telepon  : +62-274 – 411XXX
No. Handphone  : +62-819-0406-3XXX
E-mail   : [email protected]
Pekerjaan  : Wiraswasta

The subscriber's email address.